Apabila kita memperhatikan sastra bukankah Surya hanyalah jiva sedangkan Sri Hanuman adalah Jivottama? Bagaimana mungkin Surya dapat mengajar beliau? Srimadacharya juga mengatakan bahwa tidak mungkin Sri Hanuman memuja atau berguru selain dengan Sri Hari. Apakah makna dari sloka ini?
Pertama dapat dipahami bahwa sesungguhnya Sri Hanumanta Prabhu mempelajari semua sastra itu dari Sri Hari Sendiri yang bersemayam dalam Suryamandala sebagai Antaryami. “dhyeassada savitru mandala madhyavarti narayanah sarasijasana sannivishtah keyuravan makarakundalavan kiriti hari hiranmayavapurdruta shanka chakrah” Narayana duduk di atas sebuah tahta teratai (sarasijasana atau padmasana) di tengah-tengah bulatan matahari Sri Suryamandala, mengenakan berbagai perhiasan dan busana indah, memegang sankha dan chakra. Inilah Rupa Sri Narayana yang harus menjadi tujuan pemusatan pikiran semua orang. Surya di sini bukanlah deva penguasa matahari yang bersifat duniawi, salah satu penguasa benda angkasa, tetapi adalah Antaryami, Sri Suryanarayana-deva.
Kedua, Hanuman adalah Purnaprajna, yang memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan sempurna. Dikatakan bahwa Vayu dan Brahma dapat mengetahui segala sesuatu dengan sempurna hanya dengan berpikir mengenai orang atau objek tertentu itu, karena Sri Hari yang bersemayam di dalam hatinya segera memberikan pengetahuan apapun yang dibutuhkan. Sehingga baik Vayu maupun Brahma tidak perlu bertanya kepada siapapun selain Sri Hari secara langsung. Sehingga tidak ada persoalan tentang Hanuman mempelajari tata bahasa atau logika yang bersifat duniawi. Semua ini hanyalah permainannya, untuk memberikan teladan kepada semua orang, bahwa seberapapun agung dan mulianya, dia harus belajar dari seorang guru. Inilah mengapa Rama belajar pada Vasishta, Vishwamitra, dan Agastya, atau Krishna belajar pada Sandipani, atau Bhima belajar kepada Dronacharya. Ketika Dvaparayuga, Bhima mempelajari Vedasastra dari Sri Vyasadeva, kemudian ketika Sri Krishna menyabdakan Bhagavad-gita, Bhima sesungguhnya juga turut mendengarkan. Beliau berada di dalam pasukan dan juga sebagai Hanuman yang duduk pada bendera kereta perang Arjuna.
Dalam Gitabhasya, Srimadacharya mengatakan bahwa gurunya adalah Sriman Narayana Sendiri. “devam narayanam natva sarva dosha vivarjitam paripurnam gurunschan gitartham vakshyami lesatah.” Su-madhva-vijaya mengisahkan bahwa ketika Srimadacharya masih anak-anak beliau ditegur oleh guru sekolahnya karena dikira tidak mendengarkan pelajaran. Srimadacharya kemudian mengulang pelajaran yang tengah diberikan oleh gurunya dengan tepat, bahkan beliau juga mengulang pelajaran yang telah lalu dan pelajaran yang akan diberikan berikutnya. Ketika Srila Achyutapreksacharya menguraikan Bhagavata, Srimadacharya menunjukkan kepada semua, edisi atau versi Bhagavata mana yang paling tepat. Ketika ditanya mengenai hal ini, beliau hanya berkata bahwa semuanya sudah diketahuinya dari kehidupan yang lalu. Bukankah beliau adalah Sri Vayu yang mengetahui semuanya ini dan juga turut dikisahkan dalam Bhagavata? Dengan demikian Srimadacharya menyatakan sejelas-jelasnya bahwa pengetahuan didapatnya langsung dari Tuhan Narayana dan Avatara-Nya yaitu Sri Vedavyasa.
Srimad Sripadaraja kemudian menggunakan kalimat parama pavamana. Parama berarti yang tertinggi, menunjukkan beliau sebagai Jivottama dan Pavamana berarti murni, bebas dari segala kekurangan dan cacat. Dengan menyatakan kalimat ini di akhir sloka, Srimad Sripadaraja mengingatkan kita tentang siapa yang tengah kita bicarakan ini. Beliau berkata, “Kalian sudah mendengar bagaimana Sri Hanuman belajar dari matahari, tetapi ingatlah siapa sesungguhnya beliau. Janganlah berpikir salah, bahwa beliau perlu belajar sesuatu karena ketidaktahuannya. Ini hanyalah salah satu cara beliau menunjukkan keagungannya.” Bahkan dalam tindakan seperti ini pun, yang tampak merendahkan dirinya di hadapan seseorang, sebagai murid yang tengah belajar dari gurunya, Vayu menunjukkan keluarbiasaannya. Beliau mampu mengatasi hukum alam, yang mengharuskan matahari harus terus beredar, untuk tetap berada di depan menghadap gurunya. Beliau memusatkan pikiran sepanjang hari pada pelajaran, tanpa makan, minum, maupun kebutuhan alamiah lainnya. Sehingga Srimad Sripadaraja berseru gembira, “Adakah kalian temukan yang dapat menyamainya?” Kata yang digunakan adalah etagupameyunte (itage-upame-unte). Upame berarti contoh atau teladan, sehingga kita dapat memaknai perkataan Srimad Sripadaraja ini sebagai, “Adakah orang lain yang dapat memberikan teladan seperti dirinya?” atau dengan kata lain tidak ada guru atau Acharya yang seperti dirinya.


