Sabtu, 06 Agustus 2011

HANUMANTA MAHIMAM (SRI MADHVA 10)

Beliau mempersembahkan cudamani kepada Sri Rama, menggerakkan pasukan para Vanara, bersama-sama membangun jembatan melintasi samudera, membunuh banyak raksasa, dan memukuli Ravana beberapa kali. Ksatria yang kuat dan tak kenal takut ini adalah Sri Hanumanta.


ramam sureshvaramaganyagunabhiramam samprapya sarva-kapiviravarai sametah chudamanim pavanajah padayornidhaya sarvangakaih pranatimasya chakara bhaktya (MBTN 7.49) Sri Hanumanta, putra Pavana bersama dengan para ksatria bangsa kera (Vanara) menemui raja para deva, Sri Rama, yang dihiasi berbagai kemuliaan. Beliau kemudian mempersembahkan cudamani milik Sita kepada-Nya dan melakukan sastanga-namaskara dengan penuh pengabdian. Sastanga-namaskara dijelaskan dalam sastra sebagai sembah sujud dengan tubuh tertelungkup. Bagian-bagian tubuh menyentuh tanah, mata memandang ke arah pujaan, pikiran harus dipenuhi pengabdian, dan mulut melantunkan doa pujian kepada tujuan penghambaan kita itu. Inilah cara bersujud yang benar.

Sehubungan dengan hal ini Srimad Jayatirtha Tikarajacharya juga memberikan kita definisi yang menarik tentang devosi yang sejati. Sang pemuja haruslah memiliki pengetahuan akan keagungan pujaannya. Devosi itu adalah dalam bentuk aliran perasaan sayang dan keakraban yang tak terputus, melebihi perasaan sayang pada segala sesuatu yang lain. Bentuk devosi seperti ini ditunjukkan oleh Sri Hanuman.

Pada saat Rama akan membangun jembatan, Vibhisana datang menemui-Nya dan memohon perlindungan. Semua Vanara meragukannya dan menentang keberadaan Vibhisana di pasukan Rama, kecuali Hanuman. Walau demikian Sri Rama menerima pendapat Hanuman dan memberikan tempat bagi Vibhisana. Ini menunjukkan bahwa apabila seorang jiva memiliki kepantasan memasuki moksa, maka Vayu segera mengusulkannya kepada Paramatma, yang kemudian hanya memenuhi saja keinginan Vayu.

Sri Rama menunggu Varuna untuk muncul menghadap selama tiga hari. Ketika Varuna tak kunjung muncul Sri Rama dengan marah mengarahkan panah-Nya ke samudera untuk segera mengeringkannya. Pada akhirnya Varuna datang dan memohon maaf. Varuna mengijinkan pasukan kera membangun jembatan di atas samudera dan juga berjanji untuk membantu mereka. Kita tentu bertanya, mengapa deva Samudera tidak menampakkan diri selama tiga hari, walaupun dia mengetahui Rama adalah Tuhan Sendiri? Srimadacharya mengatakan bahwa ini adalah karena pengaruh para raksasa (asuravesha) yang saat itu menjadi dominan oleh kekuasaan Ravana. Asuravesha dapat mempengaruhi semua deva di bawah Sarasvati dan Bharati. Pengaruhnya dapat bertahan dalam waktu yang singkat sebelum akhirnya kembali lagi ke sifat sattvikanya yang semula. Inilah yang terjadi pada deva laut. Tetapi keadaan serupa tidak pernah terjadi pada Vayu.


Ada banyak cerita mengenai kepahlawanan Hanuman baik dalam Srimad Ramayana, Vayustuti, maupun Sri Su-madhva-vijaya. Dalam beberapa kesempatan Sri Hanumanta sempat menghajar Ravana dan memberinya pelajaran. Dua peristiwa ini secara khusus dapat kita lihat dalam Mahabharata Tatparya Nirnaya dari Srimadacharya.

Pertama adalah saat Sri Hanumanta berusaha menyelamatkan Sugriva. atho hanumanurgendra bhogasamam svabahum bhru-shamunnamayya tatada vakshasyadhipam tu, rakshasam mukhaih sa raktam pravaman papata sa labda sangah prashashamsa marutim tvaya samo nasti puman hi kashchit kah prapayedanya imam dasham mamitirito marutiraha tam punah atyalapam-etadyadupatta jivitah (MBTN 8.77-79) Sri Hanumanta menghantam dada Ravana dengan tinjunya yang sekuat tubuh Sesha. Beliau tidak ingin membunuh Ravana, karena itu merupakan hak Sri Rama, sehingga beliau tidak menggunakan tenaga penuh. Walau demikian ini sudah cukup untuk Ravana, dia memuntahkan darah dari kesepuluh mulutnya dan jatuh pingsan. Ketika sadar kembali, dia berkata, “Sungguh engkau tanpa tanding, tidak ada orang lain yang bisa menyakitiku seperti ini.” Hanuman menjawab, “Itu cuma pukulan ringan, karena itu engkau masih hidup.”

Yang kedua adalah saat Laksmana pingsan oleh serangan Ravana. prakarshatitveva nishachareshware tathaiva ramavara-jam tvaranvitah samasta jivadhipateh para tanuh samutpapatasya puro hanuman sa mushtimavrutya cha vajrakalpam jaghana tenaiva cha ravanam rusha prasarya bahunakhilairmukhairvaman saraktamush-nam vyasuvatpapata (MBTN 8.89-90). Ravana, raja para raksasa, berusaha menarik Laksmana yang tidak sadarkan diri ke Lanka. Segera saja Sri Hanumanta, perwujudan Vayu dan raja para jiva, bergegas menghadapi Ravana. Beliau menghantam Ravana dengan tinjunya yang bagaikan Vajrayudha (senjata halilintar Indra). Ravana tidak kuat menahannya sehingga dia jatuh ke tanah dan muntah darah. Hanuman kemudian pergi membawa Laksmana. Ada beberapa kejadian lain yang membuktikan bahwa Sri Hanumanta sanggup mengalahkan Ravana dan seluruh pasukannya seorang diri.

Jumat, 05 Agustus 2011

HANUMANTA MAHIMAM (SRI MADHVA 9)

Beliau melindungi putra matahari, melompati samudera, menemui putri bumi, berperang dengan para raksasa, menaklukkan berbagai divyastra (senjata devata) dan kembali setelah membakar Lanka.


Sugriva adalah amsha dari Surya, jadi dia dikenal sebagai Taranisuta, putra matahari. Hanuman membantunya dengan berbagai cara. Pertama beliau membuatnya bersahabat dengan Sri Rama dan Laksmana, kemudian membantunya mengatasi Vali sehingga dia dapat menjadi raja menggantikan Vali. Berikutnya, ketika Sugriva melupakan janjinya pada Rama, Hanumanta memperingatkannya, “Tidak benar melupakan janjimu kepada Sri Rama. Beliau adalah Tuhan junjungan kita. Bila engkau melupakan janjimu, aku sendiri yang akan memaksamu untuk memenuhinya.” Dengan demikian Sri Hanuman mengingatkan Sugriva dan menyelamatkannya dari amarah Sri Rama yang dapat mengakibatkan kemusnahan bagi dirinya. Sri Rama menyelamatkan Sugriva hanyalah karena Hanuman berpihak kepadanya dan karena Sugriva berpihak pada Hanuman. Beliau tidak memperhatikan siapa Sugriva tetapi siapa Hanuman. Hal ini sudah dijelaskan sebelumnya dengan membandingkan Sugriva dengan Karna.

Ketika Jambavanta dan para vanara lain melihat betapa luasnya samudera, mereka yakin tidak akan bisa melaluinya. Mereka mendekati Hanuman dan memujinya, “tvameka eva traparam samarthah kurushva chaitatparipahi vanaran. Hanyalah engkau yang dapat melakukan tugas ini dan menyelamatkan para vanara.” (MTBN 6.58) Hanuman berhasil menemui Sita dalam hutan bunga Ashoka dan menyampaikan pesan dari Sri Rama sekaligus membawa bukti permata cudamani. Sita disebut Dharanisuta atau putri bumi, karena devi bumi Madhavilah yang menempatkan-Nya dalam alur bajak Janaka Maharaja.

"ashitikotiyuthapam purassarashtkayutam aneka hetisankulam kapindramavrunodbalam samavrutastharyudhaissa taditashcha tair bhrusham chakar tan samastashah talaprahar churnitan" (MBTN 7.21) Di Lanka, Hanuman diserang oleh 800 juta raksasa, dipimpin oleh 80 panglima perang. Tetapi semua serangan mereka hanyalah seperti memukulkan bunga-bunga pada seekor gajah yang mabuk. Hanuman menghancurkan mereka semua dengan pukulan tangan kosongnya. "sa sarvalokasakshi nahsutam sharairvavarshaha shitairvarastra mantritaih na chainama bhaiva chalayat" (MBTN 7.25) Semua senjata sakti dan senjata surgawi yang dihujankan oleh Akshakumara kepadanya tidak mempan. "athendrajinmahasa sharairvarastrasamprayojitaih tatak sha vanarottamam na chashaka dvichalane" (MBTN 7.30) Indrajit bersumpah akan menggunakan senjatanya yang terkuat untuk mencincang Hanuman, tetapi tak satupun terbukti. Ada kesalahpahaman populer bahwa Hanuman berhasil ditangkap dengan menggunakan Brahmastra oleh Indrajit. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Hanuman dapat dengan mudah menghindari atau mengalahkan Brahmastra karena beliau adalah Vayu sendiri yang kedudukannya dalam hirarki para deva adalah seperti Brahma. Hanuman hanya tidak ingin meremehkan senjata devata yang suci itu dan beliau juga ingin bertatap muka langsung dengan Ravana, sekaligus memasuki kotanya agar dapat melihat kekuatan musuh yang sebenarnya.

Para pesuruh Ravana berusaha membungkus ekor Hanuman dengan sobekan-sobekan kain namun setiap mencapai ujungnya, ekor itu bertambah panjang. Ini membuat mereka sangat putus asa sehingga akhirnya mereka segera membakar ekor Hanuman. Hanuman justru menggunakannya sebagai obor untuk membakar habis seluruh Lanka, tanpa meninggalkan bekas apapun padanya. Srimadacharya berkata, “krutistu vishwakarmanopi avahyatasya-tejasa. Hasil karya Vishwakarma dibakar habis oleh cahaya yang memancar dari Sri Hanumanta” (MBTN 7.45)

Kamis, 04 Agustus 2011

HANUMANTA MAHIMAM (SRI MADHVA 8)

Beliau mempelajari dan menguraikan intisari semua Veda dengan sangat cepat berikut semua aspek yang berkaitan dengan tata bahasa dan kesusastraan. “Tidak ada sedikitpun apashabda (kesalahan ejaan atau penggunaan kata) dalam bicaranya”, seperti itulah Sri Rama memuji Mukhyaprana.

Sudah dijelaskan bahwa Tuhan Sri Hari Sendiri mengajarkan Veda kepada Brahma dan Vayu pada awal penciptaan. (mengenai Vayu disebutkan bahwa beliau merupakan manifestasi napas Sriman Narayana Sendiri yang berarti beliau merupakan manifestasi Veda yang tiada lain berasal dari napas Sriman Narayana). Jadi tidak ada hal baru yang perlu dipelajari Hanuman. Karena itu kata bahasa Kannada yang digunakan adalah patisidanu (melantunkan) bukan kalitanu (mempelajari). Veda-veda menyanyikan puji-pujian kepada Sri Hari, sedangkan membaca dan melantunkan Veda ini adalah kegiatan yang memberikan kebahagiaan kepada Bhakta-Nya, Sri Hanuman. Itulah sebabnya beliau senantiasa menempatkan makna Veda dalam pikirannya.

Hanumanta sebagai Vayu Avatara dimuliakan dalam berbagai sastra sebagai seorang Vyakarana-pandita yang agung, ahli tata bahasa yang tiada bandingannya. Ini tidak mengherankan mengingat siapa sebenarnya diri beliau itu. Bukankah Sarasvati dan Bharati, Vidyabhimani-devata sendiri, adalah pendampingnya? Su-madhva-vijaya mengisahkan bagaimana para deva berkumpul di angkasa demi mendengarkan pelajaran dari Srimadacharya. Srimad Jayatirtha Tikarajacharya mengatakan bahwa dengan karunianya dan juga karunia Bharatidevi seorang bisu dapat menjadi pembicara hebat (muko’pi vagmi) dan seorang dungu dapat menjadi seorang sarjana cemerlang (jadamatirapu jantu jayate prajna mouli). Oleh karena itu adalah kebiasaan dalam Madhva-sampradaya untuk mengatakan sri-bharatiramana mukhyaprana antargata. Dengan inspirasi yang muncul oleh belas kasih Kekasih Bharati, Sri Mukhyaprana Vayudeva, kita berusaha memuaskan Tuhan Sri Krishna.

Ketika Sugriva mengetahui bahwa Rama dan Laksmana berada di wilayahnya, dia tidak yakin dengan maksud kedatangan-Nya. Sugriva berpikir bisa saja Mereka adalah kawan-kawan Vali. Demi mengetahui keadaan yang sesungguhnya Sugriva mengutus Hanuman, dengan menyamar sebagai seorang Brahmana dan berbicara dengan Rama dan Laksmana. Selama itu Sri Rama memperhatikan bagaimana Hanuman berbicara, Beliau terkesan dan berkata kepada Laksamana, “nanrugvedavinitasya nayajurveda darinah va sama veda vidushah shakyamevam prabhashitum nunam vyakaranam krutyamanenana bahudha-shrutam bahu vyaharatanena na kinchid apashadditam. Berbicara seperti ini hanya mungkin bagi seorang yang telah mempelajari Rigveda, Samaveda, dan Yajurveda berikut segala maknanya. Hanyalah orang yang telah mempelajari tata bahasa dan kesusastraan saja yang dapat berbicara tanpa salah ucap atau salah mengeja seperti ini.” (Ramayana 2.28-29)

Dikatakan bahwa hanyalah seorang ahli perhiasan yang hebat saja yang dapat menaksir harga sebuah permata dengan tepat. Siapakah ahli yang lebih hebat daripada Tuhan dan Pendamping-Nya dalam mengetahui betapa berharganya permata di antara semua hamba-Nya ini. Kita hanyalah dapat berterimakasih betapa besar saubhagya, keberuntungan kita, dapat menyebut a vayu namma kula guru rayanu...

Selasa, 04 Januari 2011

Hanumanta Mahima - SRI MADHVA (7)

Menghadap matahari, beliau melangkah mundur dan mempelajari semua sastra. Bergerak dari bukit terbit hingga bukit tenggelamnya. Adakah yang dapat dibandingkan dengan dirinya?

Hanumanta Svami mendekati matahari dan mendapatkan pelajaran tatabahasa, logika, dan semua sastra dari Surya devata. Surya mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menghentikan peredarannya untuk mengajar, sehingga Surya bersedia mengajar Hanuman hanya apabila beliau bisa selalu berada di depannya. Sri Hanumanta setuju, setiap pagi beliau mendaki puncak bukit tempat matahari tampak mulai terbit dan melompat dari sana menuju Suryamandala. Dari sana beliau mengikuti Surya dengan berjalan mundur, sehingga tetap menghadap Surya dan mendengarkan pelajaran darinya. Ketika sore hari, saat matahari tampak terbenam di bumi, Hanuman turun di perbukitan yang sama.

Apabila kita memperhatikan sastra bukankah Surya hanyalah jiva sedangkan Sri Hanuman adalah Jivottama? Bagaimana mungkin Surya dapat mengajar beliau? Srimadacharya juga mengatakan bahwa tidak mungkin Sri Hanuman memuja atau berguru selain dengan Sri Hari. Apakah makna dari sloka ini?

Pertama dapat dipahami bahwa sesungguhnya Sri Hanumanta Prabhu mempelajari semua sastra itu dari Sri Hari Sendiri yang bersemayam dalam Suryamandala sebagai Antaryami. “dhyeassada savitru mandala madhyavarti narayanah sarasijasana sannivishtah keyuravan makarakundalavan kiriti hari hiranmayavapurdruta shanka chakrah” Narayana duduk di atas sebuah tahta teratai (sarasijasana atau padmasana) di tengah-tengah bulatan matahari Sri Suryamandala, mengenakan berbagai perhiasan dan busana indah, memegang sankha dan chakra. Inilah Rupa Sri Narayana yang harus menjadi tujuan pemusatan pikiran semua orang. Surya di sini bukanlah deva penguasa matahari yang bersifat duniawi, salah satu penguasa benda angkasa, tetapi adalah Antaryami, Sri Suryanarayana-deva.

Dalam penjelasannya atas Gayatri-mantra Srimad Pejawar Swamiji Sri Sri Visveshwara Tirtha Sripadangalavaru menyatakan bahwa kata dhimahi dalam sloka pembukaan Bhagavata juga ditemukan dalam Gayatri (Brahma-gayatri) sebagai bhargo-devasya dhimahi. Kita setiap hari berdoa kepada Tuhan dengan mantra suci ini, bhargo-devasya dhimahi. Karena makna dari Gayatri dijelaskan dalam keseluruhan Bhagavata, maka pada sloka pembukaan, Sri Vedavyasa menggunakan kata dhimahi untuk mencirikan keseluruhan maksud Bhagavata. Beberapa orang mengatakan bahwa Gayatri adalah untuk memuja deva matahari. Sedangkan yang lain mengatakan bahwa itu adalah untuk memuja Devi Parashakti yang juga disebut Gayatri-devi. Namun sesungguhnya Gayatri Mantra bukanlah sekedar menggambarkan deva matahari atau Gayatri-devi saja. Mantra ini menguraikan kemuliaan Tuhan Tertinggi Sri Narayana yang bertahta dalam Suryamandala sebagai Antaryami, Roh Kehidupan Alam Semesta. Surya mandala adalah sumber cahaya bagi yang lainnya. Surya memberikan kehidupan kepada segalanya dan menjadi sumber tenaga penggerak seluruh dunia. Tetapi Tuhan Sriman Narayana, Sri Hari, adalah Antaryami yang menjadi sumber kekuatan dan cahaya Surya. Sehingga kita haruslah berdoa kepada Sriman Narayana yang adalah sumber dan Tuhan bagi Surya, dengan Gayatri Mantra. Setiap hari dengan tangan terkatup dan kepala menunduk, kita memohon kepada-Nya bukanlah untuk kesejahteraan duniawi, tetapi kita mengucapkan Gayatri Mantra dengan memvisualisasikan Sri Narayana, Tuhan di atas segala deva, yang bersemayam dalam Surya mandala. “Bhagavan, berkatilah kami dengan cahaya pengetahuan dan kebijaksanaan serta pengabdian cintakasih yang kekal kepada-Mu.” Inilah yang dicontohkan dan diajarkan oleh Sri Hanumanta Svami.

Kedua, Hanuman adalah Purnaprajna, yang memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan sempurna. Dikatakan bahwa Vayu dan Brahma dapat mengetahui segala sesuatu dengan sempurna hanya dengan berpikir mengenai orang atau objek tertentu itu, karena Sri Hari yang bersemayam di dalam hatinya segera memberikan pengetahuan apapun yang dibutuhkan. Sehingga baik Vayu maupun Brahma tidak perlu bertanya kepada siapapun selain Sri Hari secara langsung. Sehingga tidak ada persoalan tentang Hanuman mempelajari tata bahasa atau logika yang bersifat duniawi. Semua ini hanyalah permainannya, untuk memberikan teladan kepada semua orang, bahwa seberapapun agung dan mulianya, dia harus belajar dari seorang guru. Inilah mengapa Rama belajar pada Vasishta, Vishwamitra, dan Agastya, atau Krishna belajar pada Sandipani, atau Bhima belajar kepada Dronacharya. Ketika Dvaparayuga, Bhima mempelajari Vedasastra dari Sri Vyasadeva, kemudian ketika Sri Krishna menyabdakan Bhagavad-gita, Bhima sesungguhnya juga turut mendengarkan. Beliau berada di dalam pasukan dan juga sebagai Hanuman yang duduk pada bendera kereta perang Arjuna.

Dalam Gitabhasya, Srimadacharya mengatakan bahwa gurunya adalah Sriman Narayana Sendiri. “devam narayanam natva sarva dosha vivarjitam paripurnam gurunschan gitartham vakshyami lesatah.” Su-madhva-vijaya mengisahkan bahwa ketika Srimadacharya masih anak-anak beliau ditegur oleh guru sekolahnya karena dikira tidak mendengarkan pelajaran. Srimadacharya kemudian mengulang pelajaran yang tengah diberikan oleh gurunya dengan tepat, bahkan beliau juga mengulang pelajaran yang telah lalu dan pelajaran yang akan diberikan berikutnya. Ketika Srila Achyutapreksacharya menguraikan Bhagavata, Srimadacharya menunjukkan kepada semua, edisi atau versi Bhagavata mana yang paling tepat. Ketika ditanya mengenai hal ini, beliau hanya berkata bahwa semuanya sudah diketahuinya dari kehidupan yang lalu. Bukankah beliau adalah Sri Vayu yang mengetahui semuanya ini dan juga turut dikisahkan dalam Bhagavata? Dengan demikian Srimadacharya menyatakan sejelas-jelasnya bahwa pengetahuan didapatnya langsung dari Tuhan Narayana dan Avatara-Nya yaitu Sri Vedavyasa.

Srimad Sripadaraja kemudian menggunakan kalimat parama pavamana. Parama berarti yang tertinggi, menunjukkan beliau sebagai Jivottama dan Pavamana berarti murni, bebas dari segala kekurangan dan cacat. Dengan menyatakan kalimat ini di akhir sloka, Srimad Sripadaraja mengingatkan kita tentang siapa yang tengah kita bicarakan ini. Beliau berkata, “Kalian sudah mendengar bagaimana Sri Hanuman belajar dari matahari, tetapi ingatlah siapa sesungguhnya beliau. Janganlah berpikir salah, bahwa beliau perlu belajar sesuatu karena ketidaktahuannya. Ini hanyalah salah satu cara beliau menunjukkan keagungannya.” Bahkan dalam tindakan seperti ini pun, yang tampak merendahkan dirinya di hadapan seseorang, sebagai murid yang tengah belajar dari gurunya, Vayu menunjukkan keluarbiasaannya. Beliau mampu mengatasi hukum alam, yang mengharuskan matahari harus terus beredar, untuk tetap berada di depan menghadap gurunya. Beliau memusatkan pikiran sepanjang hari pada pelajaran, tanpa makan, minum, maupun kebutuhan alamiah lainnya. Sehingga Srimad Sripadaraja berseru gembira, “Adakah kalian temukan yang dapat menyamainya?” Kata yang digunakan adalah etagupameyunte (itage-upame-unte). Upame berarti contoh atau teladan, sehingga kita dapat memaknai perkataan Srimad Sripadaraja ini sebagai, “Adakah orang lain yang dapat memberikan teladan seperti dirinya?” atau dengan kata lain tidak ada guru atau Acharya yang seperti dirinya.

Sabtu, 01 Januari 2011

Hanumanta Mahima SRI MADHVA (6)

Ketika Tretayuga, demi melayani Sri Raghupati, Putra Vayu menjadi Sri Hanumanta. Karena rasa penasaran kekanak-kanakannya, beliau melompat ke arah matahari. Siapakah yang dapat menandinginya di ketiga dunia ini?

Selanjutnya akan dijelaskan Hanumanta-tattva, kebenaran sejati mengenai Avatara Sri Vayu sebagai Hanumanta. Srimadacharya berkata, "nishevanayorugunasya sa devatana prathamo gunadhiko babhuva namna hanuman prabhan janah" (MBTN 3.67). Untuk melayani Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari, yang penuh sempurna dengan segala kemuliaan, Sri Vayu, yang paling utama di antara para deva dan memiliki sifat-sifat suci melebihi semuanya, lahir sebagai seorang bangsa kera bernama Hanuman. Begitu pula para deva yang lain, turun ke dunia sebagai kera adalah untuk mendapat kesempatan melayani Tuhan, bukan karena Sri Raghupati Sendiri membutuhkan bantuan. Bukankah pada Avatara Sri Hari sebelumnya, kesempatan ini tidak diberikan kepada mereka?


Ada satu hal yang menarik di sini yaitu penggunaan nama Hanumanta untuk menyatakan Avatara Vayu yang khusus ini, bukan nama beliau yang lain seperti Anjaneya, Maruti, Vayu-putra, dan sebagainya. Lihatlah pada Vayustuti, bukankah Trivikrama Panditacharya berseru pertama kali pada Avatara pertama Sri Vayu ini dengan, vandeham tam hanumaniti... Beliau melakukannya, sebagaimana juga diikuti oleh Srimad Sripadaraja, karena makna dari kata hanu dalam nama Sri Hanumanta. "hanashabdo jnana vachi hanuman matishabditah" (Bhavavrutta). Kata hanu ini berarti jnana atau pengetahuan, sehingga dengan demikian Hanuman berarti orang yang berpengetahuan atau orang yang cerdas. Pernyataan seperti ini telah digunakan oleh Srimadacharya dalam beberapa Bhasyanya. Pada stotra pujian Hanuman yang dimulai dengan manojavam..., Sri Hanumanta dinyatakan sebagai buddhimatam varishtam, yang terbaik atau yang tertinggi di antara semua makhluk yang cerdas.

Ketika masih kecil Sri Hanumanta Prabhu dikisahkan melompat ke arah matahari karena menyangkanya buah matang yang menggiurkan. Bagaimana mungkin Sri Hanuman yang merupakan Vayu Avatara, guru seluruh dunia, melakukan hal kekanak-kanakan yang bodoh seperti ini. Apakah beliau tidak mengetahui matahari sebelumnya?
Kita hendaknya melihat dari dua sisi, karena dikatakan bahwa kapanpun Sri Bhagavan atau penyembah-Nya turun ke dunia, begitu banyak pelajaran dan maksud yang dipenuhi hanya melalui satu tindakan saja.

Sisi pertama adalah dari pandangan tattva. Secara tattva kita bukannya memandang kebodohannya yang kekanak-kanakan, namun tindakan luar biasa apa yang terjadi setelahnya. Menyangka matahari sebagai buah matang hanyalah menjadi pemicu untuk Sri Hanumanta memperlihatkan kekuatannya yang luar biasa, bahkan sebagai seorang anak kecil sekalipun. Walaupun matahari begitu terang dan panas, namun Sri Hanumanta tidak terpengaruh sama sekali olehnya. Ini hanyalah permainan sukacita untuk menambah kemuliaannya, agar para penyembah di ketiga dunia dapat turut bersukacita dengan mengenang tindakan agung hamba Tuhan yang mulia ini. Kita hanyalah memusatkan perhatian kepada kejayaan Sri Vayu saja.

Sisi kedua adalah dari pandangan yang bersifat asurika. Para Asura atau orang-orang jahat ditipu oleh sesuatu yang tampak sebagai kelemahan pada Sri Hanuman. Mereka sibuk tertawa melihat kebodohan beliau sehingga lupa memperhitungkan kekuatan Sri Hanuman yang sebenarnya. Namun begitu para Asura dikalahkan maka kekalahan itu akan tampak berlipat-lipat. Betapa memalukan ditaklukkan oleh orang yang kita remehkan. Begitu pula yang terjadi pada Avatara Vayu lainnya. Contohnya Sri Bhimasena, kebanyakan mengetahuinya hanyalah sebagai orang rakus yang kerjanya hanya makan dan tidak dapat berkata-kata dengan sopan. Bhima sepertinya tidak terlalu terkendali seperti Dharmaraja dan juga tidak melakukan sadhana atau pertapaan yang keras seperti Arjuna. Tetapi dalam suatu kesempatan beliau membuktikan bahwa Tuhan Sri Krishna mungkin bisa menunda atau datang terlambat ketika penyembah lain, bahkan ketika Pandava lain memanggil-Nya. Walau demikian pada saat Bhima memanggil-Nya, bahkan tanpa menyebut nama-Nya sama sekali, Krishna harus segera datang ke tempat itu, seketika itu juga. Tahukah anda bagaimana cara Bhima memanggil Sri Krishna? Dia tidak perlu berdoa seperti Dharmaraja atau Arjuna atau Draupadi. Bhima hanya melemparkan gadanya... ke atas kepalanya sendiri. Tanpa ditunda Tuhan Sri Krishna segera datang untuk menangkap gada itu. Siapakah yang memiliki keyakinan dan keberanian seperti Bhima? Orang-orang yang meremehkan Bhima akan sangat terpukul melihat bagaimana sesungguhnya beliau lebih agung dan mulia dari mereka. Bagaimana Tuhan Sri Krishna mementingkan Bhima melebihi diri mereka sendiri.

Demikian pula dengan Srimadacharya Madhva. Dari segi fisiknya yang besar dan gemuk, beliau tidak tampak sebagai seorang pertapa sannyasi yang baik. Salah satu yang meremehkan kemampuan Srimadacharya adalah seorang Mayavada-yati bernama Pundarika Puri. Pundarika menertawakan Srimadacharya ketika beliau mengajarkan tata bahasa kepada murid-murid pemula di Udupi. Pundarika sebenarnya datang untuk berdebat dengan Srimadacharya. Tetapi kemudian orang-orang mendesaknya untuk memperlihatkan kemampuannya mengucapkan Veda dengan tepat. Penuh kebanggaan dia melantunkan sebuah sukta dari bagian pertama Rigveda andalannya, namun di tengah-tengah dia kehabisan napas, sehingga memenggal kalimat Sanskrit tidak pada tempat yang tepat. Jadilah Pundarika tertawaan para murid pemula yang diajari oleh Srimadacharya dan kalah sebelum bertanding. Padahal sebelumnya Pundarika memperolok Srimadacharya berdasarkan penampilan fisik dan aktivitas eksternal yang tengah dilakukannya.


Berikutnya dalam sloka ini dikatakan bahwa tidak ada satupun di ketiga dunia ini yang setara dengan Hanuman. Ini merupakan salah satu cara menyatakan bahwa beliau tiada lain adalah Jivottama itu sendiri. Ini mengingatkan kita pada pernyataan Hari Vayustuti, mahita mahapauruso bahushali... terlalu banyak keagungan dan kemuliaannya sehingga satu kehidupan terlalu singkat, tidaklah cukup untuk mengisahkan semuanya. Sehingga kita hanya bisa puas dengan mengatakan, sudahlah tidak ada yang seperti dirinya di ketiga dunia ini.

SRI MADHVA (5)


Bagi para deva, manusia, dan unsur-unsur alam, beliau hadir sebagai pengendali dan pengatur semuanya. Di dunia ini beliau tidaklah tunduk atau memuja yang lain selain Sri Hari. Beliau adalah Mukhya-pavamana, permata mahkota di antara para guru.

Pada awalnya, Sri Hari dan Laksmi (sebagai Mula-prakriti) menciptakan tiga unsur pembentuk brahmanda (alam semesta duniawi) yaitu satva- (sifat kebaikan), rajo- (sifat nafsu), dan tamo- (kebodohan) guna. Dengan menggunakan triguna ini, Tuhan menciptakan mahattattva sebagai batu pembangun utama. Melalui mahattattva terciptalah ahankara-tattva dan tattva-tattva lainnya. Abhimani devata (deva pengendali) mahattattva adalah Brahma dan Vayu (beserta sakti mereka masing-masing, Sarasvati dan Bharati), sedangkan untuk ahankara tattva adalah Garuda, Sesha, dan Rudra (juga dengan saktinya, Sauparni, Varuni, dan Parvati). Dilihat dari kedudukan ini, karena mahattattva merupakan unsur kunci dalam rangkaian penciptaan, maka tidaklah mengherankan apabila Vayu (dan Brahma) diangkat sebagai wakil utama Sri Hari dalam tubuh ini. Beliau berada di atas para deva yang lain dan memastikan agar semuanya bekerja sesuai dengan kehendak Sri Hari.

Menurut Sruti, Sri Vayu sebagai devata yang juga bertugas dalam mengatur unsur alam semesta tidaklah bertanggung jawab pada siapapun juga dalam hirarki para deva, bahkan kepada Indra yang ditunjuk sebagai penguasa surga dan raja deva. Beliau secara langsung bertanggung jawab kepada Sri Hari. Srimadacharya mengatakan bahwa nanyadeva natastena vasudevanna pujitah, Bhima (Vayu) tidak pernah menyembah deva manapun selain Sri Vasudeva Hari (Mahabharata Tatparya Nirnaya 18.16). Sekalipun di dalam Mahabharata atau Ramayana, Bhima dan Hanuman menghormati Bhisma (kakek), Drona (guru), dan Sugriva (raja), namun mereka melakukannya untuk memberikan contoh teladan kepada dunia, bukan karena mereka lebih tinggi dari Bhima dan Hanuman.

Pada sloka terakhir mengenai Vayu-tattva ini, Srimad Sripadaraja mendadak tidak menggunakan kata namma-kula (keluarga kita atau perguruan kita), tetapi memilih kata gurukula. Hal ini mengingatkan akan salah satu konsep penting dalam Tattvavada yang disebut Taratamya, hirarki dalam ciptaan. Aspek Taratamya yang dibahas di sini adalah bahwa secara alamiah, setiap kelompok yang berada di atas harus menjadi panutan dan guru bagi kelompok yang berada di bawahnya. Secara simbolik menyatakan ada hirarki panjang para guru bagi seluruh ciptaan kosmis, di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, yang berujung pada Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari. Puncak dari garis perguruan ini adalah Brahma dan Vayu. Menurut konsep Taratamya, ada golongan yang disebut Riju-devata. Satu yang termulia di antara para Riju menjadi Vayu. Berikutnya Vayu yang ada sekarang akan menduduki posisi Brahma. Sehingga Brahma dan Vayu memiliki sifat rohani yang sama. Secara khusus Vayu merupakan guru bagi semua satvika-jiva, yaitu mereka yang pantas mencapai pembebasan. Srimad Sripadaraja menyebutnya secara puitis sebagai gurukula-tilaka, permata mahkota dalam keluarga besar para guru.

Selasa, 30 November 2010

SRI MADHVA (4)


Selama beliau berada dalam badan, maka Sri Hari akan tetap berada di sana. Begitu beliau pergi, maka Sri Hari juga akan turut meninggalkan badan. Beliau adalah pengendali baik di dalam maupun di luar badan. Itulah Vayu, yang adalah pemimpin utama para guru dalam silsilah garis perguruan kita yang suci.


Ada sebuah pernyataan Sruti mengenai hal ini. "kasmin vahamutkranta utkramishyami, kasminvaham sthite sthasyami iti sa pranamasrujatra". Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari menciptakan Vayu dengan menyatakan, “Aku akan menciptakan seorang penyembah-Ku sedemikian rupa, sehingga kehadirannya akan menjadi tanda kehadiran-Ku, dan kepergiannya juga akan membuat-Ku pergi.” Ada dua aspek yang perlu diperhatikan dalam kata-kata yang digunakan oleh Srimad Sripadaraja.
1. Pernyataan ini dibuat dengan ketegasan dan ketidakterbantahan. Tidak ada kata bila atau tapi (keraguan atau prekondisi) dan juga tidak ada ambiguitas (makna mendua). Tidak ada rujukan kepada deva yang lain. Hanya dinyatakan hubungan erat antara Vayu dan Sri Hari secara langsung dan nyata.
2. Pernyataaan saling berkaitan digunakan, yaitu kehadiran Vayu dengan kehadiran Sri Hari. Kehadiran Vayu menjadi pertanda kehadiran Sri Hari.

Memaknai pernyataan ini dengan melihat kenyataan yang ada pada badan jasmani, selain dapat diketahui secara langsung, tentu juga ada dasar sastranya. Kita mengetahui bahwa Sri Vayu dalam tubuh jasmani adalah Prana, napas kehidupan. Bila Prana ada di sana maka kita katakan bahwa tubuh itu hidup. Apakah arti dari tubuh yang hidup ini? Badan jasmani yang terbentuk dari unsur-unsur alam adalah mati, tetapi ketika jivatma, roh individual berada di sana maka dia hidup. Tetapi yang lebih penting lagi, kita mengetahui dari sastra suci bahwa jiva yang terbungkus oleh badan duniawi tidaklah berada sendirian di sana. Perluasan dari Sri Hari Sendiri mendampingi jiva sebagai Paramatma. Beliau hadir di sana dan tanda dari kehadiran Beliau adalah Prana, yang tiada lain adalah Sri Vayudeva.

Bila kita memperluas makna mengenai kehadiran ini dapatlah kita pahami sebagai berikut. Selama Vayu berada dalam hati kita, maka Sri Hari juga ada di sana. Kapanpun kita melupakan Vayu, maka Sri Hari juga meninggalkan kita. Apakah artinya Sri Vayu selalu ada di hati kita?
1. Senantiasa memusatkan hati pada Vayu, kemuliaan, dan keagungannya.
2. Yakin sepenuh hati dan jiwa bahwa Vayu secara nyata adalah Jivottama.
3. Mengikuti prinsip-prinsip rohani sebagaimana diajarkan oleh Vayu sendiri.
Secara khusus ini berarti kita hendaknya senantiasa menginsafi bahwa keagungan dan kemuliaan Sri Madhva merupakan pusat meditasi kita. Kita memahami bahwa beliau adalah Jivottama, pemimpin kita, yang menghubungkan kita semua dengan belas kasih Sri Hari. Kita juga menerima sepenuh hati kebenaran ajaran Madhva dan mengetahui bahwa tanpa menerimanya maka kita tak akan dapat mencapai Sri Hari. Sri Hari akan mengabaikan siapapun yang mengabaikan Sri Madhva, yang adalah Vayudeva sendiri. Sedangkan dalam arti luas, semuanya ini hendaknya kita pahami dan laksanakan dalam pelayanan kepada guru kerohanian kita secara pribadi, yang merupakan penerus dan wakil dari Sri Madhva.

Hubungan Vayu yang sangat erat dengan Sri Hari ditunjukkan oleh kenyataan yang ada dalam tubuh jasmani ini. Tetapi apakah hanya terbatas seperti itu saja? Srimad Sripadaraja segera mengingatkan kita pada pernyataan Sruti berikutnya. "pranasmetad vashe sarvam pranah paravashe sthitah na parah kinchidashritya vartate paramoyatah." Segala sesuatu di alam semesta ini berada di bawah kendali Prana. Prana berada di bawah kendali Sri Hari. Sri Hari tidak dikendalikan oleh siapapun. Dinyatakan bahwa tubuh jasmani, pindanda (mikrokosmos) adalah merupakan miniatur dari tubuh alam semesta, brahmanda (makrokosmos). Sehingga para deva yang mengendalikan berbagai organ dan bagian tubuh juga mengendalikan berbagai bagian alam semesta. Sebagaimana mereka semua berada di bawah pengendalian Vayu, maka baik dalam pindanda maupun brahmanda, keadaan inilah yang terjadi.

Ketika para deva yang mengendalikan indria maupun organ-organ meninggalkan tubuh seseorang, maka orang tersebut dikatakan buta, tuli, atau bisu (organ tertentu itu menjadi cacat, sesuai dengan deva yang pergi meninggalkannya). Namun ketika Mukhyaprana meninggalkan badan, maka orang bijaksana menyebut badan itu sesosok jenazah.

Dalam sloka ini kembali Srimad Sripadaraja membawa kita memperhatikan pernyataan Aitareya Upanisad. "ta ahimsan ta ha muktha masmaihamukthamasmiti ta abruvan hantasmachcharira dutkramama tadyasmin na utkanta idam shariram patsyati taduk-tham bhavishyatiti vagudakramad avadannashnan piban nastaiva chakshurudakramad apashyan-nashnan pibannastaiva." Pada suatu ketika para deva bertikai di antara mereka untuk menentukan siapakah yang paling agung. Mereka memutuskan bahwa cara yang terbaik adalah dengan memasuki sesosok badan dan mengamati pengaruh mereka padanya. Para deva mulai memasuki tubuh yang mati itu satu per satu. Tak satupun di antaranya yang dapat memberikan pengaruh, tubuh itu tetap seperti adanya. Begitu Vayu memasukinya, tubuh itu menggeliat hidup. Kemudian sebaliknya, para deva meninggalkan tubuh itu satu per satu. Setiap organ yang mereka kuasai menjadi cacat, walau demikian tubuh itu tetap hidup. Tetapi begitu Vayu pergi, tubuh itu mati. Ini menyimpulkan ketergantungan penuh jiva kepada Vayu, sekaligus superioritasnya di antara para deva yang lain, sehingga membuat gelar Jivottama tepat sesuai baginya. "prana udakramat tatprana utkrante apadyata tad ashiryata ashariti tachchariramabhavat". Ketika Prana meninggalkan badan, maka badan menjadi roboh dan mulai membusuk. Demikianlah sabda Aitareya Upanisad.

Kita dapat mengamati ini semua dalam keseharian kita. Selama orang itu bernapas, dia dianggap hidup. Dia mati bila berhenti bernapas. Apabila di sekitar orang itu ada dokter, maka dia akan berusaha membantu orang itu untuk bernapas kembali dengan berbagai cara seperti resusitasi jantung paru atau memasang alat bantu napas. Dikatakan bahwa apabila seseorang mati, maka amsha dari para deva yang bersemayam di organ-organ tertentu kembali menyatu dengan deva-deva kosmis yang asli. Tetapi tidak demikian dengan Vayu. Beliau membawa Paramatma dan jiva di atas pundaknya untuk menuju badan berikutnya. Bila pernyataan sloka ini dihubungkan dengan sloka sebelumnya, maka akan tampak betapa eratnya hubungan antara jiva, Vayu, dan Sri Hari, betapa besar perhatian Sri Hari kepada Vayu, dan betapa mulia kedudukannya di antara deva-deva lain. Makna simbolik dari sloka ini juga menunjukkan bahwa demi bangkitnya “tubuh” spiritual, kehadiran Vayu sangatlah penting. Dengan kata lain, segala jenis pemujaan yang tidak memberikan tempat mulia bagi Sri Vayu dan juga prinsip-prinsip yang diajarkan oleh beliau hanyalah akan menjadi sia-sia belaka.

Minggu, 28 November 2010

SRI MADHVA (3)


Beliau yang mengambil rupa seekor kura-kura dan mendukung Sesha. Dengan berada di dekatnya para deva yang lebih rendah dapat mencapai Sri Hari, itulah Vayu yang adalah pemimpin utama para guru dalam silsilah garis perguruan kita yang suci.

Selanjutnya adalah penjelasan mengenai Vayu-tattva, kebenaran sejati tentang Vayu. Siapakah sesungguhnya Vayu dan bagaimana kedudukan beliau dalam pelayanannya kepada Tuhan Sri Hari di dunia ini. Menurut sastra, Tuhan menjaga seluruh alam semesta sebagai Vishnu-kurma. Lalu dalam cairan yang mengisi Brahmanda (disebut Garbhodaka – Samudera Rahim Semesta), Vayu juga hadir sebagai Vayu-kurma, memegang ekor dari Vishnu-kurma. Sesha berpegangan pada ekor Vayu dan mendukung dunia dengan kepalanya. sa esha kurmarupena vayurandodake sthitah vishnuna kurma rupena dharitoananta-dharakah (iti prabhanjane) agneyaishanigou bahu padou nirruti vayugou (iti prakrushte bruhadaranyako-panishad bhashya) Keempat anggota tubuh Vayu-kurma berada di keempat penjuru Brahmanda. Dadanya bersandar pada bumi, perutnya mendukung Akasha, dan punggungnya memanggul alam-alam lain.

Uraian ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Seluruh sistem dunia kita dan planet-planet yang ada di dalamnya berada tetap dalam peredarannya oleh kekuatan gaya tarik matahari. Sehingga dengan demikian seluruh alam semesta juga bersandar atau bergerak secara teratur oleh suatu kekuatan gaya tarik. Sesha merupakan emenasi dari Sankarshana, Dia yang memiliki segenap kekuatan daya tarik (Akarshana). Daya tarik antara jiva yang rohani dengan Tuhan Sri Krishna dikem-bangkan melalui kekuatan Sankarshana atau Baladeva. Seluruh kekuatan daya tarik berasal dari Sri Sankarshana. Demikian pula daya tarik yang menjaga keteraturan seluruh alam semesta juga merupakan manifestasi dari Sankarshana yang disebut Sesha. Sesha menerapkan kekuatannya atas perwujudan alam semesta duniawi, ciptaan kosmis. Sedangkan sumber segala shakti atau energi adalah Bhagavan Sri Krishna, yang dalam Brahmanda ini melindungi semesta melalui rupa-Nya sebagai Vishnu-kurma. Lalu siapakah yang berada di antara energi duniawi dengan Sri Bhagavan? Itu tiada lain adalah Vayu, kekuatan yang menghubungkan seluruh dunia dengan Bhagavan, jiva yang utama (Jivottama). Di alam semesta ini beliau juga turut menjaga keteraturan dengan rupanya sebagai Vayu-kurma.

Peran penting Vayu kembali ditegaskan dalam kalimat sloka ini, avavana balivididu hariya suraraiduvaro. Sebelumnya kita sudah mengetahui dari Balittha-sukta bahwa Rudra dan para devata yang lain dapat dengan mudah mengetahui kemuliaan Sri Hari dan mencapai pembebasan dari samsara dengan bantuan Vayu. Dengan berada di dekat Vayu, semua deva, bahkan yang memiliki kedudukan lebih rendah sekalipun dapat mencapai Bhagavan Sri Hari.
Sri Su-madhva-vijaya menjelaskan bahwa kapanpun Srimadacharya melaksanakan pembahasan sastra suci, maka para deva berkumpul di angkasa untuk turut mendengarkannya. Ini karena ulasan sastra yang diberikan oleh Srimadacharya sebagai Avatar Vayu, dapat memberikan jalan terbaik untuk menuju kepada Sri Hari.

Demi menyatakan lagi kemuliaan Sri Vayu, maka kita memperoleh gambaran berikut dari Srimad Ramayana dan Mahabharata. Sugriva dan Karna adalah sama-sama merupakan amsha dari Suryadeva, namun mengapa mereka diperlakukan berbeda oleh Tuhan Sri Hari? Dalam MBTN 5.46-47 Srimadacharya menyatakan, “sa marutikrute ravijam raraksha”, Ravija Sugriva dilindungi oleh Sri Rama hanya karena dia berada bersama Sri Hanumanta. "bhimarthameva ravijam nihatya", Ravija yang lain yaitu Karna menerima ajalnya karena berada di pihak yang memusuhi Bhima. Keadaan berlawanan serupa juga dapat kita lihat pada kedua amsha dari Indra, yaitu Vali dan Arjuna. Vali menerima kemusnahannya karena dia tidak menghargai Sri Hanumanta, namun Arjuna memperoleh kemuliaan karena dia sepenuhnya tunduk kepada Bhimasena. Gambaran ini menunjukkan bahwa mendapatkan karunia Vayu adalah merupakan jalan langsung menuju karunia Sri Hari. Berada di dekat Vayu, apabila diartikan sebagai berjalan di dalam kebenaran ajaran yang diajarkan oleh Sri Vayu, atau dengan senantiasa berada dalam garis perguruan Sri Vayu, serta tattva sebagaimana diungkapkan oleh Sri Vayu, maka kita dapat memperoleh kepastian dan kemudahan dalam mencapai Sri Hari.

Garis silsilah kita yang suci menurun dari Tuhan Sendiri melalui Brahma. Sastra mengatakan bahwa hanyalah Sri Hari yang bisa menganugerahkan pembebasan, mukti-pradatam-vishnureva na samsayah, namun Brahma dan Vayu dapat merekomendasikan pembebasan bagi jiva yang pantas. Sastra juga menyatakan bahwa di alam semesta ini hanya Brahma, Vayu, Sarasvati, dan Bharati, dengan kuasa dari Sri Hari dan Laksmi, memiliki pengetahuan yang senantiasa sempurna dan bebas dari cacat atau kekurangan. Sehingga tidaklah mengherankan bahkan para deva yang lainpun berusaha untuk belajar dari mereka.

Sri Vayu, khususnya ketika beliau hadir sebagai Srimad-acharya Madhva, disebut sebagai Kula-guru-raya. Beliau adalah pemimpin utama para guru dalam silsilah keluarga rohani Brahma. Tetapi mengingat segala penjelasan yang telah diberikan sebelumnya, kata kula (keluarga) yang digunakan oleh Srimad Sripadaraja tidaklah diartikan secara sempit sebagai lingkungan Madhva-sampradaya saja. Kula menunjukkan persaudaraan semesta, semua jiva yang memiliki kepantasan mencapai moksa, sebagai satu keluarga, berarti termasuk para deva, makhluk-makhluk surgawi, para orang suci, dan sebagainya. Sri Vayu adalah guru utama bagi semua satvika-jiva. Itulah sebabnya mengapa dalam Vayustuti beliau disebut sebagai Trailokacharya, Guru Kerohanian Ketiga Dunia.

Kamis, 25 November 2010

SRI MADHVA (2)


Segala pujian, segala pujian kepada beliau yang menyangga seluruh alam semesta, yang paling berkuasa dan penuh kekuatan di antara semua jiva, yang adalah kediaman segala sifat-sifat rohani, beliaulah yang bernama Madhva.

Srimad Sripadaraja memulai uraiannya tentang kisah kehidupan Sri Madhva dengan doa singkat ini yang diawali dengan kata jaya. Salah satu makna jaya adalah mangala atau kemujuran dan kesucian. Dengan demikian beliau memohon kepada Sri Mukhyaprana Vayudeva agar menganugerahkan mangala kepada kita semua. Hal ini sangat tepat, karena sastra suci menjelaskan bahwa Sri Vayu adalah parama-mangala-svarupa, perwujudan sejati segala kemujuran, pradhana-anga atau tangan kanan Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari.

Jaya juga berarti kemenangan. Kemenangan terbesar bagi para jiva adalah moksa atau mukti, pembebasan tertinggi. Sri Vayudeva membantu semua jiva yang memiliki kepantasan untuk mencapai tujuannya ini dengan memberikan pengetahuan yang benar (jnana) tentang Tuhan, juga memberikan inspirasi untuk berpikir dan bertindak secara benar. Segala ingatan dan pelupaan serta ilham yang rohani berasal dari Paramatma Sri Hari, namun adalah Sri Vayu yang menyampaikannya kepada para jiva, dan adalah beliau yang membantu serta mendukung para jiva untuk mencapai tujuannya yang sejati. Bhagavan Vayu adalah yang bertanggung jawab menyampaikan permasalahan para jiva kepada Sri Hari. Beliaulah yang memohon kepada Sri Hari agar bersedia mengarahkan belas kasihnya kepada para jiva. Selain kehendak Sri Hari dan Mahalaksmi, hanyalah Vayu dan Brahma (kedudukan yang diperuntukkan bagi Vayu dalam manifestasi penciptaan berikutnya) yang berhak mengajukan pembebasan para jiva. Oleh karena itu Vayu dinyatakan sebagai pradhana-anga dari Tuhan Sri Hari Sendiri. Jaya juga bermakna yang paling utama, karena Vayu juga dipahami sebagai Jivottama, yang tertinggi di antara para jiva.

Sastra menyatakan pula bahwa Vayudeva senantiasa melantunkan Hamsa-mantra “hamsah so’ham svaha” sekitar 21.600 kali setiap hari kepada semua jiva dan mempersembahkannya kepada Hamsanamaka Paramatma, Sri Hari yang memberikan karunia pengetahuan sejati mengenai Brahman kepada deva Brahma, makhluk hidup pertama dalam manifestasi kosmis. Sekalipun makhluk hidup tidak semuanya melakukan mantra-japa atau mengucapkan nama suci Sri Hari, Vayu melaksanakan Hamsa-japa setiap hari atas nama para jiva yang terperangkap dalam tubuh duniawi ini. Oleh karena itu Vayu dimuliakan sebagai guru yang memberikan pengetahuan sejati kepada semua makhluk, sehingga mereka semua dapat mengenal Bhagavan Sri Hari.

Selama Sri Vayu berada di tubuh ini maka tubuh hidup, tetapi begitu dia meninggalkannya maka tubuh akan mati. Begitu pula sebagaimana dijelaskan dalam Aitareya Upanisad 1.2.4. vayuh prano bhutva, Vayu memberikan kehidupan bagi tubuh kosmis. Karena itu Bhagavan Vayu juga dimuliakan sebagai Jagatrana, dia yang menyokong kehidupan dunia. Trana juga dapat dimaknai sebagai penjaga atau pelindung. Bhagavan Vayu merupakan pelindung semua jiva yang memiliki kepantasan untuk mencapai moksa, beliau melindungi jiva-jiva dalam kebaikan dan juga menghukum mereka yang jahat. Kekuatan beliau bahkan meliputi para devata yang lain. balamindrasya girisho girishasya balam marut balam tasya haris sakshat naharerbala manyatah (Mahabharata Tatparya Nirnaya - MBTN 2.162) Kekuatan Indra adalah Girisha (Rudra), kekuatan Girisha adalah Marut (Vayu). Kekuatan Vayu adalah Sri Hari Sendiri yang tidak memperoleh kekuatan-Nya dari siapapun juga. Karena Vayu merupakan sumber kekuatan Rudra, sehingga beliau juga merupakan sumber kekuatan para devata yang lain, maka Jagatrana merupakan gelar yang tepat bagi beliau.

Dalam sastra dikatakan bahwa tubuh manusia disusun atas 24 elemen atau tattva. Elemen-elemen ini pada dasarnya tidak hidup. Untuk memberikan kehidupan kepada badan ini dan membuatnya aktif, 24 tattva-abhimani-devata memasuki bagian-bagian badan tersebut dan mengaktifkannya. Pengendali dari semua devata ini adalah Vayu. Sri Hari menginspirasi Vayu kemudian Vayu lanjut menginspirasi yang lainnya. Karena Hari dan Vayu bertanggung jawab atas pemeliharaan kehidupan alam semesta, maka Beliau disebut Sutrana, jagadolage sutrana. Secara khusus hanyalah Bhagavan Sri Hari yang merupakan Sutrana, namun karena Vayu menjalankan kekuatan Sri Hari dalam memelihara kehidupan, beliau juga dapat disebut Sutrana.

Vayu kemudian dimuliakan pula sebagai Akhila-guna-sad-dhama. Hal ini dapat dijelaskan dengan dua cara. Vayu adalah saddhama, tempat terluhur untuk bersemayamnya Sri Hari yang adalah akhila-guna, yang memiliki kemuliaan dan sifat-sifat rohani tak terbatas. Lalu Vayu juga adalah saddhama, perwujudan dari akhila-guna (sifat-sifat rohani) itu sendiri.

Tuhan Sri Hari dikenal sebagai Purnaguna atau Akhilaguna, pemilik segala kemuliaan dan sifat-sifat baik yang rohani. Akhila dan Guna juga merupakan nama-nama Sri Hari yang dinyatakan dalam Vishnusahasranama-stotra. Sebagai penyembah-Nya yang terbaik, Vayu adalah juga tempat bersemayamnya Sri Hari (saddhama). Sehingga Vayu dapat disebut sebagai Akhilaguna-saddhama. Akhilaguna-saddhama di sini menunjukkan bahwa Sri Hari senantiasa berada atau bersemayam dalam Vayu. Oleh karena Bhagavan Sri Hari senantiasa bersama Vayu, maka Vayu sendiri juga memanifestasikan segala sifat mulia Sri Hari. Segala kemuliaan Sri Hari juga ditampakkan oleh Vayu, sehingga Vayu juga disebut Akhilaguna-saddhama karena dia merupakan perwujudan dari segala sifat-sifat rohani ini. Selain itu Vayu merupakan Jivottama, jiva yang paling utama, sehingga segala sifat-sifat baik jiva mencapai puncaknya dalam diri Vayu. Jadi seperti Tuhan Sri Hari, maka Vayu juga menyandang gelar Akhila-guna.

Sebagai gambaran atas sifat-sifat mulia yang ditunjukkan oleh Vayu, Srimadacharya Madhva berkata, "jnane virage haribhaktibhave dhruti sthiti prana baleprayoge buddhoucha nanyo hanumatsamanah puman kadachit kvacha kashchanaiva tatvagyane vishnubhaktou dhairye sthairye parakrame vege cha laghave chaiva pralapsya cha varjane bhimasena samonasti senayorubhayaropi pandityecha patutvecha shurtvecha balepi cha" (MBTN 3.155,165) Dalam hal pengetahuan, pelepasan ikatan, pengabdian kepada Sri Hari, keteguhan, keseimbangan, kekuatan, dan kecerdasan, tidak ada satu orang pun yang setara apalagi mampu melampaui Hanuman. Dalam hal ilmu pengetahuan rohani yang benar, pengabdian kepada Vishnu, ketegasan sikap, kekuatan, kesigapan, kemampuan menyesuaikan diri dalam ruangan yang sempit, pengendalian diri, melompati jarak yang jauh, menghindari pembicaraan yang tak berguna, keahlian berbicara, dan memberi semangat, tak ada satu pun yang dapat menandingi Bhimasena. Baik Sri Hanuman maupun Bhimasena adalah Avatar Vayu. Oleh sebab itu Sri Trivikrama Panditacharya menyebut Vayu sebagai Srimad Vishnavanghrinisthati guna.

Sripadaraja menggunakan nama Madhva, bukan nama atau gelar Srimadacharya yang lain dalam karyanya. Ini membuat kita merenungkan pernyataan Balittha-sukta, "niryadim budhnanmahi-shasya varpasa ishanasah shavasa kranta surayah yadimanu pradivo madhva adhave guha santam matarishwa matha-yati" Rudra (Ishana) dan para deva yang lainnya dengan mudah dapat mempelajari segala kemuliaan Tuhan Tertinggi Sri Hari dan menjadi bebas dari segala ikatan duniawi adalah berkat Vayu (Matarishvan) yang mahatahu. Dia (sebagai Madhva) memerah sari sastra-sastra suci dan memperlihatkan kepada kita semua Keutamaan Sri Hari, yang bersemayam dalam hati semua orang. Secara khusus Madhva adalah nama yang digunakan dalam Veda untuk menyebut Srimadacharya, bahkan sebelum kemunculan beliau secara fisik di bumi ini.

Rabu, 24 November 2010

SRI MADHVA DAN VAISHNAVISME


Dalam konsep ketuhanan Vedanta kita mengenal adanya dua kutub utama yang saling berlawanan, yaitu kutub monisme dan kutub pluralisme. Kutub monisme menempatkan kemanunggalan antara Tuhan dengan makhluk hidup dan alam, sedangkan kutub pluralisme mempertahankan perbedaan antara Tuhan dengan makhluk hidup dan alam. Semua pemikiran-pemikiran dan konsep-konsep yang dikembangkan dan diajarkan oleh para Vedanta Acharya, terentang di antara kedua kutub ini.

Vishnuswami, yang kemudian dilanjutkan oleh Vallabhacharya, mengajarkan pemikiran suddha-advaita, monisme murni. Segala sesuatu adalah Brahman, namun dalam tingkat ekspresi-Nya yang berbeda-beda. Adi Sankara mengajarkan kevala-advaita, monisme eksklusif. Kenyataan sebenarnya adalah Brahman. Hanya Brahman yang nyata, semua yang lainnya hanyalah ilusi palsu. Advaita dari Vishnuswami dan Vallabha menerima kenyataan adanya tiga substansi (vastu) yang berbeda yaitu Isvara (Tuhan), jiva (makhluk hidup), dan jada (alam), namun menjelaskannya sebagai manifestasi dari satu Kebenaran Mutlak yang tertinggi. Tetapi Advaita Sankara menolak ketiga substansi ini sebagai hal yang nyata, karena menurutnya hanyalah Brahman yang nyata. Keberadaan ketiga substansi ini merupakan pengaruh maya (khayalan duniawi), sehingga Sankara mengunakan maya sebagai penjelasan atas keadaan ini. Oleh karena itu monisme Sankara disebut sebagai Mayavada (paham berdasar khayalan).

Lalu muncul nama Ramanujacharya yang mengajarkan visistha-advaita (monisme beratribut). Beliau juga menerima bahwa ketiga substansi utama adalah kekal dan nyata adanya. Jiva dan jada merupakan atribut dari Brahman yang tunggal, mereka adalah manifestasi energi dan kemuliaan dari Brahman. Berikutnya kita mengenal dvaita-advaita (pluralisme monistik) dari Nimbarkacharya yang menerima perbedaan dan kemanunggalan antara ketiga substansi utama itu sebagai keadaan yang sebenarnya. Mereka berbeda, tetapi juga sama. Semua Acharya ini tampaknya merumuskan pemikiran dan pemahamannya dengan tetap melibatkan konsep advaita (kemanunggalan) atau abhedatva (ketiadaberbedaan).

Tetapi ada satu Acharya lagi yang mengambil posisi secara tegas menolak kemungkinan menunggalnya Tuhan dengan para makhluk hidup dan alam. Beliau adalah Srimad Madhvacharya atau Sri Ananda Tirtha. Isvara atau Brahman, jiva, dan jada adalah berbeda. Tidak pernah sekalipun ketiganya menjadi satu, mereka adalah substansi-substansi yang berbeda dan terpisah, dvaita. Sri Madhva dengan tegas mengatakan bahwa ketiganya adalah nyata dan benar (tattva), serta berbeda (bheda). Pahamnya yang berdasar atas kenyataan yang bersifat plural ini dikenal sebagai Tattvavada.

Brahma - Madhva

Sri Madhva merupakan Acharya yang menurun dalam garis silsilah rohani Brahma atau Brahma Sampradaya. Sebagai guru kerohanian utama dalam garis ini, maka kemudian dikenallah namanya menjadi Brahma-Madhva-Sampradaya. Selama ratusan tahun para guru dalam garis Brahma-Madhva mengembangkan pemahaman dvaita ini dan mengajarkannya ke seluruh India. Tetapi beberapa ratus tahun setelah Madhva muncul satu nama lagi yang memberikan konsep baru terhadap pluralisme dan monisme. Beliau adalah Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu dari Gauda (Bengala) yang mengajarkan acintya-bheda-abheda-tattva, persamaan dan perbedaan yang tak terpikirkan. Pemahaman yang unik ini menyatukan pandangan berbagai Acharya sebelumnya dan sebenarnya dapat mendamaikan kedua kutub yang bertentangan itu. Bheda-abheda sebelumnya sudah dikembangkan oleh Nimbarka, lalu apa perbedaannya? Hal ini tidak kita bahas di sini. Namun sisi yang menarik dari Sri Caitanya adalah keyakinan kuat para pengikut-Nya, bahwa mereka termasuk dalam garis spiritual Madhva.

Sri Madhva dan Sri Caitanya memiliki konsep ajaran yang tampak berbeda, dari namanya saja kita sudah lihat perbedaan itu. Kemudian adanya berbagai kejanggalan historis yang menjadi perdebatan para sarjana, yang meragukan kemungkinan kedua silsilah rohani yang berasal dari Sri Madhva dan Sri Caitanya saling berhubungan. Walau demikian dalam kenyataan, semua Acharya penerus Sri Caitanya berikutnya menyatakan hal ini. Para Gosvami, Kavikarnapura, Sri Baladeva Vidyabhusana, sampai Srila Bhaktivinoda Thakura, semua menyatakan bahwa Sri Caitanya melanjutkan garis silsilah rohani Madhvacharya dan tentu juga konsep yang diajarkannya, karena itu garis perguruan Sri Caitanya disebut Brahma-Madhva-Goudiya atau Madhva Bengala.

Perlu diperhatikan bahwa pengajaran Sri Caitanya dimaksudkan bukan hanya menjadi sekedar usaha rekonsiliasi dua paham yang berbeda atau sekedar menambah satu alternatif keinsafan ketuhanan yang baru, tetapi merupakan pengungkapan kebenaran secara menyeluruh tanpa menyisakan celah untuk dapat dipertentangkan lagi. Hal ini dicapai dengan satu kata kunci, yaitu acintya, tak dapat dipikirkan. Itulah kebenaran sejati, itulah tattva.

Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu

Acharya Madhva sudah mengungkapkan dan menyediakan semua karya-karya dasar yang sangat dibutuhkan oleh Sri Caitanya untuk dapat menghadirkan filsafat ketuhanan yang sempurna tanpa terganggu pemahaman yang bias. Sri Madhvacharya dan ajarannya merupakan dasar kokoh tempat dibangunnya seluruh pemahaman garis perguruan Sri Caitanya. Ada yang mengatakan setitik bheda, sekalipun tidak dipahami dengan baik, akan mengantarkan pada kesempurnaan bhakti, namun setitik abheda dapat mengantarkan ke jurang kejatuhan dan hancurnya bhakti. Seperti yang kita ketahui, Sri Madhva menolak sepenuhnya abheda. Namun di sisi lain abheda juga tidak dapat disangkal, sehingga Sri Caitanya kembali mengajarkannya dalam perguruan-Nya. Bagaimana caranya agar kebenaran ini dapat diterima dengan aman. Satu-satunya cara adalah kita memperlindungkan diri kepada Sri Madhva dan ajarannya. Bhakti adalah harta yang diberikan oleh Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu dan para Acharya kepada dunia. Harta ini harus dijaga, jangan sampai ternoda. Hanyalah Srimad Madhvacharya Bhagavatapada yang dapat melakukan ini dengan baik dan sempurna. Oleh karena itulah semua Goudiya Vaishnava yang sejati hendaknya menerima perlindungan kaki padma Sri Madhva dan para penerusnya, berdasarkan teladan yang diberikan oleh Sriman Mahaprabhu. Demikian konsep keterhubungan kedua tradisi ini sebagaimana dihayati oleh para penganutnya.

Srimad Sripadaraja Tirtha Swami adalah salah satu Acharya yang paling terkemuka dalam garis perguruan Madhva. Sumbangannya yang besar pada perkembangan dan penyebaran dvaita dan juga perannya dalam terbentuknya gerakan Sankirtana di daerah berbahasa Kannada yang kita kenal sebagai gerakan Haridasa, telah tercatat dalam sejarah.

Salah satu karya Srila Sripadaraja yang paling terkenal adalah Madhvanama. Ini merupakan sebuah puisi berbahasa Kannada yang memuliakan Mukhyaprana Vayudeva dalam tiga Inkarnasinya. Madhvanama mengikuti susunan dari Srimad Hari-vayu-stuti, disusun oleh Srila Sripadaraja bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Sanskrit atau tidak mampu melantunkan versi Sanskrit dari Vayustuti.

Sri Madhvanama karya Srimad Sripadaraja Tirtha ini merupakan kisah ringkas kehidupan Sri Madhva dalam bahasa Kannada. Sesungguhnya riwayat terperinci Sri Madhva telah ditulis oleh Narayana Panditacharya dalam bahasa Sanskrit sebagai Sri Su-madhva-vijaya. Karena sebagian orang juga tidak memiliki akses terhadap naskah Sanskrit tersebut, maka Srila Sripadaraja menyusun ringkasan berbahasa Kannada ini.

Perlu dicatat pula bahwa Srila Sripadaraja tidak saja menangkap dan menyampaikan intisari Sri Hari-vayu-stuti dan Sri Su-madhva-vijaya saja, namun juga menyertakan beberapa konsep kunci yang tidak begitu dikenal, berikut beberapa kejadian dari Srimad Ramayana dan Mahabharata. Kita juga harus ingat bahwa Srila Sripadaraja, sebagai seorang Inkarnasi Devata, merupakan aparoksha-jnani, yaitu seorang yang memiliki pengetahuan menembusi dimensi ruang dan waktu. Dia juga adalah seorang sarjana besar dan guru kerohanian dari Srila Vyasaraja yang luar biasa itu. Jadi uraiannya mengenai Sri Mukhyaprana dan tiga Inkarnasinya ini adalah jauh dari kesalahan maupun kelalaian. Seluruh uraian dalam tulisan ini adalah berdasarkan uraian yang telah sebelumnya beliau sampaikan dalam Sri Madhvanama. Kami telah menyertakan pula penjelasan lebih lanjut yang disampaikan dengan lebih terperinci dalam Sri Su-madhva-vijaya, Sri Mani Manjari, dan karya-karya langsung dari Srimadacharya Madhva sendiri seperti Mahabharata Tatparya Nirnaya, dsb.

Sri Madhva bagi para pengikutnya bukan sekedar seorang guru pembimbing biasa atau seorang besar yang mendirikan sekte tertentu. Beliau adalah seorang pribadi yang perannya begitu istimewa dalam perjalanan rohani setiap jiva. Melalui uraian ini kita akan menyaksikan gambaran Sri Madhva yang istimewa itu, kedudukan ontologisnya yang demikian penting dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna, dan yang paling utama adalah perannya dalam perjalanan para jiva mencapai kesempurnaan tertinggi.

Sehubungan dengan peranan Sri Madhva dalam Goudiya Vaishnava, kita juga dihadapkan pada beberapa persoalan. Tidakkah Goudiya merupakan salah satu garis perguruan Vaishnava yang paling pesat perkembangannya di jaman modern ini. Sepertinya dengan atau tanpa Sri Madhva, tidaklah memberi pengaruh pada penyebaran dan perkembangan Goudiya. Justru dengan adanya Srila A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, seorang Goudiya-acharya, nama Sri Madhva baru dikenal secara luas di seluruh dunia. Walau demikian, paling tidak bagi para Goudiya, adalah sangat penting untuk diyakini, bahwa doa-doa yang mereka sampaikan melalui rangkaian garis perguruannya akan sampai kepada Tuhan Sri Krishna melalui Sri Madhva. Mengapa Sri Madhva bisa demikian penting? Dengan membaca tulisan ini, dan nantinya tentu saja Sri Su-madhva-vijaya secara lengkap, kita akan memahami kemuliaan dan keistimewaan Srimad Madhvacharya Bhagavatapada. Diharapkan pula pertanyaan di kalangan para Goudiya akan dapat terjawab, yaitu mengapa Sri Caitanya Mahaprabhu harus memilih Brahma-Madhva sebagai basis perguruan-Nya dan mengapa mereka merasakan bahwa menjadi bagian dari keluarga Madhva sangatlah penting.

SRI MADHVA (1)


Terpesona oleh kemuliaan Srimadacharya yang tiada bandingannya, Sri Sri Purnaprajna Anandatirtha Madhvacharya Bhagavatapada yang agung, dan dengan dipenuhi rasa hormat serta cinta yang mendalam kepada kaki padmanya yang suci. Hamba seorang insan nan remeh, yang terlahir dalam silsilah para pelayan Sang Mempelai Pria nan Tampan, Yang Berbaring di tepian Kaveri, Penguasa Keanekawarnaan, Raja Segala Keindahan, walaupun tidak memiliki sedikitpun kemampuan maupun sifat-sifat baik seorang hamba Tuhan sejati, memaksakan dirinya menahan rasa malu, menulis rangkaian sejumlah kata-kata yang tak berharga, yang terlintas dalam pikirannya berkat kemurahan hati Srila Gurudeva, demi mengagungkan Srimadacharya yang termulia.

Setelah mendengarkan betapa besarnya belas kasih Srimadacharya, pula merasakannya, sebagaimana tercurah dalam silsilah perguruannya yang terluhur, sumber keselamatan dan sukacita bagi seluruh alam semesta. Siapakah yang akan tahan untuk tidak membuka mulutnya memuji beliau? Bila keagungannya dinyanyikan di surga oleh para Gandharva, di bumi oleh para pujangga suci dan batu-batu pun akan meleleh bila mendengarnya, apalah halangannya bagi hamba untuk turut bersukacita memuji beliau bersama-sama dunia?

Satu-satunya kualifikasi yang ada pada hamba adalah kemauan. Oleh karenanya Sri Jagannatha Rangaraja dan Srila Gurudeva telah berbelas kasih menempatkan hamba dalam pelayanan menyebarluaskan keagungan para Vaishnava, sekalipun kata-kata, tulisan, dan pikiran hamba tiada berharga. Maka tidak ada cara lain bagi hamba untuk membalas kasih Srila Gurudeva selain dengan meneruskan pelayanan ini sampai akhir segalanya. Adalah beliau, permata para Vaishnava yang muncul di Tanah Permata nun jauh di Timur Laut, yang telah memerintahkan hamba untuk menguraikan kemuliaan Srimadacharya. Dengan menjunjung perintah beliau di atas kepala dan menyandarkan diri pada karya-karya suci serta petunjuk para Acharya terdahulu, kini hamba mempersembahkan uraian ini kepada kaki padma semua Vaishnava.

Sri Narayana Panditacharya yang mulia, penulis Sri-sumadhva-vijaya dan berbagai karya agung lainnya menyebut dirinya sebagai manda-buddhe, orang dengan kecerdasan tumpul, dan mengatakan bahwa hanyalah Devata seperti Rudra dan Sesha saja yang mampu menguraikan keagungan Sri Madhvacharya dengan baik. Namun dengan belas kasihnya kepada segenap makhluk, beliau telah memberkati dunia dengan kitab karyanya, yang membuka rahasia ajaibnya kisah kehidupan Srimadacharya kepada dunia dan memberikan kesejahteraan, kemujuran, serta kesukacitaan bagi semuanya. Sungguh sebenarnya beliau adalah seorang sempurna dan yang mahatahu, sehingga apapun yang beliau katakan adalah bebas dari kesalahan dan cacat cela. Begitu pula Srila Sripadaraja yang di kemudian hari melihat ketidakmampuan orang kebanyakan untuk mempelajari, membaca, maupun menuliskan Sri Su-madhva-vijaya, maka beliau menyusun Sri Madhvanama agar semua orang dapat bersukacita memuliakan Srimadacharya kita.

Tetapi hamba hanyalah debu di kaki beliau, yang berusaha melayani dengan menuruti jejak langkah beliau semua, mengungkapkan kembali apa yang telah beliau ungkapkan. Semoga beliau senantiasa berkenan menjaga hamba dari kesalahan menuliskan sesuatu yang tidak mengandung kebenaran dan tidak berkenan bagi Sri Hari, Vayu, Guru, dan para Vaishnava.
Tulisan ini terwujud bukan oleh diri hamba, melainkan semata-mata berkat belas kasih Srila Gurudeva dan cahaya kemuliaan Srimadacharya. Siapakah diri hamba ini? Adalah Sriman Narayana Sendiri yang memuliakan hamba-Nya yang terkasih itu. Hamba hanyalah sebuah pena di Tangan-Nya. Apabila dengan membaca uraian ini, sedikit saja kecintaan kepada Sri Kula-guru-raya Madhvacharya tumbuh di hatinya, maka hamba merasa pelayanan ini sudah berguna. Semoga Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna menjadi puas dengan persembahan ini.

Kamis, 23 September 2010

ORANG SUCI YANG TIADA BANDINGANNYA DARI MANTRALAYA

Sri Gururaja Raghavendra Svami

Seorang karmaja devata yang membantu Deva Brahma dalam pemujaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa bernama Sankukarna, turun ke dunia untuk melayani Tuhan Sri Mahavishnu dalam rupa Beliau sebagai Nrisimhadeva. Itulah penyembah agung Prahlada, yang demi dirinya Tuhan muncul dari sebuah pilar yang terbelah. Pada saat Tuhan turun sebagai Sri Krishna, Prahlada juga lahir kembali untuk melayani sebagai raja Bahlika. Raja Bahlika mengetahui bahwa Pandava Bhimasena memiliki cinta dan pengabdian yang begitu dalam kepada Tuhan Sri Krishna. Bhima bersedia dan mampu melakukan pekerjaan yang paling berat sekalipun demi kepuasan Sri Krishna, karena itu beliau juga dikenal sebagai Vrikodhara. Bahlika menginginkan agar Bhimalah yang akan mengakhiri kehidupannya saat ini, agar kelak dia dapat turun kembali sebagai hamba dari Bhimasena, kapanpun beliau akan turun lagi ke bumi ini. Setelah diperintahkan oleh Krishna, Bhima bersedia mengakhiri hidup Bahlikaraja dengan hantaman gada ringan di badannya. Maka Bahlika meninggalkan badannya sambil memandang Tuhan Sri Krishna dan tuannya yaitu Bhimasena, dengan hati penuh cinta dan pengabdian.

Pada jaman Kali, demi menegakkan dharma sejati, Bhimasena turun kembali ke bumi atas perintah Tuhan Sri Krishna sebagai Srimad Madhvacharya Bhagavatapada. Bahlikaraja sesuai dengan permohonannya dalam kehidupan terdahulu turun pula sebagai Sri Vyasa Tirtha atau Sripada Vyasaraja. Beliau membawa kemuliaan ajaran Srimadacharya Madhva tersebar ke mana-mana. Beliau juga menjadi guru kerohanian dari Maharaja Krishnadevaraya, penguasa Vijayanagara, kerajaan Hindu terbesar di abad pertengahan yang melindungi peradaban Veda selama beberapa abad. Guru Vyasaraja kemudian diyakini turun kembali sebagai Sripada Raghavendra Tirtha Svami.

Keruntuhan kerajaan Vijayanagara membawa dampak yang sangat besar bagi para sarjana Veda yang tergantung pada perlindungan para bangsawan. Mereka kemudian berpindah ke India Selatan bersama sanak keluarganya, dan mendapatkan perlindungan dari para raja dan panglima-panglima di India Selatan. Salah satu dari mereka adalah Thimanna Bhatta yang menurun dalam garis silsilah garis keluarga Maharishi Gautama dan menikahi Gopikamba yang juga berasal dari keluarga brahmana. Pada awalnya pasangan suami istri ini hanya memiliki dua putra, Gururaja dan Venkatamba. Kemudian pada tahun 1595, atas kemurahan hati Tuhan Sri Venkateshwara Svami yang dipuja di Thirupathi, seorang putra lahir lagi. Mereka memberinya nama Venkatanatha, seperti nama Tuhan yang bertahta di Thirupathi. Venkatanatha inilah yang kelak menjadi Guru Raghavendra atau Sri Rayaru.

Ilustrasi beberapa kejadian dalam hidup Sri Rayaru

Venkatanatha menikah dengan Sarasvati yang segera menjadi pasangan suami istri brahmana yang amat saleh. Venkatanatha termashyur akan kesarjanaan, kepandaian, dan kekuatan keberhasilan mantranya. Mereka hidup berbahagia sekalipun penuh kemiskinan.

Sripada Sudhindra Tirtha Svami, penerus silsilah rohani dari Sripada Vyasaraja, memahami potensi rohani dan keagungan Venkatanatha. Beliau mendekati dan menjadikannya murid, yang juga menjadi kesayangannya. Sripada Sudhindra Tirtha menginginkan Venkatanatha meninggalkan hidup berkeluarga, menempuh jalan pelepasan ikatan, mengabdi sepenuhnya kepada ajaran suci Srimadacharya (Madhvacharya) dan silsilah rohaninya. Venkatanatha menjadi ragu antara rasa hormat dan patuhnya terhadap guru dengan peranannya sebagai seorang kepala rumah tangga yang harus menghidupi istri dan anak. Di tengah kebimbangannya Devi Ilmu Pengetahuan, Ibu Vidya Sarasvati, menampakkan diri dan memerintahkannya segera menempuh kehidupan membiara sebagai seorang pertapa sannyasi dan memberkati dunia dengan ajaran agung Srimadacharya serta melanjutkan garis silsilah rohaninya. Ibu Vidya Sarasvati bersabda,

“Setelah merasakan nikmatnya berpesta dengan karya-karya suci penuh kesarjanaan dari Srimadacharya Madhva, Sri Jaya Tirtha, Sri Vyasa Tirtha, Sri Vadiraja, dan yang lainnya, sekarang aku kelaparan lagi. Cahaya gemilang kebenaran Tattvavada yang telah dipancarkan oleh Srimadacharyamu terkasih akan dipadamkan oleh kegelapan ajaran-ajaran lain. Untuk mencegah terjadinya hal ini, jiwa mulia seperti dirimu haruslah melepaskan ikatan duniawi dan mempersembahkan hidupmu kepada Hari (Tuhan) dan Vayu (Deva Angin, pelindung ajaran suci). Inilah tugas dan takdirmu. Engkau adalah roh yang agung, ditakdirkan untuk memberikan penghiburan dan keselamatan bagi berjuta-juta orang yang membutuhkan. Terimalah permintaan Sudhindra Tirtha dan jadilah sannyasi. Engkau adalah kekasih Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari dan inilah yang Dia inginkan darimu.”

"Engkau adalah kekasih Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari"

Akirnya pada tahun 1621 setelah minta diri dari istrinya tercinta, Venkatanatha menghadap Sripada Sudhindra Tirtha di biaranya, memohon pentahbisan memasuki hidup kerahiban. Pada hari ketika Venkatanatha akan mendapatkan diksa sannyasi, inisiasi hidup kerahibannya, Sarasvati, istrinya merasa sangat sedih dan memutuskan untuk menemui suaminya untuk terakhir kali sebelum dirinya samasekali tidak boleh lagi berhubungan dengannya. Sarasvati berlari dari rumahnya menembus hujan badai. Di tengah perjalanan dia tidak melihat ada sebuah sumur tua dan terjatuh ke dalamnya. Kecelakaan ini menyebabkannya mati sebelum waktunya sehingga akhirnya Sarasvati menjadi hantu. Tetapi bahkan dalam bentuk hantu keinginannya adalah tetap untuk dapat melihat wajah suaminya untuk terakhir kali. Begitu hantu Sarasvati tiba di biara, Venkatanatha telah selesai ditahbiskan ke dalam hidup kerahiban. Dia telah mengenakan busana sannyasi dan memiliki ashramanama Sripada Raghavendra Tirtha Svami. Sesuai perintah Devi Vidya Sarasvati dan Tuhan Sendiri, beliau menyediakan dirinya menjadi satu-satunya tempat perlindungan dan penghiburan bagi mereka yang bersusah hati, peristirahatan terakhir bagi mereka yang tak punya harapan lagi, satu-satunya ruang sidang yang menjamin bersedia mendengarkan segala pengaduan dengan kesabaran dan pengertian, samudera belas kasih yang tak akan menolak ratapan meminta tolong dari siapapun juga.

Dengan kekuatan spiritualnya, Sripada Raghavendra Tirtha Svami yang juga dikenal sebagai Sri Rayaru, merasakan kehadiran Sarasvati, mantan istrinya, walaupun sebagai hantu tak dapat dilihat oleh orang lain. Dengan penuh belas kasih Sri Rayaru kemudian memercikkan air dari kamandala (tempat air suci)nya ke arah Sarasvati dan membebaskannya segera dari tubuh hantunya, bahkan segera mencapai moksha, pembebasan dari perputaran kelahiran dan kematian.

Pada tahun 1623 Sudhindra Tirtha kembali ke dunia rohani dan Sri Rayaru diangkat menduduki tahta suci Vyasaraja Math, menggantikan gurunya meneruskan silsilah rohani Srimadacharya. Sri Rayaru memulai pengabdiannya dengan mengajarkan dan mengulas karya-karya agung para Acharya pendahulu. Kemudian beliau mengadakan perjalanan ziarah berkeliling negeri. Selama perjalanan ziarahnya ini Sri Rayaru melakukan berbagai mukjizat dan keajaiban seperti menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati.

Pada saat mendekati akhir kehidupannya di dunia tiga orang ahli nujum yang paling ahli dan terkenal sangat tepat meramalkan usia kehidupan Sri Rayaru. Ketiganya mendapatkan waktu yang berbeda-beda, 100-300-700! Ketiganya sangat yakin akan ketepatan perhitungan ini. Ketika Sri Rayaru diberitahu mengenai hal ini beliau tersenyum dan mengatakan bahwa semuanya benar. “Mereka meramalkan tiga jenis kehidupanku. Satu meramalkan lamanya aku hadir dalam tubuh ini, yang kedua meramalkan kehadiran fisikku dalam stupa brindavana-samadhi, dan yang ketiga adalah pengaruh dari granthaku, ajaran-ajaran suciku!”

Suatu ketika Sri Rayaru mengutarakan maksudnya untuk memasuki makam stupa brindavana-samadhi hidup-hidup. Para pengikutnya terkejut dan sedih, tetapi beliau mengatakan inilah kehendak Tuhan agar beliau dapat membantu semua orang yang membutuhkan. Ketika semua bertanya kapan ini akan terjadi, Sri Rayaru mengatakan waktunya akan segera diungkapkan. Setelah ketidakhadiran fisiknya, maka Sri Rayaru akan tetap hadir di dunia selama 1000 tahun dalam tubuh kesempurnaan yang tak lapuk oleh waktu dan akan terus-menerus membantu siapapun yang berdoa kepada beliau.

Pada saat Sri Rayaru bersama murid-murid tengah mendiskusikan kitab suci, tiba-tiba Sri Rayaru berdiri dan mencakupkan tangan dengan hormat. Tak seberapa lama seuntai kalungan bunga dan daun tulasi tampak melingkari lehernya. Ketika para murid bertanya apa yang sedang terjadi, Sri Rayaru menjawab, “Tadi aku baru saja melihat Krishna Dvaipayana, Maharishi Vyasa yang agung mengendarai kereta menuju Kediaman Tertinggi Tuhan. Aku bertanya kapan giliranku akan tiba dan beliau menegakkan jari tengah dan telunjuknya tiga kali, 2-2-2. Aku memiliki waktu 2 tahun, 2 bulan, dan 2 hari lagi sebelum memasuki samadhi-brindavana.” Menurut perhitungan itu adalah Virodhikruth Samvatsara, Shravana krishnapaksa dvitiya (hari kedua paruh bulan gelap tahun Hindu Virodhikruth).

Sri Rayaru memilih desa Manchale sebagai tempat makamnya. Di tempat inilah Rayaru dalam penjelmaannya dahulu sebagai Prahlada melaksanakan pertapaan dan yajna. Beliau juga menunjuk sebongkah batu hitam yang dipilihnya sebagai bahan untuk membangun makamnya. “Ketika dahulu Tuhan Sri Rama mencari Sita, Beliau datang ke tempat ini dan beristirahat sejenak. Inilah dahulu batu tempat Beliau bersandar. Karena ini telah disucikan oleh sentuhan Tuhan, hanya inilah yang kuinginkan untuk membangun makam brindavanaku.”

Pada saat yang telah ditentukan, Sri Rayaru melaksanakan tugas pemujaannya sehari-hari, kemudian membagikan tirtha, prasada, dan mantrakshata kepada semua yang hadir. Beliau lalu menyampaikan ajaran-ajarannya yang terakhir. Jari-jemarinya memutar untaian japamala, mengucapkan nama suci Tuhan. Di hadapannya semua sastra suci ditempatkan. Beliau lalu mengambil vina dan memetik senarnya. Beliau menyanyikan lagu pujian yang terkenal INDU ENEGE GOVINDA dan mengakhirinya dengan "Dheera Venugopaala Bhaara Kaaniso Hariye". Arca Tuhan Sri Bala Gopala (Kanak-kanak Krishna), dengan ajaib menari mengikuti alunan musik dan lagu penyembahnya ini. Perlahan-lahan beliau memasuki keadaan samadhi yang khusuk sambil mengucapkan aksara suci OM. Gerakannya terhenti, napasnya juga terhenti. Tubuhnya bercahaya gilang-gemilang, wajahnya penuh kedamaian. Murid-murid segera memulai menyusun batu-batu di sekitar tubuh sucinya, membentuk makam samadhi-brindavan bagi Sri Rayaru.

makam/stupa Brindavana Sri Gururaja di Mantralaya

Appanacharya adalah murid kesayangan Sri Rayaru. Pada hari ketika Sri Rayaru memasuki brindavana-samadhi, beliau tengah berada di seberang sungai Tungabhadra yang lain karena dia melupakan gurunya akan memasuki samadhi hari itu. Begitu ingat, dia segera berlari ke arah Manchale. Sambil berlari dia menggubah Sri Raghavendra Stotra yang termashyur itu. Kekuatan kerinduan dan bhaktinya pada Sri Rayaru begitu besar sehingga aliran sungai Tungabhadra yang sedang banjir saat itu terbelah, memberi jalan kepada Appanacharya. Sayang, sekalipun demikian dia terlambat tiba di tempat itu. Bongkah batu terakhir telah ditempatkan menutupi Acharyanya. Dalam kesedihan Appanacharya tak mampu melanjutkan Stotra bait terakhirnya, “kirtir divijita vibhutiratula.....” Tiba-tiba terdengar suara bergema dari dalam makam samadhi, “sakshi haya syo’tra hi” (Tuhan Hayagriva, Asal Muasal Segala Ilmu akan menjadi saksi segala pernyataan Appanacharya dalam stotranya dan membuat segalanya menjadi kenyataan). Hingga saat ini, siapapun yang mengucapkan Sri Raghavendra Stotra dengan keyakinan dan bhakti akan mendapat karunia Sri Rayaru.

OM SRI RAGHAVENDRAYA NAMAH

Rabu, 17 Maret 2010

VAISHNAVA JAN TO DAN NARSINH MEHTA

VAISHNAV JAN TO

1.
VAISHNAV JAN TO TENE KAHIYE JE PEED PARAAEE JANE RE ...
Vaishnava sejatilah dia, yang memahami derita orang lain dan merasakannya sebagai dukacitanya sendiri.
PAR DUKKHE UPAKAR KARE TOYE, MAN ABHIMAN NA AANE RE ...
Selalu bersedia melayani mereka yang sengasara, tanpa membiarkan kebanggaan bertumbuh dalam batinnya

2.
SAKAL LOK MAAN SAHUNE VANDE, NINDAA NE KARE KENI RE ...
Bersujud dengan rendah hati pada setiap orang. Tanpa pernah mencari kesalahan atau memperhatikan kekurangan mereka.
VAACH-KAACCH-MAN NISCHAL RAAKHE, DHAN-DHAN JANANI TENI RE ..
Dia menjaga ucapan, perbuatan, dan pikirannya senantiasa suci murni. Terberkatilah ibu yang memiliki seorang putra demikian.

3.
SAM-DRUSHTI NE TRISHNAA TYAAGI, PARASTREE JENE MAAT RE ...
Memandang semuanya dengan kesetaraan. Dirinya telah terlepas dari belenggu nafsu, memperlakukan setiap wanita sebagaimana ibunya sendiri.
IHVAA THAKE, ASATYA NA BOLE, PAR-DHAN NAVA JHAALE HAATH RE ...
Dusta tak terucap oleh lidahnya, niat memiliki harta orang lain tidak menodainya.

4.
MOH-MAAYAA VYAAPE NAHIN JENE, DRADH VAIRAGYA JENA MANMAA RE ...
Ikatan duniawi yang mengkhayalkan tidak membelenggunya. Batin sepenuhnya terpancang kuat dalam ketidakterikatan sejati.
RAAM-NAAM SHU TAALE LAAGI, SAKAL TEERATH TENA TANMAA RE ...
Setiap saat khusuk dalam melantunkan Nama Suci Sri Rama. Segala tempat perziarahan suci hadir di tubuhnya.

5.
VANA LOBHI NE KAPAT RAHIT CHHE, KAAM KRODH NIVAARYA RE ...
Keserakahan, rasa iri-dengki, nafsu birahi, dan amarah telah ditaklukkannya.
BHANE NARSAIYYON TENO DARSHAN KARTAUN, KUL EKOTER TARYA RE ...
“Hanya dengan melihat seorang Vaishnava demikian, dua puluh satu generasi keluarga terselamatkan dari samsara!”, seru Narsinh

Narsinh Mehta, juga dikenal sebagai Narsi Mehta atau Narsi Bhagat (1414 -1481) adalah seorang suci penyait dari Gujarat, India, termashyur sebagai seorang bhakta dan tokoh dalam dunia sastra kebaktian Hindu. Beliau terutama dihormati di Negara bagian Gujarat, dimuliakan sebagai Adi Kavi, Sang Pujangga Perdana. Lagu Bhajan gubahannya, “Vaishnava Jana To Tene Re Kahiye…” adalah kesukaan Mahatma Gandhi dan menjadi identik dengannya.

Keterangan pasti tentang riwayat hidup Narsinh Mehta tidak tersedia. Berdasarkan penelusuran melalui sejarah dan sastra, Narsinh dipastikan lahir di Talaja, Distrik Bhasnagar, Saurasthra, dalam komunitas Nagar. Beliau ditinggal mati oleh ibunya saat masih anak-anak (sekitar tahun 1425). Narsinh menikahi Manekbai kira-kira pada tahun 1428 dan segera setlahnya, beliau kehilangan seorang paman yang telah membesarkannya. Narsinh dan istrinya lalu pindah tinggal di tempat sepupunya sendiri, Bansidhar, di Junagadh. Namun tampaknya istri sepupunya itu tidak menyambutnya dengan baik. Wanita ini seorang yang bertabiat buruk, selalu mengganggu dan mengejek pemujaan yang dilakukan oleh Narsinh pada Tuhan. Sampai suatu ketika Narsinh sudah tidak tahan lagi dengan semua perlakuan itu dan memutuskan meninggalkan rumah, mengasingkan diri di sebuah hutan di dekat sana. Demi mencari kedamaian beliau duduk di sisi sebuah Siva-linga, berpuasa dan bermeditasi selama tujuh hari, sampai kemudian Siva sendiri menampakkan diri menjumpainya. Atas permohonan sang pujangga, Siva membawanya ke Vrindavan dan menunjukkan kepadanya Rasa-lila kekal yang dilangsungkan oleh Tuhan Sri Krishna bersama para gopi, gadis-gadis gembala dari Vrindavan. Legenda menyatakan bahwa saat itu Narsinh begitu terpukau memandang keindahan Tuhan dan kegiatan sukacita-Nya yang mempesona, sehingga tangannya terbakar obor yang mulai habis tanpa dia sendiri menyadari rasa panas atau sakitnya. Narsinh, sebagaimana diyakini oleh masyarakat, lalu memutuskan untuk menyanyikan puji-pujian kepada-Nya dan melukiskan manisnya pengalaman akan rasa sukacita rohani kepada dunia kita ini, atas perintah dari Sri Krishna. Hasilnya, 22.000 puisi kirtana mampu digubahnya.

Setelah pengalaman batin ini, Narsinh yang telah mengalami transformasi diri lalu kembali ke desanya, menyentuh kaki ipar perempuan yang sering menyiksanya itu, dan berterimakasih atas semua perlakuan yang telah ia berikan selama ini. Perlakuan buruk itu telah menjadi pemicu bagi pengalaman rohaninya.

Di Junagadh, Narsinh tetap hidup dalam kemiskinan bersama istrinya dan dua anak, seorang putra bernama Shamaldas, dan seorang putri yang memperoleh kasih sayangnya yang istimewa, Kunwarbai. Dia mencurahkan isi hatinya dalam manisnya Bhakti tanpa membedakan status maupun jenis kelamin, bersama para sadhu, orang-orang suci, dan masyarakat dari lapisan terbawah yang paling malang, rakyat yang hanya memiliki Tuhan sebagai pelindung satu-satunya, para Harijan. Narsinh juga terjebak oleh jatuhnya reputasi dan nama baiknya karena pergaulannya dengan para pengikut perempuannya, yang turut menyanyi dan menari-nari bersama beliau. Kaum Nagar yang terhormat dari Junagadh tak henti-hentinya memaki dan mengucilkannya. Saat itu, Narsinh telah menyanyikan lagu-lagu tentang Rasalila antara Radha dan Krishna. Gubahannya ini termasuk dalam karya-karya Shringara (percintaan erotis). Mereka yang tidak memiliki kepantasan rohani selalu salah paham dengan bentuk-bentuk uraian semacam ini dan menyamakannya dengan karya sastra erotis yang biasa. Bentuk karya Shringara yang bersifat rohani dibedakan dari karya-karya klasik bertema percintaan yang lumrah dari India abad pertengahan lainnya.

Tak lama setelah pernikahan putrinya, Kunwarbai, dengan putra dari Sringara Mehta, Kunwarbai pun mengandung dan menjadi adat bagi orangtua pihak wanita untuk memberikan hadiah kepada para menantu laki-lakinya saat istri mereka hamil tujuh bulan. Adat ini disebut Mameru, tentu saja berada di luar jangkauan kemampuan ekonomi Narsinh yang miskin, yang hampir tidak punya sesuatupun yang berharga selain keyakinannya yang tak tergoyahkan kepada Tuhan.

Bagaimana akhirnya Tuhan Sendiri turun tangan untuk membantunya, dilukiskan oleh Narsinh dalam lagu ”Mameru Na Pado”. Kisah ini tergambar jelas dalam benak setiap orang Gujarati sampai jauh setelah masa hidupnya, ditandai oleh banyaknya puisi-puisi dan film-film yang mengisahkannya. Kisah lainnya adalah ketika Shamalsha Seth (Si Hitam yang berperan sebagai Seth. Si Hitam adalah julukan akrab untuk Krishna dan Seth artinya tuan kaya) menghapuskan isi surat utang yang ditandatangani oleh pemuja-Nya yang miskin ini. Kejadian lain dikenal sebagai ”Har Mala”. Ra Mandlik (1451 - 1472) seorang penguasa setempat dan bawahan Sultan Delhi menantang Narsinh untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah dalam sebuah kasus pelanggaran moral dan membuat Sri Krishna Sendiri hadir mengalungkan untaian bunga di lehernya. Sri Krishna juga hadir dalam wujud seorang saudagar kaya dan membantu pernikahan putranya. Narsinh mengenang bantuan ini dalam puisi “Putra Vivah Na Pado”.

Mahmud Begada (Mahmud Shah I, 1458 – 1511), menduduki Junagadh pada tahun 1467 dan tak lama setelah penyerbuan oleh kaum Muslim di sana sini, kota tersebut akhirnya dimasukkan dalam wilayah Kesultanan Gujarat. Mungkin untuk menghindari akibat-akibat yang tidak diinginkan, Narsinh pindah ke Mangrol, dan diyakini meninggal di sana pada usia 66 tahun. Crematorium yang terdapat di Mangrol disebut “Narsinh Nu Samshan”, kemungkinan merupakan tempat dilangsungkannya upacara terakhir bagi putra Gujarat yang teragung ini. Beliau akan selalu diingat melalui karya-karyanya yang dibaktikan demi Tuhan. Beliau termashyur sebagai pujangga yang paling awal dari Gujarat.

Salah satu ciri unik karya-karya Narsinh adalah saat ini hampir tidak ada yang tersedia dalam bahasa yang digunakan oleh Narsinh sendiri saat menggubahnya. Ini menandakan bahwa karyanya demikian tersebar luas melalui tradisi oral dan tetap dilestarikan seperti itu. Naskah tertua dari karyanya yang masih dapat ditemukan berasal dari sekitar tahun 1612, ditemukan dari Gujarat Vidyasabha oleh cendikiawan yang terkenal, K.K. Shastri. Karena sangat populernya karya-karya Narsinh, maka seiring berjalannya waktu, bahasa yang digunakan turut berubah. Untuk mudahnya, hasil gubahan Narsinh Mehta dapat digolongkan menjadi:

1. Karya yang bersifat autobiografi: Putra Vivah, Mameru, Hundi, Har Same Na Pado, Jhari Na Pado, dan karya-karya yang berhubungan dengan penerimaan para Harijan. Karya-karya ini berkaitan dengan berbagai peristiwa dalam kehidupan sang pujangga dan mengungkapkan bagaimana beliau berjumpa dengan Yang Illahi dalam berbagai rupa. Mereka menguraikan keajaiban dan mukjizat, bagaimana Tuhan dari Narsinh, turut campur tangan membantu hamba-Nya ini melalui masa-masa tersulitnya.
2. Bermacam-macam uraian peristiwa yang berdasarkan atas Srimad Bhagavatam, misalnya:
Chaturi: 52 syair yang menyerupai karya agung Jaideo (Jayadeva), Sri Gita Govinda, mengisahkan berbagai kegiatan percintaan Radha dan Krishna.
Dana Lila: mengisahkan peristiwa saat Krishna menjadi pemungut pajak dari para gadis gembala yang akan menjual mentega ke Mathura.
Sudama Charita: mengisahkan salah satu peristiwa paling terkenal yaitu riwayat brahmana miskin Sudama yang menjadi kawan baik Krishna.
Govinda Gamana: mengisahkan kepergian Krishna ke Mathura setelah dijemput oleh Akrura.
Surata Sangrama: artinya Peperangan Cinta, mengisahkan permainan kasih Radha dan Krishna dalam bentuk perang tanding antara Radha bersama teman-teman-Nya di satu sisi dan Krishna beserta kawan-kawan-Nya sebagai lawan.
Kejadian-kejadian lain dari Bhagavata seperti kelahiran Krishna, permainan-Nya saat anak-anak, canda ria-Nya, dan berbagai petualangan-Nya yang lain.
3. Lagu-lagu yang bertema Shringar: ratusan syair yang menggambarkan dan bertema petualangan cinta yang bersifat erotis seperti Tarian Rasa.