Senin, 01 Februari 2010

ORANG SUCI DARI URAIYUR

“Bilapun mereka tak berkasta, di luar empat varna,
tak memiliki apapun yang baik dalam dirinya,
tetapi, bila mereka larut dalam cintakasih yang begitu dalam
kepada Tuhan yang bagaikan zamrud biru, Sang Pemegang Chakra.
Bukan saja mereka, tetapi pelayan dari pelayannya
adalah tuan bagiku, untuk selama-lamanya.”
(Nammalvar, Thiruvaymoli 3.7.9)

Di kala rembulan menghiasi angkasa bersama dengan gemilang cahaya bintang Rohini, tepat di bulan suci Kartthika, maka Srivatsha, garis keemasan yang menghiasi dada Tuhan, turun ke dunia sebagai seorang anak yang dilahirkan dalam keluarga sederhana di kota Uraiyur. Kota ini terletak di seberang selatan sungai Kaveri dan menjadi tempat tinggal bagi sekeluarga Paana, golongan pemusik jalanan yang mencari nafkahnya dengan menyanyi menghibur orang-orang, sambil memetik senar vinanya. Golongan Paana tidak memiliki status sosial yang sama dengan pemusik jalanan apalagi seniman musik masa kini. Mereka bahkan digolongkan berkelahiran sedemikian rendahnya, sehingga hak-hak yang mereka miliki sangat terbatas, baik dalam pergaulan sosial maupun fungsi relijiusnya.

Thirupaanan-alvar (Munivahana)

Keturunan para pemusik jalanan adalah orang-orang yang kehadirannya sekalipun dianggap oleh mereka yang berkelahiran tinggi, kaum pendeta terpelajar dan bangsawan feodal, dapat mengotori kesucian mereka. Dalam keluarga seperti inilah hamba Tuhan yang mulia ini dilahirkan. Walau demikian, tradisi suci mengatakan bahwa sesungguhnya anak ini tidak lahir dengan cara biasa. Dia muncul secara ajaib di tengah-tengah rumpun padi yang menguning di sawah. Bercahaya gemerlapan dan menarik hati ayah Paananya yang penasaran untuk datang, mengangkatnya sebagai anak dan memeliharanya. Oleh karena asal-usulnya inilah dikatakan bahwa sejak kehadirannya di dunia, ayahnya tidak pernah membiarkannya menyentuh makanan “ternoda” yang biasa dikonsumsi oleh kaum mereka. Dia hanya minum susu sapi.

Dari rumahnya yang sederhana di Uraiyur, Paana kecil dan keluarganya, terbiasa memandangi menara yang menjulang di atas pintu gerbang Kuil Agung Sri Ranganatha, Kediaman Rohani Tuhan Yang Maha Esa, ketika Dia berkenan memberkati seluruh dunia dengan kehadiran-Nya yang mahaberkarunia. Di tempat ini orang-orang menikmati kedekatan dengan Tuhan di dalam Kuil Agung-Nya, yang disebut sebagai Kerajaan Tuhan di Atas Bumi (Bhuloka Vaikuntham), dan dapat berdoa sepuas-puasnya mengungkapkan isi hati di hadirat-Nya yang suci di Srirangam. Paana sekeluarga harus puas hanyalah dengan memandangi pintu masuk ke dalam Istana-Nya itu. Semua karena haknya yang sama sekali ditiadakan oleh kelahirannya yang sedemikian rendah. Mereka semua, terutama Paana kecil kita ini, hanya dapat memendam kerinduannya akan Tuhan yang bersemayam dalam istana-Nya yang megah di Srirangam, dengan tujuh gerbang, tujuh menara, dan tujuh benteng yang mengelilingi-Nya. Paana boleh jadi lahir dalam kerendahan, namun dia bertumbuh dalam cinta dan kerinduan yang begitu tinggi. Cinta rohani yang membawanya dalam keluhuran pencerahan sempurna. Persatuan cintanya dengan Yang Mahasuci dan Mahatinggi di Sri Rangam.

Paana kecil bersama ayahnya memetik senar gitarnya dan menyanyikan lagu-lagu untuk orang-orang dan peziarah yang memenuhi kota suci ini, demi bertahan hidup. Apabila nyanyian mereka tak mendatangkan sesuap nasi, maka mereka terpaksa bekerja menyapu jalanan yang mengitari benteng terluar kompleks Kuil Agung Srirangam. Begitulah masa kecilnya berlalu, dengan membersihkan kotoran, rontokan dedaunan, kerikil-kerikil, dan sampah-sampah lainnya dari jalanan yang menuju tempat kediaman Tuhan.

Suatu hari kerika sedang bersih-bersih seperti itu di areal terluar kuil, Paana kecil bertanya kepada ayahnya. Mungkinkah mereka juga dapat menyapu dan membersihkan bagian dalamnya sekalian. Sang ayah berkata tidak. “Mengapa?”, tanya Paana kecil.
“Nak, di dalam Kuil Tuhan kita yang agung tidak ada sampah yang perlu dibersihkan. Itu adalah Kediaman Rohani, tempat bertahtanya Raja kita yang indah menawan. Dia adalah yang Mahakuasa, Suci, dan Murni. Tidak perlu membersihkan apapun di hadirat-Nya, karena Tuhan adalah suddha-sattva, kesucian itu sendiri. Tetapi sebaliknya, bila ayah dan kamu memasuki kuil, bukannya membersihkan, kita hanyalah mengotori tanah Tuhan Ranganatha yang suci dengan noda dosa-dosa kita yang berkelahiran rendah ini.”

Paana kecil terkagum-kagum. Tentu saja kita pun akan merasakan hal yang sama apabila sedari kecil kita hanya tahu bergulat dengan sampah. Sebuah tempat bebas sampah adalah sesuatu yang mengagumkan bagi kita. “Kalau memang di bumi ini ada tempat seperti yang ayah katakan itu. Tempat Tuhan kita Sri Ranganatha bertahta, yang adalah kesucian itu sendiri dan tidak perlu dibersihkan seperti jalanan ini, suatu hari saya harus melihatnya.”
“Mungkin saja suatu hari kamu akan melihatnya, Nak. Tapi sekarang jangan berpikir macam-macam, lakukan saja pekerjaan kita membersihkan sampah dari jalanan ini. Agar para peziarah yang datang untuk memuliakan Tuhan kita tak terganggu.”

Jadi inilah yang dilakukan oleh Thiruppaana. Menyanyi di jalanan dan menyapu jalanan itu juga, sama seperti paana-paana malang lainnya yang mungkin juga tersebar di seluruh muka bumi. Bedanya hanya dia menyanyikan lagu-lagu kerinduannya kepada Tuhan dan menyapu jalanan yang menuju ke Kuil Tuhan. Limapuluh tahun hidupnya berlalu seperti ini. Bila dia menyanyi, matanya akan tertuju kepada gerbang Kuil yang dihiasi menara tinggi menjulang megah. Bukan hanya matanya, tetapi hatinya juga turut mengalir bersama curahan senandung rohaninya, seakan diwakili oleh airmatanya yang bercucuran, dengan pengharapan semoga alirannya dapat mencapai tahta Sri Ranganatha dan mencuci kaki-Nya yang suci. Di antara sungai suci Kaveri dan pintu gerbang Kuil dia berdiri. Di sanalah dia memetik senar gitarnya, mengiringi lagu cintanya kepada Sri Ranganatha, Tuhan Yang Maha Esa.

Pada suatu hari Lokasaranga Mahamuni, seorang brahmana yang terhormat, pendeta utama dari Kuil Sri Ranganatha yang bertugas mengambil air suci dari sungai Kaveri untuk keperluan puja kepada Tuhan datang dari menunaikan tugasnya. Diiringi segala tanda kehormatan, panji-panji, payung, dan alunan suara serunai, Lokasaranga Mahamuni membawa periuk berisi air suci, akan memasuki Kuil Agung Tuhan Ranganatha. Di tengah jalan sang Muni berjumpa dengan Thiruppaana yang tengah khusuk menyanyikan nama-nama suci Tuhan dengan pikiran terpusat sepenuhnya.

Mahamuni yang terhormat, di depan matanya hanyalah seorang penyanyi jalanan berkelahiran rendah, orang yang selalu bergelut dengan sampah dan kotoran, tengah menghalangi jalannya dan berisiko menodai dirinya, kesucian kedudukannya sebagai pendeta agung, dan air suci yang akan dipersembahkannya kepada Tuhan. Lokasaranga Mahamuni berteriak agar Paana menyingkir dan memberinya jalan. Namun apa daya, Paana yang malang tak mungkin mendengar suara apapun dari luar, karena kini yang masih bekerja hanyalah hatinya, hati yang saat ini tengah bergelora memuja kemuliaan Tuhan bersama nama-nama suci-Nya yang terucap melalui bibir Paana. Pada saat seperti ini telinga hanya dapat mendengar gema suaranya sendiri, mata yang basah oleh air mata takkan dapat melihat apa-apa, kaki tidaklah berpijak di bumi ini lagi, melainkan di dunia rohani yang tak terbatas. Berkali-kali Lokasaranga Muni berusaha menyuruhnya menyingkir, tetapi Paana tidak bergeming. Sebutir batu dipungutnya dari tanah, kemudian dilemparkan tepat mengenai dahi Paana. Darah mengucur dari keningnya. Hantaman ini segera menyadarkannya dari kekhusukan meditasinya. Paana yang kaget, membuka mata dan melihat seorang Muni terhormat terhalang jalannya oleh tubuhnya yang kotor oleh dosa kelahiran. Betapa malunya Paana, seketika itu juga, tanpa berani memandang wajah pendeta agung yang dimuliakan itu, dia memohon maaf berulang-ulang dan segera pergi dari tempat itu.
Tepat setelah kejadian itu, ketika Lokasaranga Mahamuni bersiap memasuki Ruang Mahasuci Tuhan Ranganatha dengan periuk air di tangannya, tiba-tiba pintu tempat Tuhan bertahta dengan segala kemuliaan-Nya itu menutup dengan sendirinya di depan mata sang pendeta agung. Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahapengasih di Sri Rangam menolak melihat wajah pendeta utama di kuil-Nya Sendiri.

Seorang imam adalah dia yang melayani Tuhan dengan demikian karibnya, sehingga doa-doa umat sekalipun diperantarakan melalui dirinya. Satu-satunya orang yang berhak memasuki ruangan terdalam di Istana Tuhan nan megah ini. Tetapi apa yang dapat dikatakan manusia biasa bila Tuhan Sendiri memutuskan hubungan yang istimewa ini.

Dengan hati sedih Lokasaranga Mahamuni pulang ke rumahnya dan merenungi nasibnya yang malang. Ia, seorang brahmana berkelahiran tinggi, dari keluarga terhormat, jauh-jauh datang dari India Utara karena terpesona oleh keindahan Dravidaveda dan keagungan Tuhan Ranganatha yang oleh kemurahan hati-Nya bersedia turun dari Kerajaan Rohani-Nya yang kekal ke tepian sungai Kaveri demi keselamatan umat manusia. Dia datang ke tempat ini untuk menjadi pelayan-Nya dan mencapai kesempurnaan hidupnya.

Ketika dia meratap sedih seperti ini, Tuhan Ranganatha bersama permaisuri kekal-Nya Ibunda Sri Mahalaksmi, menampakkan Diri di hadapannya. “Berani sekali kamu melukai Thiruppaana-Ku! Kami sungguh-sungguh berduka oleh tingkahmu itu.” Kemudian Ibu Sri bertanya dengan Tuhan-Nya mengapa Dia menunda-nunda untuk membawa Thiruppaana ke dekat Mereka, sehingga sampai terjadi hal seperti ini. Tuhan menjawab, “Aku selalu mencobanya, tetapi begitu Aku mendekat, dia menjauh. Dia begitu rendah hati dan tahu diri akan kelahirannya yang rendah dan dia berpikir bila bersentuhan dengan Diri-Ku, dia justru akan menodai kesucian-Ku. Engkau adalah Ibu yang selalu ingin membawa anak-Nya dekat. Kini waktu untuk menyelesaikan masalah ini sudah tiba. Keinginan-Mu untuk melihat anak-Mu Paana bersama Kita akan segera tercapai.”

Kemudian Tuhan bersabda kepada Lokasaranga Muni, “Engkau tak boleh berpikir bahwa Paana-Ku adalah orang rendahan, dia adalah hidup-Ku dan sahabat karib-Ku. Aku ingin kamu pergi kepadanya dengan penuh hormat dan kerendahan hati, angkatlah dia ke atas bahumu dan dengan penuh kejayaan bawalah dia memasuki Kuil Kami. Biarlah seluruh dunia menjadi saksi. Inilah perintah-Ku.”

Lokasaranga secepat itu juga pergi ke tempat Thirupaana berada. Dia menjatuhkan diri di kakinya dan memohon maaf atas perlakuannya yang menimbulkan luka baik pada tubuh fisik maupun perasaannya. Dia memberitahukan perintah Tuhan kepada Thirupaana. Alvar menarik dirinya, “Tuan, bagaimana mungkin anda bersalah kepada hamba. Tindakan anda itu benar. Janganlah menyentuh diri hamba. Hamba berkelahiran rendah sehingga hamba juga tidak mungkin menginjakkan kakiku yang kotor ini di dalam tanah suci Kuil-Nya.” “Tapi Tuan”, kata Lokasaranga, “Janganlah ragu atau khawatir seperti itu. Hamba akan membawamu di atas bahu ini. Ini keinginan Tuhan, bila anda menolak berarti anda tidak mematuhi-Nya.” Akhirnya Thirupaana menyerah, “Maka jadilah kehendak-Nya”.

Thirupaana kemudian menempatkan kakinya di tubuh Lokasaranga Muni dan memanjat ke atas bahunya. Sang pendeta agung lalu membawanya ke hadirat Tuhan Ranganatha di dalam kuil-Nya. Alvar begitu malu dan sekaligus terharu oleh kejadian ini, sehingga sepanjang jalan dia menutup matanya. Hatinya bergelora oleh cinta, bait demi bait, syair sucinya mengalir sepanjang jalan. Mata tertutup tetapi hati melihat. Satu sampai sembilan bait terungkap, melukiskan keindahan Tuhan yang dilihatnya dalam mata hatinya. Munivahana, berkendara seorang pendeta, Sang Alvar datang menemui Tuhan.

Amalan-ati-piraan, Tuhan Kita Yang Mahasuci Tiada Ternoda dari Arangam

Sesampainya di ruang terdalam, Ruang Mahasuci, Lokasaranga Muni memberitahunya bahwa mereka telah berada di hadapan Tuhan. Thirupaana Alvar perlahan membuka matanya. Meledaklah perasaannya, memancar keluar sebagai bait ke sepuluh syair sucinya, Amalan-ati-piran. Kesukacitaan rohani meluap-luap di hatinya, madu surgawi kebahagiaannya mengekalkan setiap kata yang muncul dari bibirnya. Melihat Tuhan Yang Maha Esa berada di hadapannya, Thirupaana terhanyut dalam samudera cintakasih. “Mataku tak akan melihat yang lain lagi.” Kata-kata terakhir ini terucap dari bibirnya. Cahaya kemuliaan menyelimuti Sang Alvar. Diapun lenyap, meluruh dalam kekekalan pengabdian suci dan kerinduannya yang tak tertahankan. Tuhan Yang Maha Esa, Sri Ranganatha, Jiwa dan Kehidupan Semesta Alam memeluknya dengan erat, membawanya ke kediaman rohani-Nya yang sejati. Kerajaan Cinta kasih-Nya, tempat Alvar melayani-Nya dalam keabadian.

Walaupun Thirupaana Alvar bukan berasal dari keluarga yang tinggi dan terhormat atau memiliki kedudukan dalam pergaulan sosial keagamaan, terbukti bahwa itu bukanlah halangan baginya untuk dimasukkan ke dalam jajaran para Alvar. Tingginya cinta dan pengabdiannya kepada Tuhan Sriman Narayana, Sri Ranganatha, dengan pelepasan ikatan sepenuhnya dari segala kenikmatan duniawi dan kerendahan hati yang luar biasa. Menerima Tuhan Yang Maha Esa Sri Narayana sebagai satu-satunya perlindungannya yang tunggal dan tempatnya menyerahkan diri. Semua inilah yang menjadikannya seorang Alvar. Hal ini juga menunjukkan betapa besar keterbukaan Vaishnava-dharma. Siapapun juga, tak peduli kelahiran, ras, suku bangsa, semuanya diterima dalam Vaishnava, bahkan menduduki posisi yang tertinggi dalam hidup rohani, apabila dia memiliki kemuliaan sebagaimana ditunjukkan oleh Alvar dan Acharya. Di mata Tuhan, kelahiran bukan apa-apa, jalan-Nya terbuka bagi semuanya. Ini dibuktikan oleh Thiruppaan Alvar, yang direndahkan dunia tetapi dipeluk erat oleh Tuhan.

Terpusatlah hatiku pada yang disucikan, Sang Alvar yang berkendara seorang Muni,
yang bersumpah tak akan melihat apapun lagi dengan kedua belah matanya,
setelah memandang gemilang keindahan Tuhan Sri Hari,
yang berbaring di antara dua anak sungai Kaveri dengan kaki terjulur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar