Selasa, 30 November 2010

SRI MADHVA (4)


Selama beliau berada dalam badan, maka Sri Hari akan tetap berada di sana. Begitu beliau pergi, maka Sri Hari juga akan turut meninggalkan badan. Beliau adalah pengendali baik di dalam maupun di luar badan. Itulah Vayu, yang adalah pemimpin utama para guru dalam silsilah garis perguruan kita yang suci.


Ada sebuah pernyataan Sruti mengenai hal ini. "kasmin vahamutkranta utkramishyami, kasminvaham sthite sthasyami iti sa pranamasrujatra". Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari menciptakan Vayu dengan menyatakan, “Aku akan menciptakan seorang penyembah-Ku sedemikian rupa, sehingga kehadirannya akan menjadi tanda kehadiran-Ku, dan kepergiannya juga akan membuat-Ku pergi.” Ada dua aspek yang perlu diperhatikan dalam kata-kata yang digunakan oleh Srimad Sripadaraja.
1. Pernyataan ini dibuat dengan ketegasan dan ketidakterbantahan. Tidak ada kata bila atau tapi (keraguan atau prekondisi) dan juga tidak ada ambiguitas (makna mendua). Tidak ada rujukan kepada deva yang lain. Hanya dinyatakan hubungan erat antara Vayu dan Sri Hari secara langsung dan nyata.
2. Pernyataaan saling berkaitan digunakan, yaitu kehadiran Vayu dengan kehadiran Sri Hari. Kehadiran Vayu menjadi pertanda kehadiran Sri Hari.

Memaknai pernyataan ini dengan melihat kenyataan yang ada pada badan jasmani, selain dapat diketahui secara langsung, tentu juga ada dasar sastranya. Kita mengetahui bahwa Sri Vayu dalam tubuh jasmani adalah Prana, napas kehidupan. Bila Prana ada di sana maka kita katakan bahwa tubuh itu hidup. Apakah arti dari tubuh yang hidup ini? Badan jasmani yang terbentuk dari unsur-unsur alam adalah mati, tetapi ketika jivatma, roh individual berada di sana maka dia hidup. Tetapi yang lebih penting lagi, kita mengetahui dari sastra suci bahwa jiva yang terbungkus oleh badan duniawi tidaklah berada sendirian di sana. Perluasan dari Sri Hari Sendiri mendampingi jiva sebagai Paramatma. Beliau hadir di sana dan tanda dari kehadiran Beliau adalah Prana, yang tiada lain adalah Sri Vayudeva.

Bila kita memperluas makna mengenai kehadiran ini dapatlah kita pahami sebagai berikut. Selama Vayu berada dalam hati kita, maka Sri Hari juga ada di sana. Kapanpun kita melupakan Vayu, maka Sri Hari juga meninggalkan kita. Apakah artinya Sri Vayu selalu ada di hati kita?
1. Senantiasa memusatkan hati pada Vayu, kemuliaan, dan keagungannya.
2. Yakin sepenuh hati dan jiwa bahwa Vayu secara nyata adalah Jivottama.
3. Mengikuti prinsip-prinsip rohani sebagaimana diajarkan oleh Vayu sendiri.
Secara khusus ini berarti kita hendaknya senantiasa menginsafi bahwa keagungan dan kemuliaan Sri Madhva merupakan pusat meditasi kita. Kita memahami bahwa beliau adalah Jivottama, pemimpin kita, yang menghubungkan kita semua dengan belas kasih Sri Hari. Kita juga menerima sepenuh hati kebenaran ajaran Madhva dan mengetahui bahwa tanpa menerimanya maka kita tak akan dapat mencapai Sri Hari. Sri Hari akan mengabaikan siapapun yang mengabaikan Sri Madhva, yang adalah Vayudeva sendiri. Sedangkan dalam arti luas, semuanya ini hendaknya kita pahami dan laksanakan dalam pelayanan kepada guru kerohanian kita secara pribadi, yang merupakan penerus dan wakil dari Sri Madhva.

Hubungan Vayu yang sangat erat dengan Sri Hari ditunjukkan oleh kenyataan yang ada dalam tubuh jasmani ini. Tetapi apakah hanya terbatas seperti itu saja? Srimad Sripadaraja segera mengingatkan kita pada pernyataan Sruti berikutnya. "pranasmetad vashe sarvam pranah paravashe sthitah na parah kinchidashritya vartate paramoyatah." Segala sesuatu di alam semesta ini berada di bawah kendali Prana. Prana berada di bawah kendali Sri Hari. Sri Hari tidak dikendalikan oleh siapapun. Dinyatakan bahwa tubuh jasmani, pindanda (mikrokosmos) adalah merupakan miniatur dari tubuh alam semesta, brahmanda (makrokosmos). Sehingga para deva yang mengendalikan berbagai organ dan bagian tubuh juga mengendalikan berbagai bagian alam semesta. Sebagaimana mereka semua berada di bawah pengendalian Vayu, maka baik dalam pindanda maupun brahmanda, keadaan inilah yang terjadi.

Ketika para deva yang mengendalikan indria maupun organ-organ meninggalkan tubuh seseorang, maka orang tersebut dikatakan buta, tuli, atau bisu (organ tertentu itu menjadi cacat, sesuai dengan deva yang pergi meninggalkannya). Namun ketika Mukhyaprana meninggalkan badan, maka orang bijaksana menyebut badan itu sesosok jenazah.

Dalam sloka ini kembali Srimad Sripadaraja membawa kita memperhatikan pernyataan Aitareya Upanisad. "ta ahimsan ta ha muktha masmaihamukthamasmiti ta abruvan hantasmachcharira dutkramama tadyasmin na utkanta idam shariram patsyati taduk-tham bhavishyatiti vagudakramad avadannashnan piban nastaiva chakshurudakramad apashyan-nashnan pibannastaiva." Pada suatu ketika para deva bertikai di antara mereka untuk menentukan siapakah yang paling agung. Mereka memutuskan bahwa cara yang terbaik adalah dengan memasuki sesosok badan dan mengamati pengaruh mereka padanya. Para deva mulai memasuki tubuh yang mati itu satu per satu. Tak satupun di antaranya yang dapat memberikan pengaruh, tubuh itu tetap seperti adanya. Begitu Vayu memasukinya, tubuh itu menggeliat hidup. Kemudian sebaliknya, para deva meninggalkan tubuh itu satu per satu. Setiap organ yang mereka kuasai menjadi cacat, walau demikian tubuh itu tetap hidup. Tetapi begitu Vayu pergi, tubuh itu mati. Ini menyimpulkan ketergantungan penuh jiva kepada Vayu, sekaligus superioritasnya di antara para deva yang lain, sehingga membuat gelar Jivottama tepat sesuai baginya. "prana udakramat tatprana utkrante apadyata tad ashiryata ashariti tachchariramabhavat". Ketika Prana meninggalkan badan, maka badan menjadi roboh dan mulai membusuk. Demikianlah sabda Aitareya Upanisad.

Kita dapat mengamati ini semua dalam keseharian kita. Selama orang itu bernapas, dia dianggap hidup. Dia mati bila berhenti bernapas. Apabila di sekitar orang itu ada dokter, maka dia akan berusaha membantu orang itu untuk bernapas kembali dengan berbagai cara seperti resusitasi jantung paru atau memasang alat bantu napas. Dikatakan bahwa apabila seseorang mati, maka amsha dari para deva yang bersemayam di organ-organ tertentu kembali menyatu dengan deva-deva kosmis yang asli. Tetapi tidak demikian dengan Vayu. Beliau membawa Paramatma dan jiva di atas pundaknya untuk menuju badan berikutnya. Bila pernyataan sloka ini dihubungkan dengan sloka sebelumnya, maka akan tampak betapa eratnya hubungan antara jiva, Vayu, dan Sri Hari, betapa besar perhatian Sri Hari kepada Vayu, dan betapa mulia kedudukannya di antara deva-deva lain. Makna simbolik dari sloka ini juga menunjukkan bahwa demi bangkitnya “tubuh” spiritual, kehadiran Vayu sangatlah penting. Dengan kata lain, segala jenis pemujaan yang tidak memberikan tempat mulia bagi Sri Vayu dan juga prinsip-prinsip yang diajarkan oleh beliau hanyalah akan menjadi sia-sia belaka.

Minggu, 28 November 2010

SRI MADHVA (3)


Beliau yang mengambil rupa seekor kura-kura dan mendukung Sesha. Dengan berada di dekatnya para deva yang lebih rendah dapat mencapai Sri Hari, itulah Vayu yang adalah pemimpin utama para guru dalam silsilah garis perguruan kita yang suci.

Selanjutnya adalah penjelasan mengenai Vayu-tattva, kebenaran sejati tentang Vayu. Siapakah sesungguhnya Vayu dan bagaimana kedudukan beliau dalam pelayanannya kepada Tuhan Sri Hari di dunia ini. Menurut sastra, Tuhan menjaga seluruh alam semesta sebagai Vishnu-kurma. Lalu dalam cairan yang mengisi Brahmanda (disebut Garbhodaka – Samudera Rahim Semesta), Vayu juga hadir sebagai Vayu-kurma, memegang ekor dari Vishnu-kurma. Sesha berpegangan pada ekor Vayu dan mendukung dunia dengan kepalanya. sa esha kurmarupena vayurandodake sthitah vishnuna kurma rupena dharitoananta-dharakah (iti prabhanjane) agneyaishanigou bahu padou nirruti vayugou (iti prakrushte bruhadaranyako-panishad bhashya) Keempat anggota tubuh Vayu-kurma berada di keempat penjuru Brahmanda. Dadanya bersandar pada bumi, perutnya mendukung Akasha, dan punggungnya memanggul alam-alam lain.

Uraian ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Seluruh sistem dunia kita dan planet-planet yang ada di dalamnya berada tetap dalam peredarannya oleh kekuatan gaya tarik matahari. Sehingga dengan demikian seluruh alam semesta juga bersandar atau bergerak secara teratur oleh suatu kekuatan gaya tarik. Sesha merupakan emenasi dari Sankarshana, Dia yang memiliki segenap kekuatan daya tarik (Akarshana). Daya tarik antara jiva yang rohani dengan Tuhan Sri Krishna dikem-bangkan melalui kekuatan Sankarshana atau Baladeva. Seluruh kekuatan daya tarik berasal dari Sri Sankarshana. Demikian pula daya tarik yang menjaga keteraturan seluruh alam semesta juga merupakan manifestasi dari Sankarshana yang disebut Sesha. Sesha menerapkan kekuatannya atas perwujudan alam semesta duniawi, ciptaan kosmis. Sedangkan sumber segala shakti atau energi adalah Bhagavan Sri Krishna, yang dalam Brahmanda ini melindungi semesta melalui rupa-Nya sebagai Vishnu-kurma. Lalu siapakah yang berada di antara energi duniawi dengan Sri Bhagavan? Itu tiada lain adalah Vayu, kekuatan yang menghubungkan seluruh dunia dengan Bhagavan, jiva yang utama (Jivottama). Di alam semesta ini beliau juga turut menjaga keteraturan dengan rupanya sebagai Vayu-kurma.

Peran penting Vayu kembali ditegaskan dalam kalimat sloka ini, avavana balivididu hariya suraraiduvaro. Sebelumnya kita sudah mengetahui dari Balittha-sukta bahwa Rudra dan para devata yang lain dapat dengan mudah mengetahui kemuliaan Sri Hari dan mencapai pembebasan dari samsara dengan bantuan Vayu. Dengan berada di dekat Vayu, semua deva, bahkan yang memiliki kedudukan lebih rendah sekalipun dapat mencapai Bhagavan Sri Hari.
Sri Su-madhva-vijaya menjelaskan bahwa kapanpun Srimadacharya melaksanakan pembahasan sastra suci, maka para deva berkumpul di angkasa untuk turut mendengarkannya. Ini karena ulasan sastra yang diberikan oleh Srimadacharya sebagai Avatar Vayu, dapat memberikan jalan terbaik untuk menuju kepada Sri Hari.

Demi menyatakan lagi kemuliaan Sri Vayu, maka kita memperoleh gambaran berikut dari Srimad Ramayana dan Mahabharata. Sugriva dan Karna adalah sama-sama merupakan amsha dari Suryadeva, namun mengapa mereka diperlakukan berbeda oleh Tuhan Sri Hari? Dalam MBTN 5.46-47 Srimadacharya menyatakan, “sa marutikrute ravijam raraksha”, Ravija Sugriva dilindungi oleh Sri Rama hanya karena dia berada bersama Sri Hanumanta. "bhimarthameva ravijam nihatya", Ravija yang lain yaitu Karna menerima ajalnya karena berada di pihak yang memusuhi Bhima. Keadaan berlawanan serupa juga dapat kita lihat pada kedua amsha dari Indra, yaitu Vali dan Arjuna. Vali menerima kemusnahannya karena dia tidak menghargai Sri Hanumanta, namun Arjuna memperoleh kemuliaan karena dia sepenuhnya tunduk kepada Bhimasena. Gambaran ini menunjukkan bahwa mendapatkan karunia Vayu adalah merupakan jalan langsung menuju karunia Sri Hari. Berada di dekat Vayu, apabila diartikan sebagai berjalan di dalam kebenaran ajaran yang diajarkan oleh Sri Vayu, atau dengan senantiasa berada dalam garis perguruan Sri Vayu, serta tattva sebagaimana diungkapkan oleh Sri Vayu, maka kita dapat memperoleh kepastian dan kemudahan dalam mencapai Sri Hari.

Garis silsilah kita yang suci menurun dari Tuhan Sendiri melalui Brahma. Sastra mengatakan bahwa hanyalah Sri Hari yang bisa menganugerahkan pembebasan, mukti-pradatam-vishnureva na samsayah, namun Brahma dan Vayu dapat merekomendasikan pembebasan bagi jiva yang pantas. Sastra juga menyatakan bahwa di alam semesta ini hanya Brahma, Vayu, Sarasvati, dan Bharati, dengan kuasa dari Sri Hari dan Laksmi, memiliki pengetahuan yang senantiasa sempurna dan bebas dari cacat atau kekurangan. Sehingga tidaklah mengherankan bahkan para deva yang lainpun berusaha untuk belajar dari mereka.

Sri Vayu, khususnya ketika beliau hadir sebagai Srimad-acharya Madhva, disebut sebagai Kula-guru-raya. Beliau adalah pemimpin utama para guru dalam silsilah keluarga rohani Brahma. Tetapi mengingat segala penjelasan yang telah diberikan sebelumnya, kata kula (keluarga) yang digunakan oleh Srimad Sripadaraja tidaklah diartikan secara sempit sebagai lingkungan Madhva-sampradaya saja. Kula menunjukkan persaudaraan semesta, semua jiva yang memiliki kepantasan mencapai moksa, sebagai satu keluarga, berarti termasuk para deva, makhluk-makhluk surgawi, para orang suci, dan sebagainya. Sri Vayu adalah guru utama bagi semua satvika-jiva. Itulah sebabnya mengapa dalam Vayustuti beliau disebut sebagai Trailokacharya, Guru Kerohanian Ketiga Dunia.

Kamis, 25 November 2010

SRI MADHVA (2)


Segala pujian, segala pujian kepada beliau yang menyangga seluruh alam semesta, yang paling berkuasa dan penuh kekuatan di antara semua jiva, yang adalah kediaman segala sifat-sifat rohani, beliaulah yang bernama Madhva.

Srimad Sripadaraja memulai uraiannya tentang kisah kehidupan Sri Madhva dengan doa singkat ini yang diawali dengan kata jaya. Salah satu makna jaya adalah mangala atau kemujuran dan kesucian. Dengan demikian beliau memohon kepada Sri Mukhyaprana Vayudeva agar menganugerahkan mangala kepada kita semua. Hal ini sangat tepat, karena sastra suci menjelaskan bahwa Sri Vayu adalah parama-mangala-svarupa, perwujudan sejati segala kemujuran, pradhana-anga atau tangan kanan Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari.

Jaya juga berarti kemenangan. Kemenangan terbesar bagi para jiva adalah moksa atau mukti, pembebasan tertinggi. Sri Vayudeva membantu semua jiva yang memiliki kepantasan untuk mencapai tujuannya ini dengan memberikan pengetahuan yang benar (jnana) tentang Tuhan, juga memberikan inspirasi untuk berpikir dan bertindak secara benar. Segala ingatan dan pelupaan serta ilham yang rohani berasal dari Paramatma Sri Hari, namun adalah Sri Vayu yang menyampaikannya kepada para jiva, dan adalah beliau yang membantu serta mendukung para jiva untuk mencapai tujuannya yang sejati. Bhagavan Vayu adalah yang bertanggung jawab menyampaikan permasalahan para jiva kepada Sri Hari. Beliaulah yang memohon kepada Sri Hari agar bersedia mengarahkan belas kasihnya kepada para jiva. Selain kehendak Sri Hari dan Mahalaksmi, hanyalah Vayu dan Brahma (kedudukan yang diperuntukkan bagi Vayu dalam manifestasi penciptaan berikutnya) yang berhak mengajukan pembebasan para jiva. Oleh karena itu Vayu dinyatakan sebagai pradhana-anga dari Tuhan Sri Hari Sendiri. Jaya juga bermakna yang paling utama, karena Vayu juga dipahami sebagai Jivottama, yang tertinggi di antara para jiva.

Sastra menyatakan pula bahwa Vayudeva senantiasa melantunkan Hamsa-mantra “hamsah so’ham svaha” sekitar 21.600 kali setiap hari kepada semua jiva dan mempersembahkannya kepada Hamsanamaka Paramatma, Sri Hari yang memberikan karunia pengetahuan sejati mengenai Brahman kepada deva Brahma, makhluk hidup pertama dalam manifestasi kosmis. Sekalipun makhluk hidup tidak semuanya melakukan mantra-japa atau mengucapkan nama suci Sri Hari, Vayu melaksanakan Hamsa-japa setiap hari atas nama para jiva yang terperangkap dalam tubuh duniawi ini. Oleh karena itu Vayu dimuliakan sebagai guru yang memberikan pengetahuan sejati kepada semua makhluk, sehingga mereka semua dapat mengenal Bhagavan Sri Hari.

Selama Sri Vayu berada di tubuh ini maka tubuh hidup, tetapi begitu dia meninggalkannya maka tubuh akan mati. Begitu pula sebagaimana dijelaskan dalam Aitareya Upanisad 1.2.4. vayuh prano bhutva, Vayu memberikan kehidupan bagi tubuh kosmis. Karena itu Bhagavan Vayu juga dimuliakan sebagai Jagatrana, dia yang menyokong kehidupan dunia. Trana juga dapat dimaknai sebagai penjaga atau pelindung. Bhagavan Vayu merupakan pelindung semua jiva yang memiliki kepantasan untuk mencapai moksa, beliau melindungi jiva-jiva dalam kebaikan dan juga menghukum mereka yang jahat. Kekuatan beliau bahkan meliputi para devata yang lain. balamindrasya girisho girishasya balam marut balam tasya haris sakshat naharerbala manyatah (Mahabharata Tatparya Nirnaya - MBTN 2.162) Kekuatan Indra adalah Girisha (Rudra), kekuatan Girisha adalah Marut (Vayu). Kekuatan Vayu adalah Sri Hari Sendiri yang tidak memperoleh kekuatan-Nya dari siapapun juga. Karena Vayu merupakan sumber kekuatan Rudra, sehingga beliau juga merupakan sumber kekuatan para devata yang lain, maka Jagatrana merupakan gelar yang tepat bagi beliau.

Dalam sastra dikatakan bahwa tubuh manusia disusun atas 24 elemen atau tattva. Elemen-elemen ini pada dasarnya tidak hidup. Untuk memberikan kehidupan kepada badan ini dan membuatnya aktif, 24 tattva-abhimani-devata memasuki bagian-bagian badan tersebut dan mengaktifkannya. Pengendali dari semua devata ini adalah Vayu. Sri Hari menginspirasi Vayu kemudian Vayu lanjut menginspirasi yang lainnya. Karena Hari dan Vayu bertanggung jawab atas pemeliharaan kehidupan alam semesta, maka Beliau disebut Sutrana, jagadolage sutrana. Secara khusus hanyalah Bhagavan Sri Hari yang merupakan Sutrana, namun karena Vayu menjalankan kekuatan Sri Hari dalam memelihara kehidupan, beliau juga dapat disebut Sutrana.

Vayu kemudian dimuliakan pula sebagai Akhila-guna-sad-dhama. Hal ini dapat dijelaskan dengan dua cara. Vayu adalah saddhama, tempat terluhur untuk bersemayamnya Sri Hari yang adalah akhila-guna, yang memiliki kemuliaan dan sifat-sifat rohani tak terbatas. Lalu Vayu juga adalah saddhama, perwujudan dari akhila-guna (sifat-sifat rohani) itu sendiri.

Tuhan Sri Hari dikenal sebagai Purnaguna atau Akhilaguna, pemilik segala kemuliaan dan sifat-sifat baik yang rohani. Akhila dan Guna juga merupakan nama-nama Sri Hari yang dinyatakan dalam Vishnusahasranama-stotra. Sebagai penyembah-Nya yang terbaik, Vayu adalah juga tempat bersemayamnya Sri Hari (saddhama). Sehingga Vayu dapat disebut sebagai Akhilaguna-saddhama. Akhilaguna-saddhama di sini menunjukkan bahwa Sri Hari senantiasa berada atau bersemayam dalam Vayu. Oleh karena Bhagavan Sri Hari senantiasa bersama Vayu, maka Vayu sendiri juga memanifestasikan segala sifat mulia Sri Hari. Segala kemuliaan Sri Hari juga ditampakkan oleh Vayu, sehingga Vayu juga disebut Akhilaguna-saddhama karena dia merupakan perwujudan dari segala sifat-sifat rohani ini. Selain itu Vayu merupakan Jivottama, jiva yang paling utama, sehingga segala sifat-sifat baik jiva mencapai puncaknya dalam diri Vayu. Jadi seperti Tuhan Sri Hari, maka Vayu juga menyandang gelar Akhila-guna.

Sebagai gambaran atas sifat-sifat mulia yang ditunjukkan oleh Vayu, Srimadacharya Madhva berkata, "jnane virage haribhaktibhave dhruti sthiti prana baleprayoge buddhoucha nanyo hanumatsamanah puman kadachit kvacha kashchanaiva tatvagyane vishnubhaktou dhairye sthairye parakrame vege cha laghave chaiva pralapsya cha varjane bhimasena samonasti senayorubhayaropi pandityecha patutvecha shurtvecha balepi cha" (MBTN 3.155,165) Dalam hal pengetahuan, pelepasan ikatan, pengabdian kepada Sri Hari, keteguhan, keseimbangan, kekuatan, dan kecerdasan, tidak ada satu orang pun yang setara apalagi mampu melampaui Hanuman. Dalam hal ilmu pengetahuan rohani yang benar, pengabdian kepada Vishnu, ketegasan sikap, kekuatan, kesigapan, kemampuan menyesuaikan diri dalam ruangan yang sempit, pengendalian diri, melompati jarak yang jauh, menghindari pembicaraan yang tak berguna, keahlian berbicara, dan memberi semangat, tak ada satu pun yang dapat menandingi Bhimasena. Baik Sri Hanuman maupun Bhimasena adalah Avatar Vayu. Oleh sebab itu Sri Trivikrama Panditacharya menyebut Vayu sebagai Srimad Vishnavanghrinisthati guna.

Sripadaraja menggunakan nama Madhva, bukan nama atau gelar Srimadacharya yang lain dalam karyanya. Ini membuat kita merenungkan pernyataan Balittha-sukta, "niryadim budhnanmahi-shasya varpasa ishanasah shavasa kranta surayah yadimanu pradivo madhva adhave guha santam matarishwa matha-yati" Rudra (Ishana) dan para deva yang lainnya dengan mudah dapat mempelajari segala kemuliaan Tuhan Tertinggi Sri Hari dan menjadi bebas dari segala ikatan duniawi adalah berkat Vayu (Matarishvan) yang mahatahu. Dia (sebagai Madhva) memerah sari sastra-sastra suci dan memperlihatkan kepada kita semua Keutamaan Sri Hari, yang bersemayam dalam hati semua orang. Secara khusus Madhva adalah nama yang digunakan dalam Veda untuk menyebut Srimadacharya, bahkan sebelum kemunculan beliau secara fisik di bumi ini.

Rabu, 24 November 2010

SRI MADHVA DAN VAISHNAVISME


Dalam konsep ketuhanan Vedanta kita mengenal adanya dua kutub utama yang saling berlawanan, yaitu kutub monisme dan kutub pluralisme. Kutub monisme menempatkan kemanunggalan antara Tuhan dengan makhluk hidup dan alam, sedangkan kutub pluralisme mempertahankan perbedaan antara Tuhan dengan makhluk hidup dan alam. Semua pemikiran-pemikiran dan konsep-konsep yang dikembangkan dan diajarkan oleh para Vedanta Acharya, terentang di antara kedua kutub ini.

Vishnuswami, yang kemudian dilanjutkan oleh Vallabhacharya, mengajarkan pemikiran suddha-advaita, monisme murni. Segala sesuatu adalah Brahman, namun dalam tingkat ekspresi-Nya yang berbeda-beda. Adi Sankara mengajarkan kevala-advaita, monisme eksklusif. Kenyataan sebenarnya adalah Brahman. Hanya Brahman yang nyata, semua yang lainnya hanyalah ilusi palsu. Advaita dari Vishnuswami dan Vallabha menerima kenyataan adanya tiga substansi (vastu) yang berbeda yaitu Isvara (Tuhan), jiva (makhluk hidup), dan jada (alam), namun menjelaskannya sebagai manifestasi dari satu Kebenaran Mutlak yang tertinggi. Tetapi Advaita Sankara menolak ketiga substansi ini sebagai hal yang nyata, karena menurutnya hanyalah Brahman yang nyata. Keberadaan ketiga substansi ini merupakan pengaruh maya (khayalan duniawi), sehingga Sankara mengunakan maya sebagai penjelasan atas keadaan ini. Oleh karena itu monisme Sankara disebut sebagai Mayavada (paham berdasar khayalan).

Lalu muncul nama Ramanujacharya yang mengajarkan visistha-advaita (monisme beratribut). Beliau juga menerima bahwa ketiga substansi utama adalah kekal dan nyata adanya. Jiva dan jada merupakan atribut dari Brahman yang tunggal, mereka adalah manifestasi energi dan kemuliaan dari Brahman. Berikutnya kita mengenal dvaita-advaita (pluralisme monistik) dari Nimbarkacharya yang menerima perbedaan dan kemanunggalan antara ketiga substansi utama itu sebagai keadaan yang sebenarnya. Mereka berbeda, tetapi juga sama. Semua Acharya ini tampaknya merumuskan pemikiran dan pemahamannya dengan tetap melibatkan konsep advaita (kemanunggalan) atau abhedatva (ketiadaberbedaan).

Tetapi ada satu Acharya lagi yang mengambil posisi secara tegas menolak kemungkinan menunggalnya Tuhan dengan para makhluk hidup dan alam. Beliau adalah Srimad Madhvacharya atau Sri Ananda Tirtha. Isvara atau Brahman, jiva, dan jada adalah berbeda. Tidak pernah sekalipun ketiganya menjadi satu, mereka adalah substansi-substansi yang berbeda dan terpisah, dvaita. Sri Madhva dengan tegas mengatakan bahwa ketiganya adalah nyata dan benar (tattva), serta berbeda (bheda). Pahamnya yang berdasar atas kenyataan yang bersifat plural ini dikenal sebagai Tattvavada.

Brahma - Madhva

Sri Madhva merupakan Acharya yang menurun dalam garis silsilah rohani Brahma atau Brahma Sampradaya. Sebagai guru kerohanian utama dalam garis ini, maka kemudian dikenallah namanya menjadi Brahma-Madhva-Sampradaya. Selama ratusan tahun para guru dalam garis Brahma-Madhva mengembangkan pemahaman dvaita ini dan mengajarkannya ke seluruh India. Tetapi beberapa ratus tahun setelah Madhva muncul satu nama lagi yang memberikan konsep baru terhadap pluralisme dan monisme. Beliau adalah Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu dari Gauda (Bengala) yang mengajarkan acintya-bheda-abheda-tattva, persamaan dan perbedaan yang tak terpikirkan. Pemahaman yang unik ini menyatukan pandangan berbagai Acharya sebelumnya dan sebenarnya dapat mendamaikan kedua kutub yang bertentangan itu. Bheda-abheda sebelumnya sudah dikembangkan oleh Nimbarka, lalu apa perbedaannya? Hal ini tidak kita bahas di sini. Namun sisi yang menarik dari Sri Caitanya adalah keyakinan kuat para pengikut-Nya, bahwa mereka termasuk dalam garis spiritual Madhva.

Sri Madhva dan Sri Caitanya memiliki konsep ajaran yang tampak berbeda, dari namanya saja kita sudah lihat perbedaan itu. Kemudian adanya berbagai kejanggalan historis yang menjadi perdebatan para sarjana, yang meragukan kemungkinan kedua silsilah rohani yang berasal dari Sri Madhva dan Sri Caitanya saling berhubungan. Walau demikian dalam kenyataan, semua Acharya penerus Sri Caitanya berikutnya menyatakan hal ini. Para Gosvami, Kavikarnapura, Sri Baladeva Vidyabhusana, sampai Srila Bhaktivinoda Thakura, semua menyatakan bahwa Sri Caitanya melanjutkan garis silsilah rohani Madhvacharya dan tentu juga konsep yang diajarkannya, karena itu garis perguruan Sri Caitanya disebut Brahma-Madhva-Goudiya atau Madhva Bengala.

Perlu diperhatikan bahwa pengajaran Sri Caitanya dimaksudkan bukan hanya menjadi sekedar usaha rekonsiliasi dua paham yang berbeda atau sekedar menambah satu alternatif keinsafan ketuhanan yang baru, tetapi merupakan pengungkapan kebenaran secara menyeluruh tanpa menyisakan celah untuk dapat dipertentangkan lagi. Hal ini dicapai dengan satu kata kunci, yaitu acintya, tak dapat dipikirkan. Itulah kebenaran sejati, itulah tattva.

Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu

Acharya Madhva sudah mengungkapkan dan menyediakan semua karya-karya dasar yang sangat dibutuhkan oleh Sri Caitanya untuk dapat menghadirkan filsafat ketuhanan yang sempurna tanpa terganggu pemahaman yang bias. Sri Madhvacharya dan ajarannya merupakan dasar kokoh tempat dibangunnya seluruh pemahaman garis perguruan Sri Caitanya. Ada yang mengatakan setitik bheda, sekalipun tidak dipahami dengan baik, akan mengantarkan pada kesempurnaan bhakti, namun setitik abheda dapat mengantarkan ke jurang kejatuhan dan hancurnya bhakti. Seperti yang kita ketahui, Sri Madhva menolak sepenuhnya abheda. Namun di sisi lain abheda juga tidak dapat disangkal, sehingga Sri Caitanya kembali mengajarkannya dalam perguruan-Nya. Bagaimana caranya agar kebenaran ini dapat diterima dengan aman. Satu-satunya cara adalah kita memperlindungkan diri kepada Sri Madhva dan ajarannya. Bhakti adalah harta yang diberikan oleh Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu dan para Acharya kepada dunia. Harta ini harus dijaga, jangan sampai ternoda. Hanyalah Srimad Madhvacharya Bhagavatapada yang dapat melakukan ini dengan baik dan sempurna. Oleh karena itulah semua Goudiya Vaishnava yang sejati hendaknya menerima perlindungan kaki padma Sri Madhva dan para penerusnya, berdasarkan teladan yang diberikan oleh Sriman Mahaprabhu. Demikian konsep keterhubungan kedua tradisi ini sebagaimana dihayati oleh para penganutnya.

Srimad Sripadaraja Tirtha Swami adalah salah satu Acharya yang paling terkemuka dalam garis perguruan Madhva. Sumbangannya yang besar pada perkembangan dan penyebaran dvaita dan juga perannya dalam terbentuknya gerakan Sankirtana di daerah berbahasa Kannada yang kita kenal sebagai gerakan Haridasa, telah tercatat dalam sejarah.

Salah satu karya Srila Sripadaraja yang paling terkenal adalah Madhvanama. Ini merupakan sebuah puisi berbahasa Kannada yang memuliakan Mukhyaprana Vayudeva dalam tiga Inkarnasinya. Madhvanama mengikuti susunan dari Srimad Hari-vayu-stuti, disusun oleh Srila Sripadaraja bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Sanskrit atau tidak mampu melantunkan versi Sanskrit dari Vayustuti.

Sri Madhvanama karya Srimad Sripadaraja Tirtha ini merupakan kisah ringkas kehidupan Sri Madhva dalam bahasa Kannada. Sesungguhnya riwayat terperinci Sri Madhva telah ditulis oleh Narayana Panditacharya dalam bahasa Sanskrit sebagai Sri Su-madhva-vijaya. Karena sebagian orang juga tidak memiliki akses terhadap naskah Sanskrit tersebut, maka Srila Sripadaraja menyusun ringkasan berbahasa Kannada ini.

Perlu dicatat pula bahwa Srila Sripadaraja tidak saja menangkap dan menyampaikan intisari Sri Hari-vayu-stuti dan Sri Su-madhva-vijaya saja, namun juga menyertakan beberapa konsep kunci yang tidak begitu dikenal, berikut beberapa kejadian dari Srimad Ramayana dan Mahabharata. Kita juga harus ingat bahwa Srila Sripadaraja, sebagai seorang Inkarnasi Devata, merupakan aparoksha-jnani, yaitu seorang yang memiliki pengetahuan menembusi dimensi ruang dan waktu. Dia juga adalah seorang sarjana besar dan guru kerohanian dari Srila Vyasaraja yang luar biasa itu. Jadi uraiannya mengenai Sri Mukhyaprana dan tiga Inkarnasinya ini adalah jauh dari kesalahan maupun kelalaian. Seluruh uraian dalam tulisan ini adalah berdasarkan uraian yang telah sebelumnya beliau sampaikan dalam Sri Madhvanama. Kami telah menyertakan pula penjelasan lebih lanjut yang disampaikan dengan lebih terperinci dalam Sri Su-madhva-vijaya, Sri Mani Manjari, dan karya-karya langsung dari Srimadacharya Madhva sendiri seperti Mahabharata Tatparya Nirnaya, dsb.

Sri Madhva bagi para pengikutnya bukan sekedar seorang guru pembimbing biasa atau seorang besar yang mendirikan sekte tertentu. Beliau adalah seorang pribadi yang perannya begitu istimewa dalam perjalanan rohani setiap jiva. Melalui uraian ini kita akan menyaksikan gambaran Sri Madhva yang istimewa itu, kedudukan ontologisnya yang demikian penting dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna, dan yang paling utama adalah perannya dalam perjalanan para jiva mencapai kesempurnaan tertinggi.

Sehubungan dengan peranan Sri Madhva dalam Goudiya Vaishnava, kita juga dihadapkan pada beberapa persoalan. Tidakkah Goudiya merupakan salah satu garis perguruan Vaishnava yang paling pesat perkembangannya di jaman modern ini. Sepertinya dengan atau tanpa Sri Madhva, tidaklah memberi pengaruh pada penyebaran dan perkembangan Goudiya. Justru dengan adanya Srila A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, seorang Goudiya-acharya, nama Sri Madhva baru dikenal secara luas di seluruh dunia. Walau demikian, paling tidak bagi para Goudiya, adalah sangat penting untuk diyakini, bahwa doa-doa yang mereka sampaikan melalui rangkaian garis perguruannya akan sampai kepada Tuhan Sri Krishna melalui Sri Madhva. Mengapa Sri Madhva bisa demikian penting? Dengan membaca tulisan ini, dan nantinya tentu saja Sri Su-madhva-vijaya secara lengkap, kita akan memahami kemuliaan dan keistimewaan Srimad Madhvacharya Bhagavatapada. Diharapkan pula pertanyaan di kalangan para Goudiya akan dapat terjawab, yaitu mengapa Sri Caitanya Mahaprabhu harus memilih Brahma-Madhva sebagai basis perguruan-Nya dan mengapa mereka merasakan bahwa menjadi bagian dari keluarga Madhva sangatlah penting.

SRI MADHVA (1)


Terpesona oleh kemuliaan Srimadacharya yang tiada bandingannya, Sri Sri Purnaprajna Anandatirtha Madhvacharya Bhagavatapada yang agung, dan dengan dipenuhi rasa hormat serta cinta yang mendalam kepada kaki padmanya yang suci. Hamba seorang insan nan remeh, yang terlahir dalam silsilah para pelayan Sang Mempelai Pria nan Tampan, Yang Berbaring di tepian Kaveri, Penguasa Keanekawarnaan, Raja Segala Keindahan, walaupun tidak memiliki sedikitpun kemampuan maupun sifat-sifat baik seorang hamba Tuhan sejati, memaksakan dirinya menahan rasa malu, menulis rangkaian sejumlah kata-kata yang tak berharga, yang terlintas dalam pikirannya berkat kemurahan hati Srila Gurudeva, demi mengagungkan Srimadacharya yang termulia.

Setelah mendengarkan betapa besarnya belas kasih Srimadacharya, pula merasakannya, sebagaimana tercurah dalam silsilah perguruannya yang terluhur, sumber keselamatan dan sukacita bagi seluruh alam semesta. Siapakah yang akan tahan untuk tidak membuka mulutnya memuji beliau? Bila keagungannya dinyanyikan di surga oleh para Gandharva, di bumi oleh para pujangga suci dan batu-batu pun akan meleleh bila mendengarnya, apalah halangannya bagi hamba untuk turut bersukacita memuji beliau bersama-sama dunia?

Satu-satunya kualifikasi yang ada pada hamba adalah kemauan. Oleh karenanya Sri Jagannatha Rangaraja dan Srila Gurudeva telah berbelas kasih menempatkan hamba dalam pelayanan menyebarluaskan keagungan para Vaishnava, sekalipun kata-kata, tulisan, dan pikiran hamba tiada berharga. Maka tidak ada cara lain bagi hamba untuk membalas kasih Srila Gurudeva selain dengan meneruskan pelayanan ini sampai akhir segalanya. Adalah beliau, permata para Vaishnava yang muncul di Tanah Permata nun jauh di Timur Laut, yang telah memerintahkan hamba untuk menguraikan kemuliaan Srimadacharya. Dengan menjunjung perintah beliau di atas kepala dan menyandarkan diri pada karya-karya suci serta petunjuk para Acharya terdahulu, kini hamba mempersembahkan uraian ini kepada kaki padma semua Vaishnava.

Sri Narayana Panditacharya yang mulia, penulis Sri-sumadhva-vijaya dan berbagai karya agung lainnya menyebut dirinya sebagai manda-buddhe, orang dengan kecerdasan tumpul, dan mengatakan bahwa hanyalah Devata seperti Rudra dan Sesha saja yang mampu menguraikan keagungan Sri Madhvacharya dengan baik. Namun dengan belas kasihnya kepada segenap makhluk, beliau telah memberkati dunia dengan kitab karyanya, yang membuka rahasia ajaibnya kisah kehidupan Srimadacharya kepada dunia dan memberikan kesejahteraan, kemujuran, serta kesukacitaan bagi semuanya. Sungguh sebenarnya beliau adalah seorang sempurna dan yang mahatahu, sehingga apapun yang beliau katakan adalah bebas dari kesalahan dan cacat cela. Begitu pula Srila Sripadaraja yang di kemudian hari melihat ketidakmampuan orang kebanyakan untuk mempelajari, membaca, maupun menuliskan Sri Su-madhva-vijaya, maka beliau menyusun Sri Madhvanama agar semua orang dapat bersukacita memuliakan Srimadacharya kita.

Tetapi hamba hanyalah debu di kaki beliau, yang berusaha melayani dengan menuruti jejak langkah beliau semua, mengungkapkan kembali apa yang telah beliau ungkapkan. Semoga beliau senantiasa berkenan menjaga hamba dari kesalahan menuliskan sesuatu yang tidak mengandung kebenaran dan tidak berkenan bagi Sri Hari, Vayu, Guru, dan para Vaishnava.
Tulisan ini terwujud bukan oleh diri hamba, melainkan semata-mata berkat belas kasih Srila Gurudeva dan cahaya kemuliaan Srimadacharya. Siapakah diri hamba ini? Adalah Sriman Narayana Sendiri yang memuliakan hamba-Nya yang terkasih itu. Hamba hanyalah sebuah pena di Tangan-Nya. Apabila dengan membaca uraian ini, sedikit saja kecintaan kepada Sri Kula-guru-raya Madhvacharya tumbuh di hatinya, maka hamba merasa pelayanan ini sudah berguna. Semoga Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna menjadi puas dengan persembahan ini.

Kamis, 23 September 2010

ORANG SUCI YANG TIADA BANDINGANNYA DARI MANTRALAYA

Sri Gururaja Raghavendra Svami

Seorang karmaja devata yang membantu Deva Brahma dalam pemujaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa bernama Sankukarna, turun ke dunia untuk melayani Tuhan Sri Mahavishnu dalam rupa Beliau sebagai Nrisimhadeva. Itulah penyembah agung Prahlada, yang demi dirinya Tuhan muncul dari sebuah pilar yang terbelah. Pada saat Tuhan turun sebagai Sri Krishna, Prahlada juga lahir kembali untuk melayani sebagai raja Bahlika. Raja Bahlika mengetahui bahwa Pandava Bhimasena memiliki cinta dan pengabdian yang begitu dalam kepada Tuhan Sri Krishna. Bhima bersedia dan mampu melakukan pekerjaan yang paling berat sekalipun demi kepuasan Sri Krishna, karena itu beliau juga dikenal sebagai Vrikodhara. Bahlika menginginkan agar Bhimalah yang akan mengakhiri kehidupannya saat ini, agar kelak dia dapat turun kembali sebagai hamba dari Bhimasena, kapanpun beliau akan turun lagi ke bumi ini. Setelah diperintahkan oleh Krishna, Bhima bersedia mengakhiri hidup Bahlikaraja dengan hantaman gada ringan di badannya. Maka Bahlika meninggalkan badannya sambil memandang Tuhan Sri Krishna dan tuannya yaitu Bhimasena, dengan hati penuh cinta dan pengabdian.

Pada jaman Kali, demi menegakkan dharma sejati, Bhimasena turun kembali ke bumi atas perintah Tuhan Sri Krishna sebagai Srimad Madhvacharya Bhagavatapada. Bahlikaraja sesuai dengan permohonannya dalam kehidupan terdahulu turun pula sebagai Sri Vyasa Tirtha atau Sripada Vyasaraja. Beliau membawa kemuliaan ajaran Srimadacharya Madhva tersebar ke mana-mana. Beliau juga menjadi guru kerohanian dari Maharaja Krishnadevaraya, penguasa Vijayanagara, kerajaan Hindu terbesar di abad pertengahan yang melindungi peradaban Veda selama beberapa abad. Guru Vyasaraja kemudian diyakini turun kembali sebagai Sripada Raghavendra Tirtha Svami.

Keruntuhan kerajaan Vijayanagara membawa dampak yang sangat besar bagi para sarjana Veda yang tergantung pada perlindungan para bangsawan. Mereka kemudian berpindah ke India Selatan bersama sanak keluarganya, dan mendapatkan perlindungan dari para raja dan panglima-panglima di India Selatan. Salah satu dari mereka adalah Thimanna Bhatta yang menurun dalam garis silsilah garis keluarga Maharishi Gautama dan menikahi Gopikamba yang juga berasal dari keluarga brahmana. Pada awalnya pasangan suami istri ini hanya memiliki dua putra, Gururaja dan Venkatamba. Kemudian pada tahun 1595, atas kemurahan hati Tuhan Sri Venkateshwara Svami yang dipuja di Thirupathi, seorang putra lahir lagi. Mereka memberinya nama Venkatanatha, seperti nama Tuhan yang bertahta di Thirupathi. Venkatanatha inilah yang kelak menjadi Guru Raghavendra atau Sri Rayaru.

Ilustrasi beberapa kejadian dalam hidup Sri Rayaru

Venkatanatha menikah dengan Sarasvati yang segera menjadi pasangan suami istri brahmana yang amat saleh. Venkatanatha termashyur akan kesarjanaan, kepandaian, dan kekuatan keberhasilan mantranya. Mereka hidup berbahagia sekalipun penuh kemiskinan.

Sripada Sudhindra Tirtha Svami, penerus silsilah rohani dari Sripada Vyasaraja, memahami potensi rohani dan keagungan Venkatanatha. Beliau mendekati dan menjadikannya murid, yang juga menjadi kesayangannya. Sripada Sudhindra Tirtha menginginkan Venkatanatha meninggalkan hidup berkeluarga, menempuh jalan pelepasan ikatan, mengabdi sepenuhnya kepada ajaran suci Srimadacharya (Madhvacharya) dan silsilah rohaninya. Venkatanatha menjadi ragu antara rasa hormat dan patuhnya terhadap guru dengan peranannya sebagai seorang kepala rumah tangga yang harus menghidupi istri dan anak. Di tengah kebimbangannya Devi Ilmu Pengetahuan, Ibu Vidya Sarasvati, menampakkan diri dan memerintahkannya segera menempuh kehidupan membiara sebagai seorang pertapa sannyasi dan memberkati dunia dengan ajaran agung Srimadacharya serta melanjutkan garis silsilah rohaninya. Ibu Vidya Sarasvati bersabda,

“Setelah merasakan nikmatnya berpesta dengan karya-karya suci penuh kesarjanaan dari Srimadacharya Madhva, Sri Jaya Tirtha, Sri Vyasa Tirtha, Sri Vadiraja, dan yang lainnya, sekarang aku kelaparan lagi. Cahaya gemilang kebenaran Tattvavada yang telah dipancarkan oleh Srimadacharyamu terkasih akan dipadamkan oleh kegelapan ajaran-ajaran lain. Untuk mencegah terjadinya hal ini, jiwa mulia seperti dirimu haruslah melepaskan ikatan duniawi dan mempersembahkan hidupmu kepada Hari (Tuhan) dan Vayu (Deva Angin, pelindung ajaran suci). Inilah tugas dan takdirmu. Engkau adalah roh yang agung, ditakdirkan untuk memberikan penghiburan dan keselamatan bagi berjuta-juta orang yang membutuhkan. Terimalah permintaan Sudhindra Tirtha dan jadilah sannyasi. Engkau adalah kekasih Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari dan inilah yang Dia inginkan darimu.”

"Engkau adalah kekasih Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari"

Akirnya pada tahun 1621 setelah minta diri dari istrinya tercinta, Venkatanatha menghadap Sripada Sudhindra Tirtha di biaranya, memohon pentahbisan memasuki hidup kerahiban. Pada hari ketika Venkatanatha akan mendapatkan diksa sannyasi, inisiasi hidup kerahibannya, Sarasvati, istrinya merasa sangat sedih dan memutuskan untuk menemui suaminya untuk terakhir kali sebelum dirinya samasekali tidak boleh lagi berhubungan dengannya. Sarasvati berlari dari rumahnya menembus hujan badai. Di tengah perjalanan dia tidak melihat ada sebuah sumur tua dan terjatuh ke dalamnya. Kecelakaan ini menyebabkannya mati sebelum waktunya sehingga akhirnya Sarasvati menjadi hantu. Tetapi bahkan dalam bentuk hantu keinginannya adalah tetap untuk dapat melihat wajah suaminya untuk terakhir kali. Begitu hantu Sarasvati tiba di biara, Venkatanatha telah selesai ditahbiskan ke dalam hidup kerahiban. Dia telah mengenakan busana sannyasi dan memiliki ashramanama Sripada Raghavendra Tirtha Svami. Sesuai perintah Devi Vidya Sarasvati dan Tuhan Sendiri, beliau menyediakan dirinya menjadi satu-satunya tempat perlindungan dan penghiburan bagi mereka yang bersusah hati, peristirahatan terakhir bagi mereka yang tak punya harapan lagi, satu-satunya ruang sidang yang menjamin bersedia mendengarkan segala pengaduan dengan kesabaran dan pengertian, samudera belas kasih yang tak akan menolak ratapan meminta tolong dari siapapun juga.

Dengan kekuatan spiritualnya, Sripada Raghavendra Tirtha Svami yang juga dikenal sebagai Sri Rayaru, merasakan kehadiran Sarasvati, mantan istrinya, walaupun sebagai hantu tak dapat dilihat oleh orang lain. Dengan penuh belas kasih Sri Rayaru kemudian memercikkan air dari kamandala (tempat air suci)nya ke arah Sarasvati dan membebaskannya segera dari tubuh hantunya, bahkan segera mencapai moksha, pembebasan dari perputaran kelahiran dan kematian.

Pada tahun 1623 Sudhindra Tirtha kembali ke dunia rohani dan Sri Rayaru diangkat menduduki tahta suci Vyasaraja Math, menggantikan gurunya meneruskan silsilah rohani Srimadacharya. Sri Rayaru memulai pengabdiannya dengan mengajarkan dan mengulas karya-karya agung para Acharya pendahulu. Kemudian beliau mengadakan perjalanan ziarah berkeliling negeri. Selama perjalanan ziarahnya ini Sri Rayaru melakukan berbagai mukjizat dan keajaiban seperti menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati.

Pada saat mendekati akhir kehidupannya di dunia tiga orang ahli nujum yang paling ahli dan terkenal sangat tepat meramalkan usia kehidupan Sri Rayaru. Ketiganya mendapatkan waktu yang berbeda-beda, 100-300-700! Ketiganya sangat yakin akan ketepatan perhitungan ini. Ketika Sri Rayaru diberitahu mengenai hal ini beliau tersenyum dan mengatakan bahwa semuanya benar. “Mereka meramalkan tiga jenis kehidupanku. Satu meramalkan lamanya aku hadir dalam tubuh ini, yang kedua meramalkan kehadiran fisikku dalam stupa brindavana-samadhi, dan yang ketiga adalah pengaruh dari granthaku, ajaran-ajaran suciku!”

Suatu ketika Sri Rayaru mengutarakan maksudnya untuk memasuki makam stupa brindavana-samadhi hidup-hidup. Para pengikutnya terkejut dan sedih, tetapi beliau mengatakan inilah kehendak Tuhan agar beliau dapat membantu semua orang yang membutuhkan. Ketika semua bertanya kapan ini akan terjadi, Sri Rayaru mengatakan waktunya akan segera diungkapkan. Setelah ketidakhadiran fisiknya, maka Sri Rayaru akan tetap hadir di dunia selama 1000 tahun dalam tubuh kesempurnaan yang tak lapuk oleh waktu dan akan terus-menerus membantu siapapun yang berdoa kepada beliau.

Pada saat Sri Rayaru bersama murid-murid tengah mendiskusikan kitab suci, tiba-tiba Sri Rayaru berdiri dan mencakupkan tangan dengan hormat. Tak seberapa lama seuntai kalungan bunga dan daun tulasi tampak melingkari lehernya. Ketika para murid bertanya apa yang sedang terjadi, Sri Rayaru menjawab, “Tadi aku baru saja melihat Krishna Dvaipayana, Maharishi Vyasa yang agung mengendarai kereta menuju Kediaman Tertinggi Tuhan. Aku bertanya kapan giliranku akan tiba dan beliau menegakkan jari tengah dan telunjuknya tiga kali, 2-2-2. Aku memiliki waktu 2 tahun, 2 bulan, dan 2 hari lagi sebelum memasuki samadhi-brindavana.” Menurut perhitungan itu adalah Virodhikruth Samvatsara, Shravana krishnapaksa dvitiya (hari kedua paruh bulan gelap tahun Hindu Virodhikruth).

Sri Rayaru memilih desa Manchale sebagai tempat makamnya. Di tempat inilah Rayaru dalam penjelmaannya dahulu sebagai Prahlada melaksanakan pertapaan dan yajna. Beliau juga menunjuk sebongkah batu hitam yang dipilihnya sebagai bahan untuk membangun makamnya. “Ketika dahulu Tuhan Sri Rama mencari Sita, Beliau datang ke tempat ini dan beristirahat sejenak. Inilah dahulu batu tempat Beliau bersandar. Karena ini telah disucikan oleh sentuhan Tuhan, hanya inilah yang kuinginkan untuk membangun makam brindavanaku.”

Pada saat yang telah ditentukan, Sri Rayaru melaksanakan tugas pemujaannya sehari-hari, kemudian membagikan tirtha, prasada, dan mantrakshata kepada semua yang hadir. Beliau lalu menyampaikan ajaran-ajarannya yang terakhir. Jari-jemarinya memutar untaian japamala, mengucapkan nama suci Tuhan. Di hadapannya semua sastra suci ditempatkan. Beliau lalu mengambil vina dan memetik senarnya. Beliau menyanyikan lagu pujian yang terkenal INDU ENEGE GOVINDA dan mengakhirinya dengan "Dheera Venugopaala Bhaara Kaaniso Hariye". Arca Tuhan Sri Bala Gopala (Kanak-kanak Krishna), dengan ajaib menari mengikuti alunan musik dan lagu penyembahnya ini. Perlahan-lahan beliau memasuki keadaan samadhi yang khusuk sambil mengucapkan aksara suci OM. Gerakannya terhenti, napasnya juga terhenti. Tubuhnya bercahaya gilang-gemilang, wajahnya penuh kedamaian. Murid-murid segera memulai menyusun batu-batu di sekitar tubuh sucinya, membentuk makam samadhi-brindavan bagi Sri Rayaru.

makam/stupa Brindavana Sri Gururaja di Mantralaya

Appanacharya adalah murid kesayangan Sri Rayaru. Pada hari ketika Sri Rayaru memasuki brindavana-samadhi, beliau tengah berada di seberang sungai Tungabhadra yang lain karena dia melupakan gurunya akan memasuki samadhi hari itu. Begitu ingat, dia segera berlari ke arah Manchale. Sambil berlari dia menggubah Sri Raghavendra Stotra yang termashyur itu. Kekuatan kerinduan dan bhaktinya pada Sri Rayaru begitu besar sehingga aliran sungai Tungabhadra yang sedang banjir saat itu terbelah, memberi jalan kepada Appanacharya. Sayang, sekalipun demikian dia terlambat tiba di tempat itu. Bongkah batu terakhir telah ditempatkan menutupi Acharyanya. Dalam kesedihan Appanacharya tak mampu melanjutkan Stotra bait terakhirnya, “kirtir divijita vibhutiratula.....” Tiba-tiba terdengar suara bergema dari dalam makam samadhi, “sakshi haya syo’tra hi” (Tuhan Hayagriva, Asal Muasal Segala Ilmu akan menjadi saksi segala pernyataan Appanacharya dalam stotranya dan membuat segalanya menjadi kenyataan). Hingga saat ini, siapapun yang mengucapkan Sri Raghavendra Stotra dengan keyakinan dan bhakti akan mendapat karunia Sri Rayaru.

OM SRI RAGHAVENDRAYA NAMAH

Rabu, 17 Maret 2010

VAISHNAVA JAN TO DAN NARSINH MEHTA

VAISHNAV JAN TO

1.
VAISHNAV JAN TO TENE KAHIYE JE PEED PARAAEE JANE RE ...
Vaishnava sejatilah dia, yang memahami derita orang lain dan merasakannya sebagai dukacitanya sendiri.
PAR DUKKHE UPAKAR KARE TOYE, MAN ABHIMAN NA AANE RE ...
Selalu bersedia melayani mereka yang sengasara, tanpa membiarkan kebanggaan bertumbuh dalam batinnya

2.
SAKAL LOK MAAN SAHUNE VANDE, NINDAA NE KARE KENI RE ...
Bersujud dengan rendah hati pada setiap orang. Tanpa pernah mencari kesalahan atau memperhatikan kekurangan mereka.
VAACH-KAACCH-MAN NISCHAL RAAKHE, DHAN-DHAN JANANI TENI RE ..
Dia menjaga ucapan, perbuatan, dan pikirannya senantiasa suci murni. Terberkatilah ibu yang memiliki seorang putra demikian.

3.
SAM-DRUSHTI NE TRISHNAA TYAAGI, PARASTREE JENE MAAT RE ...
Memandang semuanya dengan kesetaraan. Dirinya telah terlepas dari belenggu nafsu, memperlakukan setiap wanita sebagaimana ibunya sendiri.
IHVAA THAKE, ASATYA NA BOLE, PAR-DHAN NAVA JHAALE HAATH RE ...
Dusta tak terucap oleh lidahnya, niat memiliki harta orang lain tidak menodainya.

4.
MOH-MAAYAA VYAAPE NAHIN JENE, DRADH VAIRAGYA JENA MANMAA RE ...
Ikatan duniawi yang mengkhayalkan tidak membelenggunya. Batin sepenuhnya terpancang kuat dalam ketidakterikatan sejati.
RAAM-NAAM SHU TAALE LAAGI, SAKAL TEERATH TENA TANMAA RE ...
Setiap saat khusuk dalam melantunkan Nama Suci Sri Rama. Segala tempat perziarahan suci hadir di tubuhnya.

5.
VANA LOBHI NE KAPAT RAHIT CHHE, KAAM KRODH NIVAARYA RE ...
Keserakahan, rasa iri-dengki, nafsu birahi, dan amarah telah ditaklukkannya.
BHANE NARSAIYYON TENO DARSHAN KARTAUN, KUL EKOTER TARYA RE ...
“Hanya dengan melihat seorang Vaishnava demikian, dua puluh satu generasi keluarga terselamatkan dari samsara!”, seru Narsinh

Narsinh Mehta, juga dikenal sebagai Narsi Mehta atau Narsi Bhagat (1414 -1481) adalah seorang suci penyait dari Gujarat, India, termashyur sebagai seorang bhakta dan tokoh dalam dunia sastra kebaktian Hindu. Beliau terutama dihormati di Negara bagian Gujarat, dimuliakan sebagai Adi Kavi, Sang Pujangga Perdana. Lagu Bhajan gubahannya, “Vaishnava Jana To Tene Re Kahiye…” adalah kesukaan Mahatma Gandhi dan menjadi identik dengannya.

Keterangan pasti tentang riwayat hidup Narsinh Mehta tidak tersedia. Berdasarkan penelusuran melalui sejarah dan sastra, Narsinh dipastikan lahir di Talaja, Distrik Bhasnagar, Saurasthra, dalam komunitas Nagar. Beliau ditinggal mati oleh ibunya saat masih anak-anak (sekitar tahun 1425). Narsinh menikahi Manekbai kira-kira pada tahun 1428 dan segera setlahnya, beliau kehilangan seorang paman yang telah membesarkannya. Narsinh dan istrinya lalu pindah tinggal di tempat sepupunya sendiri, Bansidhar, di Junagadh. Namun tampaknya istri sepupunya itu tidak menyambutnya dengan baik. Wanita ini seorang yang bertabiat buruk, selalu mengganggu dan mengejek pemujaan yang dilakukan oleh Narsinh pada Tuhan. Sampai suatu ketika Narsinh sudah tidak tahan lagi dengan semua perlakuan itu dan memutuskan meninggalkan rumah, mengasingkan diri di sebuah hutan di dekat sana. Demi mencari kedamaian beliau duduk di sisi sebuah Siva-linga, berpuasa dan bermeditasi selama tujuh hari, sampai kemudian Siva sendiri menampakkan diri menjumpainya. Atas permohonan sang pujangga, Siva membawanya ke Vrindavan dan menunjukkan kepadanya Rasa-lila kekal yang dilangsungkan oleh Tuhan Sri Krishna bersama para gopi, gadis-gadis gembala dari Vrindavan. Legenda menyatakan bahwa saat itu Narsinh begitu terpukau memandang keindahan Tuhan dan kegiatan sukacita-Nya yang mempesona, sehingga tangannya terbakar obor yang mulai habis tanpa dia sendiri menyadari rasa panas atau sakitnya. Narsinh, sebagaimana diyakini oleh masyarakat, lalu memutuskan untuk menyanyikan puji-pujian kepada-Nya dan melukiskan manisnya pengalaman akan rasa sukacita rohani kepada dunia kita ini, atas perintah dari Sri Krishna. Hasilnya, 22.000 puisi kirtana mampu digubahnya.

Setelah pengalaman batin ini, Narsinh yang telah mengalami transformasi diri lalu kembali ke desanya, menyentuh kaki ipar perempuan yang sering menyiksanya itu, dan berterimakasih atas semua perlakuan yang telah ia berikan selama ini. Perlakuan buruk itu telah menjadi pemicu bagi pengalaman rohaninya.

Di Junagadh, Narsinh tetap hidup dalam kemiskinan bersama istrinya dan dua anak, seorang putra bernama Shamaldas, dan seorang putri yang memperoleh kasih sayangnya yang istimewa, Kunwarbai. Dia mencurahkan isi hatinya dalam manisnya Bhakti tanpa membedakan status maupun jenis kelamin, bersama para sadhu, orang-orang suci, dan masyarakat dari lapisan terbawah yang paling malang, rakyat yang hanya memiliki Tuhan sebagai pelindung satu-satunya, para Harijan. Narsinh juga terjebak oleh jatuhnya reputasi dan nama baiknya karena pergaulannya dengan para pengikut perempuannya, yang turut menyanyi dan menari-nari bersama beliau. Kaum Nagar yang terhormat dari Junagadh tak henti-hentinya memaki dan mengucilkannya. Saat itu, Narsinh telah menyanyikan lagu-lagu tentang Rasalila antara Radha dan Krishna. Gubahannya ini termasuk dalam karya-karya Shringara (percintaan erotis). Mereka yang tidak memiliki kepantasan rohani selalu salah paham dengan bentuk-bentuk uraian semacam ini dan menyamakannya dengan karya sastra erotis yang biasa. Bentuk karya Shringara yang bersifat rohani dibedakan dari karya-karya klasik bertema percintaan yang lumrah dari India abad pertengahan lainnya.

Tak lama setelah pernikahan putrinya, Kunwarbai, dengan putra dari Sringara Mehta, Kunwarbai pun mengandung dan menjadi adat bagi orangtua pihak wanita untuk memberikan hadiah kepada para menantu laki-lakinya saat istri mereka hamil tujuh bulan. Adat ini disebut Mameru, tentu saja berada di luar jangkauan kemampuan ekonomi Narsinh yang miskin, yang hampir tidak punya sesuatupun yang berharga selain keyakinannya yang tak tergoyahkan kepada Tuhan.

Bagaimana akhirnya Tuhan Sendiri turun tangan untuk membantunya, dilukiskan oleh Narsinh dalam lagu ”Mameru Na Pado”. Kisah ini tergambar jelas dalam benak setiap orang Gujarati sampai jauh setelah masa hidupnya, ditandai oleh banyaknya puisi-puisi dan film-film yang mengisahkannya. Kisah lainnya adalah ketika Shamalsha Seth (Si Hitam yang berperan sebagai Seth. Si Hitam adalah julukan akrab untuk Krishna dan Seth artinya tuan kaya) menghapuskan isi surat utang yang ditandatangani oleh pemuja-Nya yang miskin ini. Kejadian lain dikenal sebagai ”Har Mala”. Ra Mandlik (1451 - 1472) seorang penguasa setempat dan bawahan Sultan Delhi menantang Narsinh untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah dalam sebuah kasus pelanggaran moral dan membuat Sri Krishna Sendiri hadir mengalungkan untaian bunga di lehernya. Sri Krishna juga hadir dalam wujud seorang saudagar kaya dan membantu pernikahan putranya. Narsinh mengenang bantuan ini dalam puisi “Putra Vivah Na Pado”.

Mahmud Begada (Mahmud Shah I, 1458 – 1511), menduduki Junagadh pada tahun 1467 dan tak lama setelah penyerbuan oleh kaum Muslim di sana sini, kota tersebut akhirnya dimasukkan dalam wilayah Kesultanan Gujarat. Mungkin untuk menghindari akibat-akibat yang tidak diinginkan, Narsinh pindah ke Mangrol, dan diyakini meninggal di sana pada usia 66 tahun. Crematorium yang terdapat di Mangrol disebut “Narsinh Nu Samshan”, kemungkinan merupakan tempat dilangsungkannya upacara terakhir bagi putra Gujarat yang teragung ini. Beliau akan selalu diingat melalui karya-karyanya yang dibaktikan demi Tuhan. Beliau termashyur sebagai pujangga yang paling awal dari Gujarat.

Salah satu ciri unik karya-karya Narsinh adalah saat ini hampir tidak ada yang tersedia dalam bahasa yang digunakan oleh Narsinh sendiri saat menggubahnya. Ini menandakan bahwa karyanya demikian tersebar luas melalui tradisi oral dan tetap dilestarikan seperti itu. Naskah tertua dari karyanya yang masih dapat ditemukan berasal dari sekitar tahun 1612, ditemukan dari Gujarat Vidyasabha oleh cendikiawan yang terkenal, K.K. Shastri. Karena sangat populernya karya-karya Narsinh, maka seiring berjalannya waktu, bahasa yang digunakan turut berubah. Untuk mudahnya, hasil gubahan Narsinh Mehta dapat digolongkan menjadi:

1. Karya yang bersifat autobiografi: Putra Vivah, Mameru, Hundi, Har Same Na Pado, Jhari Na Pado, dan karya-karya yang berhubungan dengan penerimaan para Harijan. Karya-karya ini berkaitan dengan berbagai peristiwa dalam kehidupan sang pujangga dan mengungkapkan bagaimana beliau berjumpa dengan Yang Illahi dalam berbagai rupa. Mereka menguraikan keajaiban dan mukjizat, bagaimana Tuhan dari Narsinh, turut campur tangan membantu hamba-Nya ini melalui masa-masa tersulitnya.
2. Bermacam-macam uraian peristiwa yang berdasarkan atas Srimad Bhagavatam, misalnya:
Chaturi: 52 syair yang menyerupai karya agung Jaideo (Jayadeva), Sri Gita Govinda, mengisahkan berbagai kegiatan percintaan Radha dan Krishna.
Dana Lila: mengisahkan peristiwa saat Krishna menjadi pemungut pajak dari para gadis gembala yang akan menjual mentega ke Mathura.
Sudama Charita: mengisahkan salah satu peristiwa paling terkenal yaitu riwayat brahmana miskin Sudama yang menjadi kawan baik Krishna.
Govinda Gamana: mengisahkan kepergian Krishna ke Mathura setelah dijemput oleh Akrura.
Surata Sangrama: artinya Peperangan Cinta, mengisahkan permainan kasih Radha dan Krishna dalam bentuk perang tanding antara Radha bersama teman-teman-Nya di satu sisi dan Krishna beserta kawan-kawan-Nya sebagai lawan.
Kejadian-kejadian lain dari Bhagavata seperti kelahiran Krishna, permainan-Nya saat anak-anak, canda ria-Nya, dan berbagai petualangan-Nya yang lain.
3. Lagu-lagu yang bertema Shringar: ratusan syair yang menggambarkan dan bertema petualangan cinta yang bersifat erotis seperti Tarian Rasa.

Senin, 08 Maret 2010

MURID YANG TAK TERNILAI MULIANYA


Kureshan adalah salah satu dari empat murid utama Sri Ramanuja. Tahun ini merupakan perayaan ke 1000 Thirunakshatram (hari kelahiran) Sri Kureshan yang dikenal juga dengan sebutan hormat Kurattalvan.

Kureshan berasal dari dusun Kura yang terletak di dekat kota suci Kanchipuram. Beliau termasuk dalam marga Harita dan seorang yang cukup berada, makmur, serta pemilik tanah yang hidup rukun damai bersama sanak saudara dan handai taulannya. Kebahagiaan Kureshan sebagai orang terpandang dilengkapi oleh istrinya yang masih muda dan ramah, Andalamma. Mereka sekeluarga hidup sejahtera dan bahagia. Keduanya terkenal sebagai suami istri yang amat sangat dermawan dan baik hati, serta pemuja yang saleh dari Tuhan Junjungan di Pura Utama kota suci tersebut, Sri Kanchi Varadarajan.

Semenjak awal hidupnya, Kureshan telah terkagum-kagum pada Ramanujacharya, yang pada saat itu juga sedang tinggal di Kanchi. Itu adalah masa-masa ketika secara perlahan Sri Ramanuja bertumbuh menjadi penggagas sebuah perguruan pemikiran baru. Beliau tengah menyebarkan pemikiran dan pandangannya yang baru, berbeda dengan monisme absolut Advaita yang berkembang luas di masyarakat masa itu. Sekumpulan murid-murid dan pengikut juga mulai tumbuh di sekitar Ramanuja. Kureshan tanpa membuang waktu segera menjadi murid Sri Ramanuja. Keduanya lalu menjadi akrab dengan mudah. Di bawah bimbingan Sri Ramanuja, Kureshan segera memulai pembelajaran mendalamnya atas pustaka suci Veda yang purba dan lebih mengkhususkan diri lagi dalam mempelajari Mimamsha-sutra. Hubungan persaudaraan yang kuat terbangun antara guru dan murid ini dalam bertahun-tahun kebersamaan mereka di Kanchi.

Pada usia paruh bayanya, Ramanuja kemudian menerima kehidupan pelepasan ikatan, Sannyasa, dan dipanggil oleh masyarakat Srivaishnava yang berada di Sri Rangam agar bisa membangun mereka menjadi satu kekuatan terpadu untuk melawan tekanan pemerintah daerah saat itu yang cenderung pada Saivisme. Demikianlah kemudian Sri Ramanuja dengan menuruti perintah para tetuanya di Srirangam seperti Mahapurna dan juga Kanchipurna yang berada di Kanchi, akhirnya memutuskan untuk pindah ke Srirangam. Beliau meninggalkan Kanchi demi kebaikan dan tidak pernah lagi kembali ke sana, kecuali untuk sekedar kunjungan singkat saja.

Kepindahan ini membuat seakan berakhirnya hubungan akrab antara Sri Ramanuja dengan Kureshan. Melihat bahwa gurunya kini telah berangkat ke Srirangam, Kureshan pun akhirnya meninggalkan kota Kanchi dan kembali ke dusunnya di Kura untuk hidup sebagaimana sebelumnya. Namun ternyata Tuhan Varadarajan dan Pendamping Rohani-Nya, Perundevi Thayyar, memiliki rencana lain untuknya.

Bersama kepergian gurunya, Sri Ramanuja, ke Srirangam, maka Kureshan dan Andalamma kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman tanpa kejadian-kejadian berarti di Kura. Suatu sore, setelah menyelesaikan kebiasaan sehari-hari mereka memberikan derma makanan kepada orang-orang miskin, maka merekapun pergi beristirahat. Mereka menutup daun pintu perunggu yang besar di gerbang rumah.

Suara dentangan pintu perunggu yang besar ini begitu keras menembus keheningan malam sampai terdengar jauh di Kanchi. Tuhan Varadaraja dan Perundevi Thayyar juga merasa sedikit kaget mendengarnya. Thayyar bertanya kepada Tuhan Varadaraja dari mana asal suara berdentang itu. Tuhan lalu berbalik kepada Sri Kanchipurna, pendeta-Nya dan juga merupakan salah satu guru dari Sri Ramanuja. Kanchipurna menjawab, “Tuhan, itu adalah suara dari pintu gerbang Kureshan kita yang baru saja ditutup setelah seharian memberikan sedekah pada orang-orang.” Tuhan dan Perundevi-piratti sangat senang mengetahui kedermawanan dan kebaikan hati Kureshan. Mereka lalu memerintahkan agar Kureshan segera dibawa ke hadirat-Nya.

Seketika itu pula Kanchipurna segera berangkat menjemput Kureshan di rumahnya. Begitu sampai di Kura, dan mengetahui segalanya dari Kanchipurna, Kureshan merasa sangat menyesal, “Benarkah?! Suara dentangan pintuku sampai mengganggu istirahat Tuhan di Kanchi. Sungguh hamba adalah orang licik yang memamerkan kedermawanannya ke seluruh dunia! Betapa berdosanya diri hamba ini.”

Kejadian tersebut tampaknya mengguncang dan membangunkannya dari keadaan rohaninya yang tengah terlelap. Dia pun menyadari pilihan hidup yang terpampang di depan matanya namun tanpa disadari telah dihindarinya semenjak kepergian Sri Ramanuja. Dia dapat terus tinggal dan menjalani hidup penuh kedermawanan yang tidak terlalu bermakna atau dapat ikut bersama Sang Guru Ramanuja ke Srirangam dan melayani misi kehidupannya. Kureshan pun lalu segera membuat keputusan!

Kureshan mempersilakan Guru Kanchipurna kembali ke Kanchi. Dia kemudian menyuruh istrinya, Andalamma, untuk segera meninggalkan segala harta benda dan kekayaan mereka, lalu menyusul pindah ke Srirangam demi menempatkan diri mereka selamanya dalam pelayanan kepada Sang Acharya. Inilah titik balik terpenting dalam hidup Kureshan. Malam itu juga, suami istri berjalan keluar meninggalkan rumahnya yang nyaman, meninggalkan segalanya, hanya menyisakan pakaian yang melekat di badan mereka saja. Berdua mereka menembus kegelapan malam, berjalan kaki menuju Srirangam.

Sepanjang jalan, Kureshan dan Andalamma harus melalui hutan lebat. Andalamma tampak cemas akan ada perampok yang menghadang mereka saat malam begini dan mengancam hidup mereka dan dia tidak mampu menyembunyikan ketakutannya itu dari suaminya. Kureshan yang memperhatikan kekhawatiran istrinya lalu bertanya, “Andal, melihat engkau begitu cemas seperti ini sepertinya ada yang engkau sembunyikan dariku. Aku sudah menyuruhmu untuk meninggalkan segala harta benda kita semuanya di Kura, sungguhkah engkau benar-benar tak menyisakannya sedikitpun?” Akhirnya Andalamma mengaku, “Swamin, saya telah meninggalkan semuanya kecuali cangkir emas yang kecil ini. Saya menyembunyikannya di balik sari-ku. Saya pikir saya akan membutuhkannya selama perjalanan untuk wadah minuman jikalau sewaktu-waktu engkau merasa haus dan lelah.” Kureshan melihat cangkir emas yang dikeluarkan istrinya dari balik sari dan berkata dengan lembut, “Andal, saat aku ingin engkau meninggalkan semuanya, itu berarti segala-galanya termasuk benda ini juga!” Kureshan lalu mengambil cangkir itu dari tangan Andalamma dan melemparkannya ke semak-semak hutan yang gelap. “Itulah dia! Sudah kubuang penyebab semua rasa takut dan cemasmu itu!”

Kedatangan Kureshan dan Andalamma di Srirangam disambut dengan penuh kegembiraan oleh Sri Ramanujacharya. Beliau menerimanya seperti mereka adalah darah dagingnya sendiri. Mereka pun diberi tempat tinggal di ruangannya dan Acharya sendiri lalu segera memberi mereka peran dalam kehidupan masyarakat di Srirangam.

Kureshan memulai bab baru dalam kehidupannya di Srirangam sebagai salah satu murid terdekat Sri Ramanuja. Dia mendampingi Sri Ramanuja dalam segala urusannya demi penataan kuil Sri Ranganatha dan masyarakat Srivaishnava. Dia adalah tangan kanan Sri Ramanuja dalam pembelajaran sastra suci, perdebatan, dan penelaahan kitab-kitab suci. Dia selalu ada di belakang Sang Acharya dan selalu siap sedia. Dia mengurusi bahkan kebutuhan Gurunya yang paling remeh. Kureshan adalah mata dan telinganya, diri kedua dari Sang Acharya. Di mana ada Sri Ramanuja, di sana pasti ada Kureshan. Kureshan bagaikan bayangan Sang Acharya yang sungguh setia.

Selasa, 09 Februari 2010

Pertobatan Sang Raja Penyamun

Terlahir dalam tubuh duniawi
suatu penerimaan atas dukacita tak tertanggungkan

aku dipenuhi bilur-bilur cambuk, aku dipenuhi sesal
kubiarkan diriku berlari-lari mengejar wanita molek

pencarian akan kenikmatan birahi

dari persatuan yang mereka berikan.

Oh lihatlah!
Oleh belas kasih Tuhan kita
aku sadar ada tujuan yang lebih agung

yang akan memberiku bahagia abadi - sukacita yang kekal

aku telah mencari ini dan aku telah menemukannya

menemukannya dalam

narayana ennum naamam
Nama Narayana yang manis

(Thirumangai Alvar)


THIRUMANGAI ALVAR LAHIR SEBAGAI INKARNASI DARI Saranga, busur Tuhan Sri Vishnu pada saat purnama bulan Kartika di Alli Nadu yang termasuk wilayah kekuasaan raja-raja dinasti Chola. Dia diberi nama Nila. Dia adalah seorang bangsawan ksatriya yang hidup dalam keduniawian dengan wanita, kepuasan indria dan pedang. Penguasa Chola mengangkatnya menjadi panglima dan penarik pajak yang membawahi daerah Alli Nadu, yang beribukota di Mangai, sehingga dia juga disebut Mangai Mannan. Mannan terkenal oleh keperkasaannya dalam bidang militer, dibantu rekan-rekannya yang memiliki reputasi mengerikan juga, dan menunggangi seekor kuda ganas yang disebut Aadal Maa. Dalam pertarungan tidak pernah terkalahkan karena itu juga dijuluki Parakala, kematian bagi musuh-musuhnya. Perjalanan rohaninya dimulai karena sebab yang tak disangka-sangka. Yaitu perkenalannya dengan seorang wanita yang dicintainya setengah mati.

Mannan membuat persetujuan dengan pujaan hatinya yang bernama Kumudhavalli. Gadis cantik itu tidak meminta harta sebagai bukti cinta kekasihnya. Tetapi Devi Kumudhavalli meminta mas kawin berupa jamuan amudhu (prasadamrutha) bagi 1000 vaishnava-sadhu setiap hari.

Thirumangai Alvar dan Devi Kumudhavalli

Didorong oleh rasa cintanya yang besar kepada Kumudhavalli, Mannan menyanggupi. Dia menggunakan seluruh harta kekayaannya untuk melayani prasadam 1000 Vaishnava setiap hari. Semakin lama keterikatannya pada pelayanan ini semakin kuat. Jadilah karya yang didorong keinginan mendapatkan kenikmatan birahi ini berubah menjadi pengabdian suci kepada para hamba Tuhan. Tahun demi tahun berlalu. Seluruh kekayaannya habis untuk pelayanan. Dia jatuh miskin. Tetapi keterikatannya akan pelayanan ini telah berakar kuat.
Maka jadilah kisah serupa perampok budiman dari hutan Sherwood (Robinhood). Dengan keahlian dan kehebatannya sebagai ksatriya dia mencegat orang-orang kaya yang lewat hutan, kemudian hasil rampokannya digunakan kembali untuk melayani orang-orang miskin. Dahulu ia bangsawan perkasa yang murah hati, sekarang ia adalah bandit tak terkalahkan yang berpihak pada orang susah.

Ketulusan Mannan menyentuh hati Bhagavan Sriman Narayana yang memutuskan untuk turut campur dan mengalihkan hidupnya dari jalan pedang. Tuhan dan pendamping-Nya, Ibunda Sri, muncul di hadapan Mannan sebagai sepasang brahmana pengantin baru yang kaya, dihiasi benda-benda berharga. Mannan mencegat Pasangan Suci itu dan melucuti perhiasan-Nya.

Satu demi satu Mannan mencopoti perhiasan-perhiasan surgawi itu. Tapi sebuah cincin masih melekat erat di jari kaki padma Ibunda Mahalaksmi, Pendamping Tuhan yang kekal, Ibu Alam Semesta. Susah payah dia menarik tanpa hasil. Keringatnya bercucuran oleh usaha yang tampak sia-sia. Akhirnya Mannan menempatkan kepalanya di kaki padma Ibunda Sri dengan maksud menarik lepas cincin itu memakai gigi.

Saat itulah Mannan terpesona oleh kecantikan kaki padma Tuhan yang begitu menawan. Maka tampaklah oleh penglihatannya hakikat sejati Pasangan Suci di hadapannya. Dalam derai air mata bahagia Mannan mendengarkan Tuhan memaparkan makna rahasia Astaksaramantram (Mantra delapan aksara, (pranava) NAMO NARAYANAYA). Demikianlah akhirnya Thirumangai memperoleh pencerahan atas nama suci Narayana dari Tuhan Sri Narayana Sendiri.

Mannan terhanyut dalam samadhi dan menyanyikan syair pujiannya di hadapan Pasangan Suci. Syair-syairnya disebut Periya Thirumadal (Puisi Suci Yang Agung) terdiri dari 1.084 paasuram. Sepuluh syair dipersembahkan untuk memuliakan nama suci Narayana. Syair yang lain menggambarkan penyesalannya atas segala kegiatan berdosa yang dilakukannya demi kenikmatan duniawi dan hari-harinya yang telah berlalu dalam usaha-usaha jasmani. Selain itu Mannan juga mengungkapkan pencapaiannya akan pencerahan atas nama suci Narayana, yang membersihkannya dari segala noda dosa. Mannan pun menjadi salah satu dari para Alvar. Dia dikenal sebagai Thirumangai Alvar, Alvar Suci dari Mangai.

Thirumangai Alvar mengatakan bahwa nama suci Tuhanlah satu-satunya yang dapat memberi kebahagiaan tiada berkesudahan. Syair-syair Thirumangai akan membuat airmata menetes dari mata setiap Vaishnava yang mendengar maupun mengucapkannya. Airmata yang mengalir oleh kerinduan akan nama suci Tuhan yang begitu manis. Setelah kejadian terpenting dalam hidupnya itu, Thirumangai melakukan perziarahan ke tempat-tempat suci seperti Haridwar, Badrinath, Naimisaranya, dan sebagainya.

Kubah Emas Sri Ranga Vimanam (Paravasudeva/Pranavakara Vimanam)

Bahkan setelah pertobatannya ke dalam jalan Sri Vaishnava dia masih menggunakan keahliannya sebagai ksatriya untuk melindungi Vaishnava-dharma dengan pedang. Tak seorangpun berani mengganggu kegiatan-kegiatan suci dan perayaan yang dilaksanakan di Sri Rangam selama kehadirannya. Thirumangai biasa berjalan di depan pawai iring-iringan Arca Bhagavan Sri Ranganatha yang melewati jalan-jalan Sri Rangam dengan membawa lembing dan pedang terhunus. Di saat jaman Kali dipenuhi penyebaran ajaran-ajaran kegelapan yang membahayakan kelangsungan Sri Vaishnava, Thirumangai Alvar mengalahkannya dengan pedangnya. Dia dikenal sebagai Kalidvamsha, Penghancur Kaliyuga. Dia juga melapisi kubah besar Paravasudeva Vimanam, yang berada tepat di atas tahta Tuhan Sri Ranganatha dengan emas.

Senin, 01 Februari 2010

ORANG SUCI DARI URAIYUR

“Bilapun mereka tak berkasta, di luar empat varna,
tak memiliki apapun yang baik dalam dirinya,
tetapi, bila mereka larut dalam cintakasih yang begitu dalam
kepada Tuhan yang bagaikan zamrud biru, Sang Pemegang Chakra.
Bukan saja mereka, tetapi pelayan dari pelayannya
adalah tuan bagiku, untuk selama-lamanya.”
(Nammalvar, Thiruvaymoli 3.7.9)

Di kala rembulan menghiasi angkasa bersama dengan gemilang cahaya bintang Rohini, tepat di bulan suci Kartthika, maka Srivatsha, garis keemasan yang menghiasi dada Tuhan, turun ke dunia sebagai seorang anak yang dilahirkan dalam keluarga sederhana di kota Uraiyur. Kota ini terletak di seberang selatan sungai Kaveri dan menjadi tempat tinggal bagi sekeluarga Paana, golongan pemusik jalanan yang mencari nafkahnya dengan menyanyi menghibur orang-orang, sambil memetik senar vinanya. Golongan Paana tidak memiliki status sosial yang sama dengan pemusik jalanan apalagi seniman musik masa kini. Mereka bahkan digolongkan berkelahiran sedemikian rendahnya, sehingga hak-hak yang mereka miliki sangat terbatas, baik dalam pergaulan sosial maupun fungsi relijiusnya.

Thirupaanan-alvar (Munivahana)

Keturunan para pemusik jalanan adalah orang-orang yang kehadirannya sekalipun dianggap oleh mereka yang berkelahiran tinggi, kaum pendeta terpelajar dan bangsawan feodal, dapat mengotori kesucian mereka. Dalam keluarga seperti inilah hamba Tuhan yang mulia ini dilahirkan. Walau demikian, tradisi suci mengatakan bahwa sesungguhnya anak ini tidak lahir dengan cara biasa. Dia muncul secara ajaib di tengah-tengah rumpun padi yang menguning di sawah. Bercahaya gemerlapan dan menarik hati ayah Paananya yang penasaran untuk datang, mengangkatnya sebagai anak dan memeliharanya. Oleh karena asal-usulnya inilah dikatakan bahwa sejak kehadirannya di dunia, ayahnya tidak pernah membiarkannya menyentuh makanan “ternoda” yang biasa dikonsumsi oleh kaum mereka. Dia hanya minum susu sapi.

Dari rumahnya yang sederhana di Uraiyur, Paana kecil dan keluarganya, terbiasa memandangi menara yang menjulang di atas pintu gerbang Kuil Agung Sri Ranganatha, Kediaman Rohani Tuhan Yang Maha Esa, ketika Dia berkenan memberkati seluruh dunia dengan kehadiran-Nya yang mahaberkarunia. Di tempat ini orang-orang menikmati kedekatan dengan Tuhan di dalam Kuil Agung-Nya, yang disebut sebagai Kerajaan Tuhan di Atas Bumi (Bhuloka Vaikuntham), dan dapat berdoa sepuas-puasnya mengungkapkan isi hati di hadirat-Nya yang suci di Srirangam. Paana sekeluarga harus puas hanyalah dengan memandangi pintu masuk ke dalam Istana-Nya itu. Semua karena haknya yang sama sekali ditiadakan oleh kelahirannya yang sedemikian rendah. Mereka semua, terutama Paana kecil kita ini, hanya dapat memendam kerinduannya akan Tuhan yang bersemayam dalam istana-Nya yang megah di Srirangam, dengan tujuh gerbang, tujuh menara, dan tujuh benteng yang mengelilingi-Nya. Paana boleh jadi lahir dalam kerendahan, namun dia bertumbuh dalam cinta dan kerinduan yang begitu tinggi. Cinta rohani yang membawanya dalam keluhuran pencerahan sempurna. Persatuan cintanya dengan Yang Mahasuci dan Mahatinggi di Sri Rangam.

Paana kecil bersama ayahnya memetik senar gitarnya dan menyanyikan lagu-lagu untuk orang-orang dan peziarah yang memenuhi kota suci ini, demi bertahan hidup. Apabila nyanyian mereka tak mendatangkan sesuap nasi, maka mereka terpaksa bekerja menyapu jalanan yang mengitari benteng terluar kompleks Kuil Agung Srirangam. Begitulah masa kecilnya berlalu, dengan membersihkan kotoran, rontokan dedaunan, kerikil-kerikil, dan sampah-sampah lainnya dari jalanan yang menuju tempat kediaman Tuhan.

Suatu hari kerika sedang bersih-bersih seperti itu di areal terluar kuil, Paana kecil bertanya kepada ayahnya. Mungkinkah mereka juga dapat menyapu dan membersihkan bagian dalamnya sekalian. Sang ayah berkata tidak. “Mengapa?”, tanya Paana kecil.
“Nak, di dalam Kuil Tuhan kita yang agung tidak ada sampah yang perlu dibersihkan. Itu adalah Kediaman Rohani, tempat bertahtanya Raja kita yang indah menawan. Dia adalah yang Mahakuasa, Suci, dan Murni. Tidak perlu membersihkan apapun di hadirat-Nya, karena Tuhan adalah suddha-sattva, kesucian itu sendiri. Tetapi sebaliknya, bila ayah dan kamu memasuki kuil, bukannya membersihkan, kita hanyalah mengotori tanah Tuhan Ranganatha yang suci dengan noda dosa-dosa kita yang berkelahiran rendah ini.”

Paana kecil terkagum-kagum. Tentu saja kita pun akan merasakan hal yang sama apabila sedari kecil kita hanya tahu bergulat dengan sampah. Sebuah tempat bebas sampah adalah sesuatu yang mengagumkan bagi kita. “Kalau memang di bumi ini ada tempat seperti yang ayah katakan itu. Tempat Tuhan kita Sri Ranganatha bertahta, yang adalah kesucian itu sendiri dan tidak perlu dibersihkan seperti jalanan ini, suatu hari saya harus melihatnya.”
“Mungkin saja suatu hari kamu akan melihatnya, Nak. Tapi sekarang jangan berpikir macam-macam, lakukan saja pekerjaan kita membersihkan sampah dari jalanan ini. Agar para peziarah yang datang untuk memuliakan Tuhan kita tak terganggu.”

Jadi inilah yang dilakukan oleh Thiruppaana. Menyanyi di jalanan dan menyapu jalanan itu juga, sama seperti paana-paana malang lainnya yang mungkin juga tersebar di seluruh muka bumi. Bedanya hanya dia menyanyikan lagu-lagu kerinduannya kepada Tuhan dan menyapu jalanan yang menuju ke Kuil Tuhan. Limapuluh tahun hidupnya berlalu seperti ini. Bila dia menyanyi, matanya akan tertuju kepada gerbang Kuil yang dihiasi menara tinggi menjulang megah. Bukan hanya matanya, tetapi hatinya juga turut mengalir bersama curahan senandung rohaninya, seakan diwakili oleh airmatanya yang bercucuran, dengan pengharapan semoga alirannya dapat mencapai tahta Sri Ranganatha dan mencuci kaki-Nya yang suci. Di antara sungai suci Kaveri dan pintu gerbang Kuil dia berdiri. Di sanalah dia memetik senar gitarnya, mengiringi lagu cintanya kepada Sri Ranganatha, Tuhan Yang Maha Esa.

Pada suatu hari Lokasaranga Mahamuni, seorang brahmana yang terhormat, pendeta utama dari Kuil Sri Ranganatha yang bertugas mengambil air suci dari sungai Kaveri untuk keperluan puja kepada Tuhan datang dari menunaikan tugasnya. Diiringi segala tanda kehormatan, panji-panji, payung, dan alunan suara serunai, Lokasaranga Mahamuni membawa periuk berisi air suci, akan memasuki Kuil Agung Tuhan Ranganatha. Di tengah jalan sang Muni berjumpa dengan Thiruppaana yang tengah khusuk menyanyikan nama-nama suci Tuhan dengan pikiran terpusat sepenuhnya.

Mahamuni yang terhormat, di depan matanya hanyalah seorang penyanyi jalanan berkelahiran rendah, orang yang selalu bergelut dengan sampah dan kotoran, tengah menghalangi jalannya dan berisiko menodai dirinya, kesucian kedudukannya sebagai pendeta agung, dan air suci yang akan dipersembahkannya kepada Tuhan. Lokasaranga Mahamuni berteriak agar Paana menyingkir dan memberinya jalan. Namun apa daya, Paana yang malang tak mungkin mendengar suara apapun dari luar, karena kini yang masih bekerja hanyalah hatinya, hati yang saat ini tengah bergelora memuja kemuliaan Tuhan bersama nama-nama suci-Nya yang terucap melalui bibir Paana. Pada saat seperti ini telinga hanya dapat mendengar gema suaranya sendiri, mata yang basah oleh air mata takkan dapat melihat apa-apa, kaki tidaklah berpijak di bumi ini lagi, melainkan di dunia rohani yang tak terbatas. Berkali-kali Lokasaranga Muni berusaha menyuruhnya menyingkir, tetapi Paana tidak bergeming. Sebutir batu dipungutnya dari tanah, kemudian dilemparkan tepat mengenai dahi Paana. Darah mengucur dari keningnya. Hantaman ini segera menyadarkannya dari kekhusukan meditasinya. Paana yang kaget, membuka mata dan melihat seorang Muni terhormat terhalang jalannya oleh tubuhnya yang kotor oleh dosa kelahiran. Betapa malunya Paana, seketika itu juga, tanpa berani memandang wajah pendeta agung yang dimuliakan itu, dia memohon maaf berulang-ulang dan segera pergi dari tempat itu.
Tepat setelah kejadian itu, ketika Lokasaranga Mahamuni bersiap memasuki Ruang Mahasuci Tuhan Ranganatha dengan periuk air di tangannya, tiba-tiba pintu tempat Tuhan bertahta dengan segala kemuliaan-Nya itu menutup dengan sendirinya di depan mata sang pendeta agung. Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahapengasih di Sri Rangam menolak melihat wajah pendeta utama di kuil-Nya Sendiri.

Seorang imam adalah dia yang melayani Tuhan dengan demikian karibnya, sehingga doa-doa umat sekalipun diperantarakan melalui dirinya. Satu-satunya orang yang berhak memasuki ruangan terdalam di Istana Tuhan nan megah ini. Tetapi apa yang dapat dikatakan manusia biasa bila Tuhan Sendiri memutuskan hubungan yang istimewa ini.

Dengan hati sedih Lokasaranga Mahamuni pulang ke rumahnya dan merenungi nasibnya yang malang. Ia, seorang brahmana berkelahiran tinggi, dari keluarga terhormat, jauh-jauh datang dari India Utara karena terpesona oleh keindahan Dravidaveda dan keagungan Tuhan Ranganatha yang oleh kemurahan hati-Nya bersedia turun dari Kerajaan Rohani-Nya yang kekal ke tepian sungai Kaveri demi keselamatan umat manusia. Dia datang ke tempat ini untuk menjadi pelayan-Nya dan mencapai kesempurnaan hidupnya.

Ketika dia meratap sedih seperti ini, Tuhan Ranganatha bersama permaisuri kekal-Nya Ibunda Sri Mahalaksmi, menampakkan Diri di hadapannya. “Berani sekali kamu melukai Thiruppaana-Ku! Kami sungguh-sungguh berduka oleh tingkahmu itu.” Kemudian Ibu Sri bertanya dengan Tuhan-Nya mengapa Dia menunda-nunda untuk membawa Thiruppaana ke dekat Mereka, sehingga sampai terjadi hal seperti ini. Tuhan menjawab, “Aku selalu mencobanya, tetapi begitu Aku mendekat, dia menjauh. Dia begitu rendah hati dan tahu diri akan kelahirannya yang rendah dan dia berpikir bila bersentuhan dengan Diri-Ku, dia justru akan menodai kesucian-Ku. Engkau adalah Ibu yang selalu ingin membawa anak-Nya dekat. Kini waktu untuk menyelesaikan masalah ini sudah tiba. Keinginan-Mu untuk melihat anak-Mu Paana bersama Kita akan segera tercapai.”

Kemudian Tuhan bersabda kepada Lokasaranga Muni, “Engkau tak boleh berpikir bahwa Paana-Ku adalah orang rendahan, dia adalah hidup-Ku dan sahabat karib-Ku. Aku ingin kamu pergi kepadanya dengan penuh hormat dan kerendahan hati, angkatlah dia ke atas bahumu dan dengan penuh kejayaan bawalah dia memasuki Kuil Kami. Biarlah seluruh dunia menjadi saksi. Inilah perintah-Ku.”

Lokasaranga secepat itu juga pergi ke tempat Thirupaana berada. Dia menjatuhkan diri di kakinya dan memohon maaf atas perlakuannya yang menimbulkan luka baik pada tubuh fisik maupun perasaannya. Dia memberitahukan perintah Tuhan kepada Thirupaana. Alvar menarik dirinya, “Tuan, bagaimana mungkin anda bersalah kepada hamba. Tindakan anda itu benar. Janganlah menyentuh diri hamba. Hamba berkelahiran rendah sehingga hamba juga tidak mungkin menginjakkan kakiku yang kotor ini di dalam tanah suci Kuil-Nya.” “Tapi Tuan”, kata Lokasaranga, “Janganlah ragu atau khawatir seperti itu. Hamba akan membawamu di atas bahu ini. Ini keinginan Tuhan, bila anda menolak berarti anda tidak mematuhi-Nya.” Akhirnya Thirupaana menyerah, “Maka jadilah kehendak-Nya”.

Thirupaana kemudian menempatkan kakinya di tubuh Lokasaranga Muni dan memanjat ke atas bahunya. Sang pendeta agung lalu membawanya ke hadirat Tuhan Ranganatha di dalam kuil-Nya. Alvar begitu malu dan sekaligus terharu oleh kejadian ini, sehingga sepanjang jalan dia menutup matanya. Hatinya bergelora oleh cinta, bait demi bait, syair sucinya mengalir sepanjang jalan. Mata tertutup tetapi hati melihat. Satu sampai sembilan bait terungkap, melukiskan keindahan Tuhan yang dilihatnya dalam mata hatinya. Munivahana, berkendara seorang pendeta, Sang Alvar datang menemui Tuhan.

Amalan-ati-piraan, Tuhan Kita Yang Mahasuci Tiada Ternoda dari Arangam

Sesampainya di ruang terdalam, Ruang Mahasuci, Lokasaranga Muni memberitahunya bahwa mereka telah berada di hadapan Tuhan. Thirupaana Alvar perlahan membuka matanya. Meledaklah perasaannya, memancar keluar sebagai bait ke sepuluh syair sucinya, Amalan-ati-piran. Kesukacitaan rohani meluap-luap di hatinya, madu surgawi kebahagiaannya mengekalkan setiap kata yang muncul dari bibirnya. Melihat Tuhan Yang Maha Esa berada di hadapannya, Thirupaana terhanyut dalam samudera cintakasih. “Mataku tak akan melihat yang lain lagi.” Kata-kata terakhir ini terucap dari bibirnya. Cahaya kemuliaan menyelimuti Sang Alvar. Diapun lenyap, meluruh dalam kekekalan pengabdian suci dan kerinduannya yang tak tertahankan. Tuhan Yang Maha Esa, Sri Ranganatha, Jiwa dan Kehidupan Semesta Alam memeluknya dengan erat, membawanya ke kediaman rohani-Nya yang sejati. Kerajaan Cinta kasih-Nya, tempat Alvar melayani-Nya dalam keabadian.

Walaupun Thirupaana Alvar bukan berasal dari keluarga yang tinggi dan terhormat atau memiliki kedudukan dalam pergaulan sosial keagamaan, terbukti bahwa itu bukanlah halangan baginya untuk dimasukkan ke dalam jajaran para Alvar. Tingginya cinta dan pengabdiannya kepada Tuhan Sriman Narayana, Sri Ranganatha, dengan pelepasan ikatan sepenuhnya dari segala kenikmatan duniawi dan kerendahan hati yang luar biasa. Menerima Tuhan Yang Maha Esa Sri Narayana sebagai satu-satunya perlindungannya yang tunggal dan tempatnya menyerahkan diri. Semua inilah yang menjadikannya seorang Alvar. Hal ini juga menunjukkan betapa besar keterbukaan Vaishnava-dharma. Siapapun juga, tak peduli kelahiran, ras, suku bangsa, semuanya diterima dalam Vaishnava, bahkan menduduki posisi yang tertinggi dalam hidup rohani, apabila dia memiliki kemuliaan sebagaimana ditunjukkan oleh Alvar dan Acharya. Di mata Tuhan, kelahiran bukan apa-apa, jalan-Nya terbuka bagi semuanya. Ini dibuktikan oleh Thiruppaan Alvar, yang direndahkan dunia tetapi dipeluk erat oleh Tuhan.

Terpusatlah hatiku pada yang disucikan, Sang Alvar yang berkendara seorang Muni,
yang bersumpah tak akan melihat apapun lagi dengan kedua belah matanya,
setelah memandang gemilang keindahan Tuhan Sri Hari,
yang berbaring di antara dua anak sungai Kaveri dengan kaki terjulur.