Tampilkan postingan dengan label thirumalisai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thirumalisai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Desember 2009

INTISARI PENGABDIAN DAN CINTAKASIH (2)

Thirumalisai-alvar

Dikatakan bahwa sesungguhnya Thirumalisai-alvar adalah putra dari Bhargava Munivara dengan Devi Kanakaangi. Namun ketika dilahirkan dia hanya berupa gumpalan tanpa tanda-tanda kehidupan sehingga diabaikan oleh kedua orangtuanya pada rumpun bambu di Malisai-thirunagari, yang dianggap sebagai tempat kelahiran Sang Alvar. Dengan begitu dia dikenal sebagai Alvar dari Malisai atau Thirumalisai Alvar. Bhagavan Sri Narayana kemudian berbelas kasih memberi gumpalan itu kekuatan kehidupan dan akhirnya berkembang menjadi seorang bayi manusia sempurna. Bumi merawatnya dengan energi alamiah yang memancar dari pangkuannya. Bayi ajaib itu mulai menangis, tetapi di tempat seperti itu siapakah yang bisa mendengarnya? Maka Tuhan Sendiri datang ke sana mengelus kepalanya, dan menyatakan bahwa mulai saat itu dia akan hidup tanpa merasa lapar maupun haus. Perlahan-lahan dia membuka matanya, maka yang pertama dilihatnya adalah Rupa menakjubkan dari Sang Penguasa Tertinggi seluruh alam semesta. Setelah beberapa saat bersamanya, Tuhan kemudian menghilang. Bayi itu kembali menangis, namun kali ini bukan karena lapar, tetapi karena rasa sedih berpisah dengan yang paling dicintainya.

Bayi itu kemudian dipungut dan dibesarkan oleh sebuah keluarga yang berkelahiran rendah, keluarga seorang tukang kayu yang istrinya mandul. Mengenai hal ini Thirumalisai Alvar mengatakan dalam Thirucchanda-viruththam, ”kulanga-laaya eerirandil onrilum pirandhilen, diriku tak dilahirkan dalam keempat golongan (varna)”. Begitu melihat sang bayi, air susu segera mengalir dari payudara istri tukang kayu itu, karena kasih sayang dan cintanya yang begitu besar. Walau demikian dia sama sekali tidak mau meminum susu, karena makanannya kini hanyalah karunia Bhagavan Sriman Narayana secara langsung. Tanpa makanan dia tumbuh besar dengan normal dan sehat. Sekalipun Alvar menunjukkan keajaiban yang tak biasa, tetapi karena Alvar dianggap berasal dari keluarga rendah, golongan brahmana sering gagal memahami kesuciannya. Di Malisai dia hampir saja dihinakan oleh anggota masyarakat brahmana sehingga membuat Bhagavan Sri Narayana Sendiri menampakkan Diri-Nya pada tubuh Alvar dengan membawa sankha dan cakra.

Suatu ketika pernah sekelompok brahmin sedang melafalkan mantra-mantra Veda. Tepat saat itu datanglah Alvar ke tempat mereka. Para brahmin yang melihat orang tak berkasta segera menghentikan pelafalan Vedanya. Alvar menyadari hal ini dan segera menyingkir dari tempat itu. Namun akibat kesalahan ini, para brahmin tidak mampu lagi melanjutkan pelafalan Vedanya karena mereka lupa tempat-nya berhenti. Dari kejauhan Alvar melihat keadaan itu. Sang Alvar kemudian memberikan pertanda dan membantu mereka melanjutkan dari bagian mantra yang tepat. Thirumalisai Alvar kemudian bercahaya gemilang sehingga para brahmana menjadi malu melihatnya. Swami Sri Vedanta Desika mengingat kejadian ini dengan memberi gelar “malisai vanda jothi (Cahaya Gemilang dari Malisai)” kepada Sang Alvar.

Alvar menerima atribut Sri Vaishnava dari guru kerohaniannya yang bernama Pey Alvar. Thirumalisai juga memiliki seorang siswa yang bernama Kanikannar. Kannikan-nar memiliki siddhi yang dapat merubah seorang wanita tua menjadi gadis belia. Berita ini didengar oleh Raja Pallavadeva-raya, yang kemudian memerintahkan Kanikannar untuk merubah Sang Raja menjadi lebih muda. Kanikannar menolaknya.

Akibat dari penolakan ini Raja mengusir Kanikannar dari wilayah kerajaannya. Alvar tidak ingin berpisah dengan siswanya. Dia kemudian bersiap untuk pergi bersama Kanikannar. Sebelumnya Alvar pergi ke kuil dan berkata kepada Tuhan, ”Saya akan pergi bersama Kanikannar, lipatlah tilam gulungan naga-Mu dan ikutlah bersama saya!”. Tuhan segera bangkit dan melipat naga sayana-Nya, lalu berjalan di belakang Alvar. Bersama dengan kepergian mereka bertiga, kegelapan yang mengerikan meliputi seluruh wilayah kerajaan. Raja terkejut melihat keajaiban ini. Dia segera memohon maaf dan memohon ketiganya untuk kembali ke Kanchipuram. Sejak saat itu Arca Bhagavan dikenal sebagai “Sonna vannam seydha perumaal” atau Yathoktakari-deva (Tuhan yang mematuhi perintah).

Dikisahkan Alvar pernah pergi berziarah ke Kumbakonam tempat pemujaan Thirukkudandai Aravamudan (Tuhan Sri Sarangapani). Dengan susah payah dia mencapai divyadesa ini, sungguh payah dan kelelahan. Ketika Alvar memasuki kuil, upacara thirumanjanam (abhiseka-ritual permandian suci) Tuhan Sarangapani tengah berlangsung. Demi melihat penyembah kesayangan-Nya, Tuhan segera menghentikan upacara permandian dan memerintahkan pendeta membawa “amudhu” (naivedya/makanan persembahan) kepada Alvar. Peristiwa ini dikenang sampai saat ini dengan mempersembahkan thaligai (bhoga) kepada Alvar sannidhi sebelum dihaturkan kepada Tuhan Sendiri. Pada saat Alvar datang mengunjungi-Nya, Tuhan Aravamudan dalam Rupa Arcavatara-Nya menoleh ke arah Alvar. Alvar begitu terharu melihat hal ini sehingga dia menyanyikan kidung sucinya yang disebut Nanmugan Thiruvantadi dan Thiruc-chanda-viruttham. Dalam salah satu baitnya Alvar menyanyi, “Hamba ingin melihat-Mu bangkit dan berbicara!” Keajaiban terjadi, Arca Tuhan Aravamudan bangkit dari tilam gulungan Adisesha-Nya. Thirumalisai Alvar segera menghentikannya, “Maafkan diriku Tuhan, kembalilah berbaring dengan tenang.” Namun Arca Tuhan Aravamudan tetap dalam posisi-Nya, setengah berbaring dan setengah bangkit, untuk mengenang kemuliaan hamba-Nya terkasih. Sampai saat ini kita masih dapat melihat Arca Tuhan yang unik ini di Kuil-Nya, di Kumbakonam.

Sri Sudarsana

Thirumalisai Alvar diyakini merupakan inkarnasi dari Sri Sudarsana, senjata cakra yang senantiasa berada dekat dengan Tuhan Sriman Narayana, karena Dia selalu memegangnya dengan jari-jari tangan-Nya Sendiri. Thirumalisai Alvar menegaskan bahwa Sri Narayana adalah Tuhan Tertinggi yang dikumandangkan oleh Veda-veda. Alvar memulai syairnya yang disebut Naanmugan Thiruvantadi dengan,
“Narayana mencipta Brahma berwajah empat dan Brahma mencipta Sankara”. Kemudian Alvar mengakhirinya dengan,
“Akhirnya aku temukan kebenaran ini
Engkau adalah Sebab yang Mula-mula
Yang telah dimengerti adalah Engkau
Yang hendaknya dimengerti adalah Engkau
Engkau adalah segala karya kebaikan
Aku telah sadar akan kebenaran ini
tanpa keraguan!”

Thirumalisai adalah satu-satunya Alvar yang sebelum menerima Sri Vaishnava juga mempelajari Saivisme, Buddhisme, Jainisme, dan berbagai filsafat lainnya. Satu-satunya Alvar yang dengan tegas menetapkan ajaran mengenai keunggulan Sriman Narayana sebagai Kebenaran Tertinggi, dengan memperbandingkannya di antara berbagai aliran filsafat dan keyakinan relijius lain yang tumbuh di India Selatan di kala itu. Tanpa ragu dia menggunakan kata-kata yang keras dan jujur dalam menunjukkan ketidaktepatan ajaran-ajaran lain. Thirumalisai termashyur akan ketegasannya dalam mengemukakan argumentasi tanpa selubung kata-kata manis. Dia mematahkan berbagai pandangan yang dikemukakan oleh para Veda-bahya (orang-orang yang menolak otoritas Veda) dan Veda-kudrishti (orang-orang yang menerima Veda, tetapi menafsirkannya secara keliru). Dialah satu-satunya Alvar yang dijuluki Uraiyil Edadhavar, Alvar yang tak pernah menyarungkan belatinya. Walaupun tidak satupun gambar dirinya yang tampak mengacungkan senjata seperti belati atau pedang, tetapi senjata sesungguhnya adalah lidahnya sendiri. Lidah yang kata-katanya menebas pandangan salah.

Rabu, 09 Desember 2009

INTISARI PENGABDIAN DAN CINTAKASIH (1)

ADA SEORANG BHAKTA-BHAGAVATA YANG SANGAT miskin di India Selatan. Karena dia berasal dari kalangan bawah, tak seorangpun mengetahui namanya. Dia tidak memiliki rumah dan hanya memiliki selembar pakaian compang-camping yang penuh tambalan. Pakaian ini adalah satu-satunya harta yang ada padanya. Setiap kali kainnya berlubang, dia akan menambalnya. Demikian terus-menerus sampai hancur dan tak dapat dipakai lagi barulah dia membuangnya dan mencari kain baru (sebenarnya sih kain bekas) yang dibuang orang. Dia penuh ketidakterikatan dan semangat bhaktinya memenuhi hati.

Sri Bhaktisara/Thirumalisai-alvar

Sehari-hari hamba Tuhan yang mulia, Mahabhagavata ini, hanyalah menyanyikan lagu-lagu pujian dan nama suci Sri Ranganatha (Sri Vishnu). Kuil Sri Ranganatha (Sri Rangam) memiliki tujuh tembok yang mengelilinginya seperti sebuah benteng. Di antara tembok-tembok ada jalan yang menghubungkan tempat-tempat tertentu dalam kompleks kuil Sri Rangam. Bhakta-bhagavata ini sering tampak duduk di sudut jalan-jalan itu, menyanyikan nama suci Tuhan sambil menambal lubang-lubang di pakaiannya. Karena dia tidak memiliki jarum, dia memakai rontokan sapu ijuk yang diikatkan benang pada ujungnya.

Suatu ketika Sang Mahadeva Siva dan permaisurinya Parvati sedang terbang mengendarai Nandisvara di atas kuil. Bayangan mereka jatuh menimpa jalan di bawahnya. Biasanya orang-orang akan senang bila bayangan Siva Parvati menaunginya karena segala keinginan duniawi mereka akan terpenuhi oleh kehadiran mistis, darshan dan karunia Siva-Sakti. Saat itu bayangan mereka jatuh tepat di tempat Sang Bhagavata duduk dan menambal pakaiannya. Demi merasakan bayangan yang dipenuhi keinginan duniawi, dia segera menyingkir berpindah tempat, kemudian kembali meneruskan menambal pakaiannya.

Parvati heran melihat hal ini, dia kemudian bertanya, ”Prabhu, semua orang berharap kejatuhan bayangan kita. Kenapa pengemis itu justru menyingkir?” Siva menjawab, “Dia adalah seorang Vishnu-bhakta dia tidak punya urusan dengan kita maupun berkat dari kita”. Tapi Parvati bersikeras, “Prabhu, anda harus turun dan memberinya sesuatu!”

Siva dan Parvati kemudian turun dari angkasa dan bertanya kepada dia, “Oh, Bhakta apakah engkau ingin bebas dari kemiskinan? Kami akan membuatmu kaya raya”. Tetapi Bhagavata itu menjawab, “Saya tidak menginginkan apa-apa. Silakan Paduka melanjutkan perjalanan. Saya tidak ingin merepotkan anda”. Tetapi Parvati menjadi penasaran dan mendesak Siva, “Prabhu, beri dia surga!”. Maka kembali Siva menawarkan surga kepada bhakta itu. Jawabannya tetap sama, dia menolak menerima. Kemudian Parvati mengusulkan agar memberikan Brahmaloka, bahkan kedudukan Brahma. Tetapi tetap ditolak. Akhirnya Parvati berkata, “Prabhu, beri dia rupa dan kemuliaan yang setara dengan anda”. Namun ini pun juga ditolaknya.

Siva Parvati dan Nandi

Siva berkata, ”Segala tawaran kami engkau tolak. Kini katakanlah apa yang engkau inginkan. Mungkin engkau memikirkan hal yang lain”. Bhagavata itu kemudian memandang Siva dan Parvati, ”Kenapa Paduka mendesak seperti ini. Baiklah, saya hanya menginginkan pembebasan tertinggi dari segala keduniawian. Pembebasan sejati. Bebas sepenuhnya bahkan dari keinginan akan bhukti (kenikmatan sensual) dan mukti (kelepasan/moksa). Bisakah Paduka memenuhinya?”

Siva terkejut dan berkata, ”Mukti pradata sarvesam vishnu, hanya Sang Penguasa Segala, Vishnu, yang mampu memberikan pembebasan seperti itu. Ini di luar kuasa saya”. Bhakta-bhagavata itu menjawab, ”Baiklah, saya tidak ingin merepotkan Anda. Janganlah pikirkan keinginan saya ini”.

Tetapi Siva merasa malu. Dengan perlahan beliau berkata, “Mintalah sesuatu yang lain, yang dapat kupenuhi!“. Bhakta itu kemudian berpikir sejenak lalu berkata, ”Bila Anda bersikeras, Anda bisa menolong saya. Anda bisa lihat saya sedang menambal dengan ijuk. Benangnya sulit sekali diam dan terus-menerus terlepas. Bisakah Anda membuat agar benang ini tetap terikat pada ijuknya dan saya bisa bekerja dengan tenang? Saya akan sangat berterima kasih pada Anda”.

Mendengar ini Parvati menjadi terkejut dan marah, “Prabhu, ini suatu penghinaan, Anda bisa beri dia Tribhuvana, seluruh alam semesta dan dia merendahkan Anda dengan permintaan konyol remeh seperti itu!”. Siva merasa tersinggung mendengar ini, kemudian beliau membuka mata ketiganya, memancarkan kobaran api yang menyala-nyala. Dengan tenang bhagavata itu kemudian menginjakkan kakinya ke tanah. Dari ujung jari kakinya muncul juga kobaran api yang lebih besar, menelan api Siva dan terus mengejar Siva-Parvati untuk menghanguskan mereka. Siva dan Parvati berlari, bergegas menuju Ranga-vimanam, kubah emas yang menaungi Ruangan Mahasuci dalam Kuil Sri Rangam. Di hadapan Tuhan Ranganatha mereka berseru, ”O, Bhagavan, kami bersalah pada bhakta-Mu. Tolonglah kami”. Sri Ranganatha kemudian bersabda, ”Jangan khawatir. Kalian juga bhakta-Ku!”. Tuhan lalu menurunkan hujan amrita yang membanjiri Sri Rangam. Awan Vaikuntha, awan yang berasal dari Kediaman Rohani Tuhan Narayana Sendiri, lalu menurunkan badai yang memadamkan api itu. Seluruh daerah itu terbenam hanya dalam waktu singkat. Namun tampaklah di atas air Sang Mahabhagavata duduk dengan tenang, tanpa basah sedikitpun jua, sambil terus menjahit pakaiannya.

Sriranga-vimanam

Siva dan Parvati segera pergi dari tempat itu dan memohon maaf. Siva berkata, ”Anda begitu mulia sehingga diriku pun tampak tak berharga. Kisah Anda ini akan termashyur dan menjadi bukti betapa agungnya seorang Vaishnava-bhagavata seperti Anda, dan betapa luhurnya bhakti di atas segalanya. Bhakti adalah yang tertinggi dan Anda adalah inti sari dari Bhakti. Saya memberi Anda gelar Bhaktisara, Saripati Cintakasih dan Pengabdian”. Sejak saat itu dia dikenal sebagai Bhaktisara, dan menjadi salah satu dari dua belas Alvar. Sampai saat ini dia termashyur sebagai Bhaktisara Alvar.

Pernah suatu ketika seorang vajrayogi yang sakti terbang di angkasa menunggang harimau melintas di atas tempat Bhaktisara duduk. Seketika harimau kendaraan yogi itu kehilangan kemampuannya untuk terbang. Sang yogi mengerti bahwa Bhaktisara adalah penyebabnya. Dia segera bergegas menemui Bhaktisara dan ber-namaskara. Yogi itu sangat sakti, dia memakai pakaian bagaikan raja dengan jubah kemilauan dihiasi permata. Dia segera mempersembahkan sebuah jubah indah kepada Bhaktisara. Ketika Bhaktisara menyentuhnya, jubah keemasan itu berubah menjadi kain compang-camping seperti yang biasa dikenakannya. Bhaktisara menerima dan memakainya. Kemudian Bhaktisara melepas kain lamanya yang penuh tambalan, yang seketika berubah menjadi jubah indah berkilau bagaikan anyaman benang dari intan, dihiasi emas dan permata. Bhaktisara menghadiahkannya kepada yogi itu yang menerimanya dengan gembira. Setelah menghormat sang yogi kembali terbang ke angkasa menunggang harimaunya menuju utara.