Sabtu, 05 Desember 2009

NYALA PELITA TIGA PENGELANA

POYGAI ALVAR ADALAH YANG PERTAMA DALAM URUTAN keduabelas Alvar dan juga merupakan yang paling tua. Dia dilahirkan di kota suci Kanchipuram di tengah-tengah bunga teratai emas yang mekar dalam kolam kuil Tuhan Varadaraja (Sang Raja Yang Mahaberkarunia). Dia hadir di dunia ini pada hari Suddhastami bulan Aipasi, di bawah konstelasi bintang Sravana, pada akhir Dvaparayuga. Oleh karena dia dilahirkan dalam sebuah kolam, maka dia diberi nama Poygai (artinya kolam dalam bahasa Tamil) dan Kasara Yogi atau Sarovara Munindra dalam bahasa Sanskrit. Dalam Tamil Prabandham dia disebut Ayonija, lahir tanpa melalui kandungan, sehingga dia merupakan pribadi yang Svayambhava, tercipta sendiri oleh kehendak Illahi. Poygai Alvar diyakini merupakan penjelmaan dari serunai lokan Tuhan Sri Vishnu, Sankha Panchajanya. Bhutattar Alvar atau Bhutam Alvar adalah yang kedua. Dia lahir sehari setelah Poygai Alvar di Mallapura (Mahabali-puram), dari kuncup kembang Madhavi. Bhuta Yogi merupakan penjelmaan dari gada Kaumodaki. Alvar ketiga adalah Pey Alvar. Dia lahir sehari setelah Bhuta Yogi di Mayura-puri. Dia terlahir di atas sebuah teratai merah yang tumbuh di tengah kolam kuil Adi Kesava Svami. Dia merupakan penjelmaan dari pedang Tuhan Sri Vishnu, pedang Nandaka. Orang-orang menyebutnya Bhranta Yogi, yogi gila, karena mabuk cintanya kepada Tuhan, dia tampak seperti orang cacat mental.

Saroyogi/Poygai-alvar
Kasara, yang dimuliakan dari sekalian pujangga, lahir di kota Taman Bunga Kanchipuram. Dengan belas kasihnya tiada tara, memberi keselamatan kepada semua hamba Tuhan dan membawa mereka semua ke hadirat kaki-Nya, beliau telah menggubah seratus syair Antadhi Pertama yang tiada duanya.

Ketiganya diberkahi sifat-sifat kebaikan yang murni. Sifat nafsu dan kebodohan yang rendah tak pernah menyentuh diri mereka. Mereka mengetahui apa itu keterikatan atau kemelekatan duniawi dan mengetahui bagaimana cara bebas dari ikatan tersebut. Dengan demikian mereka senantiasa terbebas dari segala pengaruh keduniawian dan sepenuh hatinya melayani Tuhan sebagai hamba-hambanya yang tulus. Ketiganya matang dalam kerohanian, pengetahuan, ketidakterikatan, dan cintakasih kepada Tuhan. Mereka dengan ketat sekali menghindari pergaulan dengan orang-orang yang berpikiran duniawi. Masing-masing berkelana secara terpisah berkeliling negeri, tanpa saling mengenal sebelumnya, menghabiskan siang dan malamnya tanpa rumah tempat bernaung, hanyalah demi memberikan kesejahteraan bagi orang-orang yang berminat mendengarkan mereka. Walaupun sangat sedikit yang kita ketahui dari masa-masa awal kehidupan mereka, namun sebuah kisah yang menarik menghiasi pertemuan mereka bertiga di suatu waktu.

Angkasa ditutupi awan mendung yang tebal. Hujan lebat disertai kilatan petir, gemuruh guntur, dan hembusan angin topan mengamuk selama dua hari tanpa henti. Para penduduk desa hanya bisa bersembunyi dan berlindung di dalam rumahnya masing-masing, berharap agar cuaca yang sangat tak bersahabat ini dapat segera berakhir. Mereka yang miskin, tidak mempunyai tempat bernaung, terpaksa berlindung di dalam gua-gua atau lubang-lubang batang pohon.

Kasara Yogi atau Poygai Alvar bertekad untuk terus berjalan menembus badai itu. Pakaiannya hanyalah kain compang-camping seorang pengemis. Dia melalui negeri yang dilanda bencana itu hanya dengan satu-satunya miliknya yang paling berharga, selembar syal tipis, yang kini telah basah kuyup oleh hujan deras. Begitu petir menyambar di angkasa, hembusan angin yang begitu kuat menerpa tubuhnya. Segera ia berusaha menegakkan jalannya yang terhuyung, akibatnya syal tipis itu terlepas dari pegangannya, dan terbang ditiup angin. Walau demikian orang suci itu tidak terganggu sedikit-pun. Sekali lagi angin kencang berhembus, kini selembar kain yang menutupi tubuhnya juga tak bisa selamat. Poygai tertawa dan memuliakan Tuhan,

Oh Hari! Betapa senangnya Engkau mempermainkan orang.
Engkau berlari kesana-kemari.
Demi membuat orang-orang menari,
Engkau Sendiri menari-nari.
Beberapa, Engkau pesonakan dengan senyum-Mu,
Beberapa, seperti para gopi,
Engkau pikat dengan irama seruling-Mu,
Walaupun seluruh semesta memancar dari pusar-Mu,
masih juga Engkau menikmati mencuri mentega.
Karena kenakalan-Mu, para gopi marah-marah
dan mengadu pada Yasoda.
Engkaupun terkadang tampak kesal
dan mengganggu teman gembala-Mu.
Namun tak seberapa lama, Engkau memeluknya erat-erat.
Kadang Engkau tidak bisa diam.
Kadang Engkau tak bergerak.
Kadang Engkau mengenakan busana semewah raja.
Kadang Engkau berpakaian seperti pengemis.
Siapakah yang dapat menguraikan kemuliaan rohani-Mu?
Dengan merampas pakaianku, Engkau tertawa terbahak.
Tetapi, Oh Anak Nakal,
Aku telah melihat lelucon-lelucon kecil-Mu.
Bermainlah Tuhanku, tetaplah bermain. Permainkanlah diriku.
Hamba-Mu yang kekal ini sungguh bahagia
melihat Engkau bersuka ria.

Walaupun tersiksa oleh amukan cuaca dan kelaparan, dia menyanyikan lagu ini dan menari-nari penuh sukacita. Tak lama setelahnya, Poygai sampai di sebuah gubuk. Namun pintunya terkunci, sehingga dia memutuskan untuk bernaung di serambi depannya yang kecil dan sempit. Ketika dia hendak berbaring dan beristirahat, tiba-tiba datang seorang pengembara lagi. Itu adalah Bhuta Yogi. “Tuan yang baik hati! Adakah tempat beristirahat untuk seorang pengelana yang kedinginan dan kelaparan?”, tanya Bhuta Yogi. Sara Yogi duduk dan dengan gembira dia menjawab, “Marilah saudaraku. Masuklah. Bila cukup tempat bagi satu orang untuk berbaring, maka cukuplah bagi dua orang untuk duduk.” Bhutatta berterimakasih dan masuk ke dalam. Mereka berdua lalu duduk, sampai kemudian ada suara terdengar dari luar, “Berbaik hatilah mengijinkan saya masuk. Saya sudah berkelana selama berhari-hari dan sudah sangat kelelahan.” Itu adalah seruan Pey Alvar, Bhranta Yogi. “Masuklah”, sahut Sara Yogi, “Bila ada tempat bagi dua orang untuk duduk, maka cukuplah tempat bagi tiga orang untuk berdiri.” Begitu Bhranta Yogi masuk, mereka bertiga berdiri berdampingan dan saling berkenalan.

Bhutayogi/Bhutattar-alvar
Sembah sujudku ke hadapan kedua belah kaki Bhutatta yang indah bagai kembang seroja, menjamin tercapainya pembebasan dari samsara. Mulia oleh kebijaksanaan agungnya, menganugerahkan manisnya madu kekekalan syair sucinya kepada kita, maka beliau lahir di Mahabalipuram, sebuah kota di tepi samudera yang arus tenangnya mengandung mutiara berharga..

Poygai Alvar berkata, mengutip dari Pancaratram, “bhagavacch esa bhutaham ananyaryo citah paraha, Aku tidaklah sama dengan alam duniawi ini. Aku adalah hamba Tuhan Yang Mahatinggi.” Bhutattar berkata, mengutip Naradiya Purana, “daso'ham vasudevasya sarvaloka mahatmanah, Aku adalah hamba Tuhan Vasudeva, sumber kehidupan tertinggi bagi seluruh alam semesta.” Pey mengutip Srimad Ramayana, “daso'ham kausalendrasya rama syaklista karmanah, Aku adalah hamba Tuhan Ramacandra, penguasa Kosala.” Ketiganya kemudian mulai membicarakan kemuliaan-kemuliaan Tuhan dan memuja keagungan-Nya. Begitu mereka bertiga khusuk dalam pembicaraan rohani itu, tiba-tiba terasa ada kehadiran orang ke empat yang membuat ruangan itu terasa lebih sempit.

Bhutattar berpikir, “Sudah cukup sulit bagi kita bertiga untuk berdiri di sini. Sekarang sepertinya ada makhluk tak berhati yang mendesak masuk dan ingin menyingkirkan kami bertiga.” Suasana yang sesak ini membuat Poygai akhirnya memutuskan, “Apa yang harus kita lakukan, saya akan menyalakan pelita untuk mengetahui siapa orang asing yang misterius ini.” “Tapi saudaraku, kita tak punya pelita, tidak juga minyak maupun sumbu kapas di sini.”, sahut dua Alvar lainnya. Maka mulailah Poygai Alvar melantunkan doa yang kemudian terkenal sebagai bagian pertama Mudal Thiruvantadhi.

Jadilah pelitaku terbuat dari tanah bumi.
Kunyalakan dengan minyak samudera.
Terangnya adalah cahaya mentari
Maka dengannya akan tampaklah siapa orang asing ini!

Bhutattar kemudian melanjutkan, “Kini akan kutambah terangnya dengan pelitaku”

Jadilah pelitaku terbuat dari kebijaksanaan.
Wadah dari cintakasih kepada Tuhan.
Minyaknya adalah kerinduanku yang berkobar-kobar.
Dengan sumbu pikiranku yang tercelup di dalamnya.
Maka dengannya akan tampaklah siapa orang asing ini!

Doa ini dikenal sebagai bagian pertama Irandam Thiruvantadhi. Pey Alvar kemudian berkata, “Diriku merasa tak pantas setelah mendengar usaha-usaha kalian yang amat ajaib. Namaku adalah Bhranta, si gila, karena cintaku kepada kaki Sri Padmaramana yang bagaikan kembang seroja membuatku kehilangan kewarasan. Kasih sayangku pada-Nya membuatku merinding dan berkeringat. Air mataku jatuh bercucuran. Suaraku terbata-bata, dan diriku menari-nari dalam suka cita, sepenuhnya tak peduli akan dunia di sekitarku. Jadi ketika anda berdua menyalakan pelita, hanya ini yang bisa kukatakan, dengan terangnya pelita kalian kumelihat.”

Aku melihat, Aku melihat Permaisuri Agung Sang Raja, Sri Mahalaksmi. Aku melihat gemilang keindahan Wujud Rohani Tuhanku yang keemasan. Aku melihat chakra-Nya yang indah, penghancur segala halangan yang mencegah kita mendekati-Nya. Aku juga melihat putihnya serunai lokan di tangan Tuhan. Wahai Tuhan pujaan hatiku. Hari ini aku melihat semuanya ini.

Doa ini dikenal sebagai bagian pertama dari Mundram Thiruvantadhi. Setelah Pey Alvar melantunkan doa ini, naungan kecil itu diterangi oleh cahaya gemilang dan ketiga hamba Tuhan yang agung itu mengetahui Jati Diri orang yang ke empat. Berdiri di sana dengan empat lengan-Nya, memegang sankha, cakra, gada, dan bunga padma, dihiasi untaian bunga Vaijayanthi-mala dan kalung permata Kaustubha, Tuhan Yang Maha Esa Sri Narayana, menampakkan Diri-Nya.

Bhrantayogi/Pey-alvar
Wahai pikiran! Dapatkanlah sukacita dengan memusatkan diri kepada kakinya yang suci. Kaki Bhranta yang telah merasakan ikatan hatinya yang kuat pada Tuhan yang berbaring di Thirukkovilur, dengan keindahan warna-Nya yang serupa awan hujan.

Dalam sukacita cintakasih yang bergelora, masing-masing Alvar menyanyikan seratus kidung pujian kepada Tuhan. Poygai Alvar memuliakan Wujud Semesta Tuhan, dengan menguraikan kemuliaan Tuhan sebagaimana dicerminkan oleh alam ciptaan-Nya dalam Thiruvantadi pertama. Bhutattar memuliakan Tuhan sebagai Narayana dengan Thiruvantadinya yang ke dua. Pey menyanyikan Thiruvantadi ke tiga, menambahkan Sri (Sang Permaisuri Illahi) pada Narayana. Ketiga prabandham ini dibanjiri pengetahuan tertinggi tentang Tuhan (parajnana), cintakasih Tuhan (parabhakti), dan penampakan (darshan) rupa rohani Tuhan sebagai keinsafan akan cintakasih rohani tertinggi (paramabhakti). Ketiga tataran rohani yang paling luhur ini hanyalah dapat diinsafi sepenuhnya di Dunia Rohani yang Tertinggi dan Tak Terbatas. Namun atas karunia Tuhan Sendiri, ketiga Alvar dapat membawanya ke dalam dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar