Selasa, 30 November 2010

SRI MADHVA (4)


Selama beliau berada dalam badan, maka Sri Hari akan tetap berada di sana. Begitu beliau pergi, maka Sri Hari juga akan turut meninggalkan badan. Beliau adalah pengendali baik di dalam maupun di luar badan. Itulah Vayu, yang adalah pemimpin utama para guru dalam silsilah garis perguruan kita yang suci.


Ada sebuah pernyataan Sruti mengenai hal ini. "kasmin vahamutkranta utkramishyami, kasminvaham sthite sthasyami iti sa pranamasrujatra". Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari menciptakan Vayu dengan menyatakan, “Aku akan menciptakan seorang penyembah-Ku sedemikian rupa, sehingga kehadirannya akan menjadi tanda kehadiran-Ku, dan kepergiannya juga akan membuat-Ku pergi.” Ada dua aspek yang perlu diperhatikan dalam kata-kata yang digunakan oleh Srimad Sripadaraja.
1. Pernyataan ini dibuat dengan ketegasan dan ketidakterbantahan. Tidak ada kata bila atau tapi (keraguan atau prekondisi) dan juga tidak ada ambiguitas (makna mendua). Tidak ada rujukan kepada deva yang lain. Hanya dinyatakan hubungan erat antara Vayu dan Sri Hari secara langsung dan nyata.
2. Pernyataaan saling berkaitan digunakan, yaitu kehadiran Vayu dengan kehadiran Sri Hari. Kehadiran Vayu menjadi pertanda kehadiran Sri Hari.

Memaknai pernyataan ini dengan melihat kenyataan yang ada pada badan jasmani, selain dapat diketahui secara langsung, tentu juga ada dasar sastranya. Kita mengetahui bahwa Sri Vayu dalam tubuh jasmani adalah Prana, napas kehidupan. Bila Prana ada di sana maka kita katakan bahwa tubuh itu hidup. Apakah arti dari tubuh yang hidup ini? Badan jasmani yang terbentuk dari unsur-unsur alam adalah mati, tetapi ketika jivatma, roh individual berada di sana maka dia hidup. Tetapi yang lebih penting lagi, kita mengetahui dari sastra suci bahwa jiva yang terbungkus oleh badan duniawi tidaklah berada sendirian di sana. Perluasan dari Sri Hari Sendiri mendampingi jiva sebagai Paramatma. Beliau hadir di sana dan tanda dari kehadiran Beliau adalah Prana, yang tiada lain adalah Sri Vayudeva.

Bila kita memperluas makna mengenai kehadiran ini dapatlah kita pahami sebagai berikut. Selama Vayu berada dalam hati kita, maka Sri Hari juga ada di sana. Kapanpun kita melupakan Vayu, maka Sri Hari juga meninggalkan kita. Apakah artinya Sri Vayu selalu ada di hati kita?
1. Senantiasa memusatkan hati pada Vayu, kemuliaan, dan keagungannya.
2. Yakin sepenuh hati dan jiwa bahwa Vayu secara nyata adalah Jivottama.
3. Mengikuti prinsip-prinsip rohani sebagaimana diajarkan oleh Vayu sendiri.
Secara khusus ini berarti kita hendaknya senantiasa menginsafi bahwa keagungan dan kemuliaan Sri Madhva merupakan pusat meditasi kita. Kita memahami bahwa beliau adalah Jivottama, pemimpin kita, yang menghubungkan kita semua dengan belas kasih Sri Hari. Kita juga menerima sepenuh hati kebenaran ajaran Madhva dan mengetahui bahwa tanpa menerimanya maka kita tak akan dapat mencapai Sri Hari. Sri Hari akan mengabaikan siapapun yang mengabaikan Sri Madhva, yang adalah Vayudeva sendiri. Sedangkan dalam arti luas, semuanya ini hendaknya kita pahami dan laksanakan dalam pelayanan kepada guru kerohanian kita secara pribadi, yang merupakan penerus dan wakil dari Sri Madhva.

Hubungan Vayu yang sangat erat dengan Sri Hari ditunjukkan oleh kenyataan yang ada dalam tubuh jasmani ini. Tetapi apakah hanya terbatas seperti itu saja? Srimad Sripadaraja segera mengingatkan kita pada pernyataan Sruti berikutnya. "pranasmetad vashe sarvam pranah paravashe sthitah na parah kinchidashritya vartate paramoyatah." Segala sesuatu di alam semesta ini berada di bawah kendali Prana. Prana berada di bawah kendali Sri Hari. Sri Hari tidak dikendalikan oleh siapapun. Dinyatakan bahwa tubuh jasmani, pindanda (mikrokosmos) adalah merupakan miniatur dari tubuh alam semesta, brahmanda (makrokosmos). Sehingga para deva yang mengendalikan berbagai organ dan bagian tubuh juga mengendalikan berbagai bagian alam semesta. Sebagaimana mereka semua berada di bawah pengendalian Vayu, maka baik dalam pindanda maupun brahmanda, keadaan inilah yang terjadi.

Ketika para deva yang mengendalikan indria maupun organ-organ meninggalkan tubuh seseorang, maka orang tersebut dikatakan buta, tuli, atau bisu (organ tertentu itu menjadi cacat, sesuai dengan deva yang pergi meninggalkannya). Namun ketika Mukhyaprana meninggalkan badan, maka orang bijaksana menyebut badan itu sesosok jenazah.

Dalam sloka ini kembali Srimad Sripadaraja membawa kita memperhatikan pernyataan Aitareya Upanisad. "ta ahimsan ta ha muktha masmaihamukthamasmiti ta abruvan hantasmachcharira dutkramama tadyasmin na utkanta idam shariram patsyati taduk-tham bhavishyatiti vagudakramad avadannashnan piban nastaiva chakshurudakramad apashyan-nashnan pibannastaiva." Pada suatu ketika para deva bertikai di antara mereka untuk menentukan siapakah yang paling agung. Mereka memutuskan bahwa cara yang terbaik adalah dengan memasuki sesosok badan dan mengamati pengaruh mereka padanya. Para deva mulai memasuki tubuh yang mati itu satu per satu. Tak satupun di antaranya yang dapat memberikan pengaruh, tubuh itu tetap seperti adanya. Begitu Vayu memasukinya, tubuh itu menggeliat hidup. Kemudian sebaliknya, para deva meninggalkan tubuh itu satu per satu. Setiap organ yang mereka kuasai menjadi cacat, walau demikian tubuh itu tetap hidup. Tetapi begitu Vayu pergi, tubuh itu mati. Ini menyimpulkan ketergantungan penuh jiva kepada Vayu, sekaligus superioritasnya di antara para deva yang lain, sehingga membuat gelar Jivottama tepat sesuai baginya. "prana udakramat tatprana utkrante apadyata tad ashiryata ashariti tachchariramabhavat". Ketika Prana meninggalkan badan, maka badan menjadi roboh dan mulai membusuk. Demikianlah sabda Aitareya Upanisad.

Kita dapat mengamati ini semua dalam keseharian kita. Selama orang itu bernapas, dia dianggap hidup. Dia mati bila berhenti bernapas. Apabila di sekitar orang itu ada dokter, maka dia akan berusaha membantu orang itu untuk bernapas kembali dengan berbagai cara seperti resusitasi jantung paru atau memasang alat bantu napas. Dikatakan bahwa apabila seseorang mati, maka amsha dari para deva yang bersemayam di organ-organ tertentu kembali menyatu dengan deva-deva kosmis yang asli. Tetapi tidak demikian dengan Vayu. Beliau membawa Paramatma dan jiva di atas pundaknya untuk menuju badan berikutnya. Bila pernyataan sloka ini dihubungkan dengan sloka sebelumnya, maka akan tampak betapa eratnya hubungan antara jiva, Vayu, dan Sri Hari, betapa besar perhatian Sri Hari kepada Vayu, dan betapa mulia kedudukannya di antara deva-deva lain. Makna simbolik dari sloka ini juga menunjukkan bahwa demi bangkitnya “tubuh” spiritual, kehadiran Vayu sangatlah penting. Dengan kata lain, segala jenis pemujaan yang tidak memberikan tempat mulia bagi Sri Vayu dan juga prinsip-prinsip yang diajarkan oleh beliau hanyalah akan menjadi sia-sia belaka.

Minggu, 28 November 2010

SRI MADHVA (3)


Beliau yang mengambil rupa seekor kura-kura dan mendukung Sesha. Dengan berada di dekatnya para deva yang lebih rendah dapat mencapai Sri Hari, itulah Vayu yang adalah pemimpin utama para guru dalam silsilah garis perguruan kita yang suci.

Selanjutnya adalah penjelasan mengenai Vayu-tattva, kebenaran sejati tentang Vayu. Siapakah sesungguhnya Vayu dan bagaimana kedudukan beliau dalam pelayanannya kepada Tuhan Sri Hari di dunia ini. Menurut sastra, Tuhan menjaga seluruh alam semesta sebagai Vishnu-kurma. Lalu dalam cairan yang mengisi Brahmanda (disebut Garbhodaka – Samudera Rahim Semesta), Vayu juga hadir sebagai Vayu-kurma, memegang ekor dari Vishnu-kurma. Sesha berpegangan pada ekor Vayu dan mendukung dunia dengan kepalanya. sa esha kurmarupena vayurandodake sthitah vishnuna kurma rupena dharitoananta-dharakah (iti prabhanjane) agneyaishanigou bahu padou nirruti vayugou (iti prakrushte bruhadaranyako-panishad bhashya) Keempat anggota tubuh Vayu-kurma berada di keempat penjuru Brahmanda. Dadanya bersandar pada bumi, perutnya mendukung Akasha, dan punggungnya memanggul alam-alam lain.

Uraian ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Seluruh sistem dunia kita dan planet-planet yang ada di dalamnya berada tetap dalam peredarannya oleh kekuatan gaya tarik matahari. Sehingga dengan demikian seluruh alam semesta juga bersandar atau bergerak secara teratur oleh suatu kekuatan gaya tarik. Sesha merupakan emenasi dari Sankarshana, Dia yang memiliki segenap kekuatan daya tarik (Akarshana). Daya tarik antara jiva yang rohani dengan Tuhan Sri Krishna dikem-bangkan melalui kekuatan Sankarshana atau Baladeva. Seluruh kekuatan daya tarik berasal dari Sri Sankarshana. Demikian pula daya tarik yang menjaga keteraturan seluruh alam semesta juga merupakan manifestasi dari Sankarshana yang disebut Sesha. Sesha menerapkan kekuatannya atas perwujudan alam semesta duniawi, ciptaan kosmis. Sedangkan sumber segala shakti atau energi adalah Bhagavan Sri Krishna, yang dalam Brahmanda ini melindungi semesta melalui rupa-Nya sebagai Vishnu-kurma. Lalu siapakah yang berada di antara energi duniawi dengan Sri Bhagavan? Itu tiada lain adalah Vayu, kekuatan yang menghubungkan seluruh dunia dengan Bhagavan, jiva yang utama (Jivottama). Di alam semesta ini beliau juga turut menjaga keteraturan dengan rupanya sebagai Vayu-kurma.

Peran penting Vayu kembali ditegaskan dalam kalimat sloka ini, avavana balivididu hariya suraraiduvaro. Sebelumnya kita sudah mengetahui dari Balittha-sukta bahwa Rudra dan para devata yang lain dapat dengan mudah mengetahui kemuliaan Sri Hari dan mencapai pembebasan dari samsara dengan bantuan Vayu. Dengan berada di dekat Vayu, semua deva, bahkan yang memiliki kedudukan lebih rendah sekalipun dapat mencapai Bhagavan Sri Hari.
Sri Su-madhva-vijaya menjelaskan bahwa kapanpun Srimadacharya melaksanakan pembahasan sastra suci, maka para deva berkumpul di angkasa untuk turut mendengarkannya. Ini karena ulasan sastra yang diberikan oleh Srimadacharya sebagai Avatar Vayu, dapat memberikan jalan terbaik untuk menuju kepada Sri Hari.

Demi menyatakan lagi kemuliaan Sri Vayu, maka kita memperoleh gambaran berikut dari Srimad Ramayana dan Mahabharata. Sugriva dan Karna adalah sama-sama merupakan amsha dari Suryadeva, namun mengapa mereka diperlakukan berbeda oleh Tuhan Sri Hari? Dalam MBTN 5.46-47 Srimadacharya menyatakan, “sa marutikrute ravijam raraksha”, Ravija Sugriva dilindungi oleh Sri Rama hanya karena dia berada bersama Sri Hanumanta. "bhimarthameva ravijam nihatya", Ravija yang lain yaitu Karna menerima ajalnya karena berada di pihak yang memusuhi Bhima. Keadaan berlawanan serupa juga dapat kita lihat pada kedua amsha dari Indra, yaitu Vali dan Arjuna. Vali menerima kemusnahannya karena dia tidak menghargai Sri Hanumanta, namun Arjuna memperoleh kemuliaan karena dia sepenuhnya tunduk kepada Bhimasena. Gambaran ini menunjukkan bahwa mendapatkan karunia Vayu adalah merupakan jalan langsung menuju karunia Sri Hari. Berada di dekat Vayu, apabila diartikan sebagai berjalan di dalam kebenaran ajaran yang diajarkan oleh Sri Vayu, atau dengan senantiasa berada dalam garis perguruan Sri Vayu, serta tattva sebagaimana diungkapkan oleh Sri Vayu, maka kita dapat memperoleh kepastian dan kemudahan dalam mencapai Sri Hari.

Garis silsilah kita yang suci menurun dari Tuhan Sendiri melalui Brahma. Sastra mengatakan bahwa hanyalah Sri Hari yang bisa menganugerahkan pembebasan, mukti-pradatam-vishnureva na samsayah, namun Brahma dan Vayu dapat merekomendasikan pembebasan bagi jiva yang pantas. Sastra juga menyatakan bahwa di alam semesta ini hanya Brahma, Vayu, Sarasvati, dan Bharati, dengan kuasa dari Sri Hari dan Laksmi, memiliki pengetahuan yang senantiasa sempurna dan bebas dari cacat atau kekurangan. Sehingga tidaklah mengherankan bahkan para deva yang lainpun berusaha untuk belajar dari mereka.

Sri Vayu, khususnya ketika beliau hadir sebagai Srimad-acharya Madhva, disebut sebagai Kula-guru-raya. Beliau adalah pemimpin utama para guru dalam silsilah keluarga rohani Brahma. Tetapi mengingat segala penjelasan yang telah diberikan sebelumnya, kata kula (keluarga) yang digunakan oleh Srimad Sripadaraja tidaklah diartikan secara sempit sebagai lingkungan Madhva-sampradaya saja. Kula menunjukkan persaudaraan semesta, semua jiva yang memiliki kepantasan mencapai moksa, sebagai satu keluarga, berarti termasuk para deva, makhluk-makhluk surgawi, para orang suci, dan sebagainya. Sri Vayu adalah guru utama bagi semua satvika-jiva. Itulah sebabnya mengapa dalam Vayustuti beliau disebut sebagai Trailokacharya, Guru Kerohanian Ketiga Dunia.

Kamis, 25 November 2010

SRI MADHVA (2)


Segala pujian, segala pujian kepada beliau yang menyangga seluruh alam semesta, yang paling berkuasa dan penuh kekuatan di antara semua jiva, yang adalah kediaman segala sifat-sifat rohani, beliaulah yang bernama Madhva.

Srimad Sripadaraja memulai uraiannya tentang kisah kehidupan Sri Madhva dengan doa singkat ini yang diawali dengan kata jaya. Salah satu makna jaya adalah mangala atau kemujuran dan kesucian. Dengan demikian beliau memohon kepada Sri Mukhyaprana Vayudeva agar menganugerahkan mangala kepada kita semua. Hal ini sangat tepat, karena sastra suci menjelaskan bahwa Sri Vayu adalah parama-mangala-svarupa, perwujudan sejati segala kemujuran, pradhana-anga atau tangan kanan Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari.

Jaya juga berarti kemenangan. Kemenangan terbesar bagi para jiva adalah moksa atau mukti, pembebasan tertinggi. Sri Vayudeva membantu semua jiva yang memiliki kepantasan untuk mencapai tujuannya ini dengan memberikan pengetahuan yang benar (jnana) tentang Tuhan, juga memberikan inspirasi untuk berpikir dan bertindak secara benar. Segala ingatan dan pelupaan serta ilham yang rohani berasal dari Paramatma Sri Hari, namun adalah Sri Vayu yang menyampaikannya kepada para jiva, dan adalah beliau yang membantu serta mendukung para jiva untuk mencapai tujuannya yang sejati. Bhagavan Vayu adalah yang bertanggung jawab menyampaikan permasalahan para jiva kepada Sri Hari. Beliaulah yang memohon kepada Sri Hari agar bersedia mengarahkan belas kasihnya kepada para jiva. Selain kehendak Sri Hari dan Mahalaksmi, hanyalah Vayu dan Brahma (kedudukan yang diperuntukkan bagi Vayu dalam manifestasi penciptaan berikutnya) yang berhak mengajukan pembebasan para jiva. Oleh karena itu Vayu dinyatakan sebagai pradhana-anga dari Tuhan Sri Hari Sendiri. Jaya juga bermakna yang paling utama, karena Vayu juga dipahami sebagai Jivottama, yang tertinggi di antara para jiva.

Sastra menyatakan pula bahwa Vayudeva senantiasa melantunkan Hamsa-mantra “hamsah so’ham svaha” sekitar 21.600 kali setiap hari kepada semua jiva dan mempersembahkannya kepada Hamsanamaka Paramatma, Sri Hari yang memberikan karunia pengetahuan sejati mengenai Brahman kepada deva Brahma, makhluk hidup pertama dalam manifestasi kosmis. Sekalipun makhluk hidup tidak semuanya melakukan mantra-japa atau mengucapkan nama suci Sri Hari, Vayu melaksanakan Hamsa-japa setiap hari atas nama para jiva yang terperangkap dalam tubuh duniawi ini. Oleh karena itu Vayu dimuliakan sebagai guru yang memberikan pengetahuan sejati kepada semua makhluk, sehingga mereka semua dapat mengenal Bhagavan Sri Hari.

Selama Sri Vayu berada di tubuh ini maka tubuh hidup, tetapi begitu dia meninggalkannya maka tubuh akan mati. Begitu pula sebagaimana dijelaskan dalam Aitareya Upanisad 1.2.4. vayuh prano bhutva, Vayu memberikan kehidupan bagi tubuh kosmis. Karena itu Bhagavan Vayu juga dimuliakan sebagai Jagatrana, dia yang menyokong kehidupan dunia. Trana juga dapat dimaknai sebagai penjaga atau pelindung. Bhagavan Vayu merupakan pelindung semua jiva yang memiliki kepantasan untuk mencapai moksa, beliau melindungi jiva-jiva dalam kebaikan dan juga menghukum mereka yang jahat. Kekuatan beliau bahkan meliputi para devata yang lain. balamindrasya girisho girishasya balam marut balam tasya haris sakshat naharerbala manyatah (Mahabharata Tatparya Nirnaya - MBTN 2.162) Kekuatan Indra adalah Girisha (Rudra), kekuatan Girisha adalah Marut (Vayu). Kekuatan Vayu adalah Sri Hari Sendiri yang tidak memperoleh kekuatan-Nya dari siapapun juga. Karena Vayu merupakan sumber kekuatan Rudra, sehingga beliau juga merupakan sumber kekuatan para devata yang lain, maka Jagatrana merupakan gelar yang tepat bagi beliau.

Dalam sastra dikatakan bahwa tubuh manusia disusun atas 24 elemen atau tattva. Elemen-elemen ini pada dasarnya tidak hidup. Untuk memberikan kehidupan kepada badan ini dan membuatnya aktif, 24 tattva-abhimani-devata memasuki bagian-bagian badan tersebut dan mengaktifkannya. Pengendali dari semua devata ini adalah Vayu. Sri Hari menginspirasi Vayu kemudian Vayu lanjut menginspirasi yang lainnya. Karena Hari dan Vayu bertanggung jawab atas pemeliharaan kehidupan alam semesta, maka Beliau disebut Sutrana, jagadolage sutrana. Secara khusus hanyalah Bhagavan Sri Hari yang merupakan Sutrana, namun karena Vayu menjalankan kekuatan Sri Hari dalam memelihara kehidupan, beliau juga dapat disebut Sutrana.

Vayu kemudian dimuliakan pula sebagai Akhila-guna-sad-dhama. Hal ini dapat dijelaskan dengan dua cara. Vayu adalah saddhama, tempat terluhur untuk bersemayamnya Sri Hari yang adalah akhila-guna, yang memiliki kemuliaan dan sifat-sifat rohani tak terbatas. Lalu Vayu juga adalah saddhama, perwujudan dari akhila-guna (sifat-sifat rohani) itu sendiri.

Tuhan Sri Hari dikenal sebagai Purnaguna atau Akhilaguna, pemilik segala kemuliaan dan sifat-sifat baik yang rohani. Akhila dan Guna juga merupakan nama-nama Sri Hari yang dinyatakan dalam Vishnusahasranama-stotra. Sebagai penyembah-Nya yang terbaik, Vayu adalah juga tempat bersemayamnya Sri Hari (saddhama). Sehingga Vayu dapat disebut sebagai Akhilaguna-saddhama. Akhilaguna-saddhama di sini menunjukkan bahwa Sri Hari senantiasa berada atau bersemayam dalam Vayu. Oleh karena Bhagavan Sri Hari senantiasa bersama Vayu, maka Vayu sendiri juga memanifestasikan segala sifat mulia Sri Hari. Segala kemuliaan Sri Hari juga ditampakkan oleh Vayu, sehingga Vayu juga disebut Akhilaguna-saddhama karena dia merupakan perwujudan dari segala sifat-sifat rohani ini. Selain itu Vayu merupakan Jivottama, jiva yang paling utama, sehingga segala sifat-sifat baik jiva mencapai puncaknya dalam diri Vayu. Jadi seperti Tuhan Sri Hari, maka Vayu juga menyandang gelar Akhila-guna.

Sebagai gambaran atas sifat-sifat mulia yang ditunjukkan oleh Vayu, Srimadacharya Madhva berkata, "jnane virage haribhaktibhave dhruti sthiti prana baleprayoge buddhoucha nanyo hanumatsamanah puman kadachit kvacha kashchanaiva tatvagyane vishnubhaktou dhairye sthairye parakrame vege cha laghave chaiva pralapsya cha varjane bhimasena samonasti senayorubhayaropi pandityecha patutvecha shurtvecha balepi cha" (MBTN 3.155,165) Dalam hal pengetahuan, pelepasan ikatan, pengabdian kepada Sri Hari, keteguhan, keseimbangan, kekuatan, dan kecerdasan, tidak ada satu orang pun yang setara apalagi mampu melampaui Hanuman. Dalam hal ilmu pengetahuan rohani yang benar, pengabdian kepada Vishnu, ketegasan sikap, kekuatan, kesigapan, kemampuan menyesuaikan diri dalam ruangan yang sempit, pengendalian diri, melompati jarak yang jauh, menghindari pembicaraan yang tak berguna, keahlian berbicara, dan memberi semangat, tak ada satu pun yang dapat menandingi Bhimasena. Baik Sri Hanuman maupun Bhimasena adalah Avatar Vayu. Oleh sebab itu Sri Trivikrama Panditacharya menyebut Vayu sebagai Srimad Vishnavanghrinisthati guna.

Sripadaraja menggunakan nama Madhva, bukan nama atau gelar Srimadacharya yang lain dalam karyanya. Ini membuat kita merenungkan pernyataan Balittha-sukta, "niryadim budhnanmahi-shasya varpasa ishanasah shavasa kranta surayah yadimanu pradivo madhva adhave guha santam matarishwa matha-yati" Rudra (Ishana) dan para deva yang lainnya dengan mudah dapat mempelajari segala kemuliaan Tuhan Tertinggi Sri Hari dan menjadi bebas dari segala ikatan duniawi adalah berkat Vayu (Matarishvan) yang mahatahu. Dia (sebagai Madhva) memerah sari sastra-sastra suci dan memperlihatkan kepada kita semua Keutamaan Sri Hari, yang bersemayam dalam hati semua orang. Secara khusus Madhva adalah nama yang digunakan dalam Veda untuk menyebut Srimadacharya, bahkan sebelum kemunculan beliau secara fisik di bumi ini.

Rabu, 24 November 2010

SRI MADHVA DAN VAISHNAVISME


Dalam konsep ketuhanan Vedanta kita mengenal adanya dua kutub utama yang saling berlawanan, yaitu kutub monisme dan kutub pluralisme. Kutub monisme menempatkan kemanunggalan antara Tuhan dengan makhluk hidup dan alam, sedangkan kutub pluralisme mempertahankan perbedaan antara Tuhan dengan makhluk hidup dan alam. Semua pemikiran-pemikiran dan konsep-konsep yang dikembangkan dan diajarkan oleh para Vedanta Acharya, terentang di antara kedua kutub ini.

Vishnuswami, yang kemudian dilanjutkan oleh Vallabhacharya, mengajarkan pemikiran suddha-advaita, monisme murni. Segala sesuatu adalah Brahman, namun dalam tingkat ekspresi-Nya yang berbeda-beda. Adi Sankara mengajarkan kevala-advaita, monisme eksklusif. Kenyataan sebenarnya adalah Brahman. Hanya Brahman yang nyata, semua yang lainnya hanyalah ilusi palsu. Advaita dari Vishnuswami dan Vallabha menerima kenyataan adanya tiga substansi (vastu) yang berbeda yaitu Isvara (Tuhan), jiva (makhluk hidup), dan jada (alam), namun menjelaskannya sebagai manifestasi dari satu Kebenaran Mutlak yang tertinggi. Tetapi Advaita Sankara menolak ketiga substansi ini sebagai hal yang nyata, karena menurutnya hanyalah Brahman yang nyata. Keberadaan ketiga substansi ini merupakan pengaruh maya (khayalan duniawi), sehingga Sankara mengunakan maya sebagai penjelasan atas keadaan ini. Oleh karena itu monisme Sankara disebut sebagai Mayavada (paham berdasar khayalan).

Lalu muncul nama Ramanujacharya yang mengajarkan visistha-advaita (monisme beratribut). Beliau juga menerima bahwa ketiga substansi utama adalah kekal dan nyata adanya. Jiva dan jada merupakan atribut dari Brahman yang tunggal, mereka adalah manifestasi energi dan kemuliaan dari Brahman. Berikutnya kita mengenal dvaita-advaita (pluralisme monistik) dari Nimbarkacharya yang menerima perbedaan dan kemanunggalan antara ketiga substansi utama itu sebagai keadaan yang sebenarnya. Mereka berbeda, tetapi juga sama. Semua Acharya ini tampaknya merumuskan pemikiran dan pemahamannya dengan tetap melibatkan konsep advaita (kemanunggalan) atau abhedatva (ketiadaberbedaan).

Tetapi ada satu Acharya lagi yang mengambil posisi secara tegas menolak kemungkinan menunggalnya Tuhan dengan para makhluk hidup dan alam. Beliau adalah Srimad Madhvacharya atau Sri Ananda Tirtha. Isvara atau Brahman, jiva, dan jada adalah berbeda. Tidak pernah sekalipun ketiganya menjadi satu, mereka adalah substansi-substansi yang berbeda dan terpisah, dvaita. Sri Madhva dengan tegas mengatakan bahwa ketiganya adalah nyata dan benar (tattva), serta berbeda (bheda). Pahamnya yang berdasar atas kenyataan yang bersifat plural ini dikenal sebagai Tattvavada.

Brahma - Madhva

Sri Madhva merupakan Acharya yang menurun dalam garis silsilah rohani Brahma atau Brahma Sampradaya. Sebagai guru kerohanian utama dalam garis ini, maka kemudian dikenallah namanya menjadi Brahma-Madhva-Sampradaya. Selama ratusan tahun para guru dalam garis Brahma-Madhva mengembangkan pemahaman dvaita ini dan mengajarkannya ke seluruh India. Tetapi beberapa ratus tahun setelah Madhva muncul satu nama lagi yang memberikan konsep baru terhadap pluralisme dan monisme. Beliau adalah Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu dari Gauda (Bengala) yang mengajarkan acintya-bheda-abheda-tattva, persamaan dan perbedaan yang tak terpikirkan. Pemahaman yang unik ini menyatukan pandangan berbagai Acharya sebelumnya dan sebenarnya dapat mendamaikan kedua kutub yang bertentangan itu. Bheda-abheda sebelumnya sudah dikembangkan oleh Nimbarka, lalu apa perbedaannya? Hal ini tidak kita bahas di sini. Namun sisi yang menarik dari Sri Caitanya adalah keyakinan kuat para pengikut-Nya, bahwa mereka termasuk dalam garis spiritual Madhva.

Sri Madhva dan Sri Caitanya memiliki konsep ajaran yang tampak berbeda, dari namanya saja kita sudah lihat perbedaan itu. Kemudian adanya berbagai kejanggalan historis yang menjadi perdebatan para sarjana, yang meragukan kemungkinan kedua silsilah rohani yang berasal dari Sri Madhva dan Sri Caitanya saling berhubungan. Walau demikian dalam kenyataan, semua Acharya penerus Sri Caitanya berikutnya menyatakan hal ini. Para Gosvami, Kavikarnapura, Sri Baladeva Vidyabhusana, sampai Srila Bhaktivinoda Thakura, semua menyatakan bahwa Sri Caitanya melanjutkan garis silsilah rohani Madhvacharya dan tentu juga konsep yang diajarkannya, karena itu garis perguruan Sri Caitanya disebut Brahma-Madhva-Goudiya atau Madhva Bengala.

Perlu diperhatikan bahwa pengajaran Sri Caitanya dimaksudkan bukan hanya menjadi sekedar usaha rekonsiliasi dua paham yang berbeda atau sekedar menambah satu alternatif keinsafan ketuhanan yang baru, tetapi merupakan pengungkapan kebenaran secara menyeluruh tanpa menyisakan celah untuk dapat dipertentangkan lagi. Hal ini dicapai dengan satu kata kunci, yaitu acintya, tak dapat dipikirkan. Itulah kebenaran sejati, itulah tattva.

Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu

Acharya Madhva sudah mengungkapkan dan menyediakan semua karya-karya dasar yang sangat dibutuhkan oleh Sri Caitanya untuk dapat menghadirkan filsafat ketuhanan yang sempurna tanpa terganggu pemahaman yang bias. Sri Madhvacharya dan ajarannya merupakan dasar kokoh tempat dibangunnya seluruh pemahaman garis perguruan Sri Caitanya. Ada yang mengatakan setitik bheda, sekalipun tidak dipahami dengan baik, akan mengantarkan pada kesempurnaan bhakti, namun setitik abheda dapat mengantarkan ke jurang kejatuhan dan hancurnya bhakti. Seperti yang kita ketahui, Sri Madhva menolak sepenuhnya abheda. Namun di sisi lain abheda juga tidak dapat disangkal, sehingga Sri Caitanya kembali mengajarkannya dalam perguruan-Nya. Bagaimana caranya agar kebenaran ini dapat diterima dengan aman. Satu-satunya cara adalah kita memperlindungkan diri kepada Sri Madhva dan ajarannya. Bhakti adalah harta yang diberikan oleh Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu dan para Acharya kepada dunia. Harta ini harus dijaga, jangan sampai ternoda. Hanyalah Srimad Madhvacharya Bhagavatapada yang dapat melakukan ini dengan baik dan sempurna. Oleh karena itulah semua Goudiya Vaishnava yang sejati hendaknya menerima perlindungan kaki padma Sri Madhva dan para penerusnya, berdasarkan teladan yang diberikan oleh Sriman Mahaprabhu. Demikian konsep keterhubungan kedua tradisi ini sebagaimana dihayati oleh para penganutnya.

Srimad Sripadaraja Tirtha Swami adalah salah satu Acharya yang paling terkemuka dalam garis perguruan Madhva. Sumbangannya yang besar pada perkembangan dan penyebaran dvaita dan juga perannya dalam terbentuknya gerakan Sankirtana di daerah berbahasa Kannada yang kita kenal sebagai gerakan Haridasa, telah tercatat dalam sejarah.

Salah satu karya Srila Sripadaraja yang paling terkenal adalah Madhvanama. Ini merupakan sebuah puisi berbahasa Kannada yang memuliakan Mukhyaprana Vayudeva dalam tiga Inkarnasinya. Madhvanama mengikuti susunan dari Srimad Hari-vayu-stuti, disusun oleh Srila Sripadaraja bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Sanskrit atau tidak mampu melantunkan versi Sanskrit dari Vayustuti.

Sri Madhvanama karya Srimad Sripadaraja Tirtha ini merupakan kisah ringkas kehidupan Sri Madhva dalam bahasa Kannada. Sesungguhnya riwayat terperinci Sri Madhva telah ditulis oleh Narayana Panditacharya dalam bahasa Sanskrit sebagai Sri Su-madhva-vijaya. Karena sebagian orang juga tidak memiliki akses terhadap naskah Sanskrit tersebut, maka Srila Sripadaraja menyusun ringkasan berbahasa Kannada ini.

Perlu dicatat pula bahwa Srila Sripadaraja tidak saja menangkap dan menyampaikan intisari Sri Hari-vayu-stuti dan Sri Su-madhva-vijaya saja, namun juga menyertakan beberapa konsep kunci yang tidak begitu dikenal, berikut beberapa kejadian dari Srimad Ramayana dan Mahabharata. Kita juga harus ingat bahwa Srila Sripadaraja, sebagai seorang Inkarnasi Devata, merupakan aparoksha-jnani, yaitu seorang yang memiliki pengetahuan menembusi dimensi ruang dan waktu. Dia juga adalah seorang sarjana besar dan guru kerohanian dari Srila Vyasaraja yang luar biasa itu. Jadi uraiannya mengenai Sri Mukhyaprana dan tiga Inkarnasinya ini adalah jauh dari kesalahan maupun kelalaian. Seluruh uraian dalam tulisan ini adalah berdasarkan uraian yang telah sebelumnya beliau sampaikan dalam Sri Madhvanama. Kami telah menyertakan pula penjelasan lebih lanjut yang disampaikan dengan lebih terperinci dalam Sri Su-madhva-vijaya, Sri Mani Manjari, dan karya-karya langsung dari Srimadacharya Madhva sendiri seperti Mahabharata Tatparya Nirnaya, dsb.

Sri Madhva bagi para pengikutnya bukan sekedar seorang guru pembimbing biasa atau seorang besar yang mendirikan sekte tertentu. Beliau adalah seorang pribadi yang perannya begitu istimewa dalam perjalanan rohani setiap jiva. Melalui uraian ini kita akan menyaksikan gambaran Sri Madhva yang istimewa itu, kedudukan ontologisnya yang demikian penting dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna, dan yang paling utama adalah perannya dalam perjalanan para jiva mencapai kesempurnaan tertinggi.

Sehubungan dengan peranan Sri Madhva dalam Goudiya Vaishnava, kita juga dihadapkan pada beberapa persoalan. Tidakkah Goudiya merupakan salah satu garis perguruan Vaishnava yang paling pesat perkembangannya di jaman modern ini. Sepertinya dengan atau tanpa Sri Madhva, tidaklah memberi pengaruh pada penyebaran dan perkembangan Goudiya. Justru dengan adanya Srila A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, seorang Goudiya-acharya, nama Sri Madhva baru dikenal secara luas di seluruh dunia. Walau demikian, paling tidak bagi para Goudiya, adalah sangat penting untuk diyakini, bahwa doa-doa yang mereka sampaikan melalui rangkaian garis perguruannya akan sampai kepada Tuhan Sri Krishna melalui Sri Madhva. Mengapa Sri Madhva bisa demikian penting? Dengan membaca tulisan ini, dan nantinya tentu saja Sri Su-madhva-vijaya secara lengkap, kita akan memahami kemuliaan dan keistimewaan Srimad Madhvacharya Bhagavatapada. Diharapkan pula pertanyaan di kalangan para Goudiya akan dapat terjawab, yaitu mengapa Sri Caitanya Mahaprabhu harus memilih Brahma-Madhva sebagai basis perguruan-Nya dan mengapa mereka merasakan bahwa menjadi bagian dari keluarga Madhva sangatlah penting.

SRI MADHVA (1)


Terpesona oleh kemuliaan Srimadacharya yang tiada bandingannya, Sri Sri Purnaprajna Anandatirtha Madhvacharya Bhagavatapada yang agung, dan dengan dipenuhi rasa hormat serta cinta yang mendalam kepada kaki padmanya yang suci. Hamba seorang insan nan remeh, yang terlahir dalam silsilah para pelayan Sang Mempelai Pria nan Tampan, Yang Berbaring di tepian Kaveri, Penguasa Keanekawarnaan, Raja Segala Keindahan, walaupun tidak memiliki sedikitpun kemampuan maupun sifat-sifat baik seorang hamba Tuhan sejati, memaksakan dirinya menahan rasa malu, menulis rangkaian sejumlah kata-kata yang tak berharga, yang terlintas dalam pikirannya berkat kemurahan hati Srila Gurudeva, demi mengagungkan Srimadacharya yang termulia.

Setelah mendengarkan betapa besarnya belas kasih Srimadacharya, pula merasakannya, sebagaimana tercurah dalam silsilah perguruannya yang terluhur, sumber keselamatan dan sukacita bagi seluruh alam semesta. Siapakah yang akan tahan untuk tidak membuka mulutnya memuji beliau? Bila keagungannya dinyanyikan di surga oleh para Gandharva, di bumi oleh para pujangga suci dan batu-batu pun akan meleleh bila mendengarnya, apalah halangannya bagi hamba untuk turut bersukacita memuji beliau bersama-sama dunia?

Satu-satunya kualifikasi yang ada pada hamba adalah kemauan. Oleh karenanya Sri Jagannatha Rangaraja dan Srila Gurudeva telah berbelas kasih menempatkan hamba dalam pelayanan menyebarluaskan keagungan para Vaishnava, sekalipun kata-kata, tulisan, dan pikiran hamba tiada berharga. Maka tidak ada cara lain bagi hamba untuk membalas kasih Srila Gurudeva selain dengan meneruskan pelayanan ini sampai akhir segalanya. Adalah beliau, permata para Vaishnava yang muncul di Tanah Permata nun jauh di Timur Laut, yang telah memerintahkan hamba untuk menguraikan kemuliaan Srimadacharya. Dengan menjunjung perintah beliau di atas kepala dan menyandarkan diri pada karya-karya suci serta petunjuk para Acharya terdahulu, kini hamba mempersembahkan uraian ini kepada kaki padma semua Vaishnava.

Sri Narayana Panditacharya yang mulia, penulis Sri-sumadhva-vijaya dan berbagai karya agung lainnya menyebut dirinya sebagai manda-buddhe, orang dengan kecerdasan tumpul, dan mengatakan bahwa hanyalah Devata seperti Rudra dan Sesha saja yang mampu menguraikan keagungan Sri Madhvacharya dengan baik. Namun dengan belas kasihnya kepada segenap makhluk, beliau telah memberkati dunia dengan kitab karyanya, yang membuka rahasia ajaibnya kisah kehidupan Srimadacharya kepada dunia dan memberikan kesejahteraan, kemujuran, serta kesukacitaan bagi semuanya. Sungguh sebenarnya beliau adalah seorang sempurna dan yang mahatahu, sehingga apapun yang beliau katakan adalah bebas dari kesalahan dan cacat cela. Begitu pula Srila Sripadaraja yang di kemudian hari melihat ketidakmampuan orang kebanyakan untuk mempelajari, membaca, maupun menuliskan Sri Su-madhva-vijaya, maka beliau menyusun Sri Madhvanama agar semua orang dapat bersukacita memuliakan Srimadacharya kita.

Tetapi hamba hanyalah debu di kaki beliau, yang berusaha melayani dengan menuruti jejak langkah beliau semua, mengungkapkan kembali apa yang telah beliau ungkapkan. Semoga beliau senantiasa berkenan menjaga hamba dari kesalahan menuliskan sesuatu yang tidak mengandung kebenaran dan tidak berkenan bagi Sri Hari, Vayu, Guru, dan para Vaishnava.
Tulisan ini terwujud bukan oleh diri hamba, melainkan semata-mata berkat belas kasih Srila Gurudeva dan cahaya kemuliaan Srimadacharya. Siapakah diri hamba ini? Adalah Sriman Narayana Sendiri yang memuliakan hamba-Nya yang terkasih itu. Hamba hanyalah sebuah pena di Tangan-Nya. Apabila dengan membaca uraian ini, sedikit saja kecintaan kepada Sri Kula-guru-raya Madhvacharya tumbuh di hatinya, maka hamba merasa pelayanan ini sudah berguna. Semoga Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna menjadi puas dengan persembahan ini.