Selasa, 15 Desember 2009

SANG ALVAR AGUNG

KALAU SAJA TUHAN YANG MAHA ESA HADIR di depan mata kita, di atas bumi ini, tepat di hadapan kita, apa yang akan kita lakukan? Apa yang kita pikirkan? Kebanyakan dari kita mungkin akan meminta sesuatu dari Beliau, pikiran yang baik, kecerdasan, kesehatan, keselamatan, kekayaan, pembebasan dari perputaran kelahiran dan kematian, dan sebagainya. Akankah ada seseorang yang justru tidak minta apa-apa? Mungkin ada sedikit orang yang seperti itu. Tetapi terbayangkah ada orang yang jauh lebih mulia lagi, yang bukan saja tidak minta apa-apa, tetapi malah ingin memberikan sesuatu kepada Tuhan?

Ada seorang guru yang agung dan roh mulia, yang ketika Tuhan hadir di hadapannya tidak meminta apa-apa bahkan juga tidak merasa senang. Sebaliknya jiwa agung ini menjadi sungguh-sungguh khawatir, karena dia merasa akan ada bahaya yang dapat melukai Tuhannya Tercinta, di dunia yang penuh celaka ini. Guru ini begitu khawatirnya sampai-sampai begitu melihat Tuhan dia berteriak, “Semoga Engkau panjang umur, semoga Engkau terhindar dari semua marabahaya!” Siapakah pribadi ini? Dia adalah Periya Alvar (Alvar Agung), Maha Alvar.

Sri Periyalvar

Periya Alvar lahir di kota Sri-Villiputthur, Pandiya Nadu, di India Selatan pada bulan Tamil Aani, dalam sebuah keluarga brahmana kelas tinggi. Kedua orangtuanya memberinya nama Vishnucitta. Mulai awal kehidupannya dia senantiasa khusuk dalam pelayanan kepada Tuhan dalam Rupa-Nya sebagai Bhagavan Vata-patra-sayi Svami yang dipuja di kota Sri-Villiputthur (Vada-perum-kovil-udaiyan. Salah satu Rupa Tuhan Vishnu, secara harfiah berarti Beliau Yang Berbaring di Atas Daun Beringin, sebagai satu-satunya yang ada setelah peleburan alam semesta dan ke dalam Diri-Nyalah seluruh ciptaan ini terserap). Tuhan dalam aspek ini disebut juga Sri Rajamannar (Raja segala raja).

Semenjak kanak-kanak secara alamiah dia adalah penyembah Tuhan Sri Vishnu yang murni. Ketika bermeditasi pada kegiatan rohani Sri Krishna, dia terinspirasi oleh Sudama Malakara, seorang hamba yang menghaturkan kalungan bunga dan memuja Sri Sri Krishna Balarama ketika Mereka memasuki kota Mathura. Alvar kemudian memutuskan dalam hatinya bahwa dia akan mengabdikan diri selama-lamanya untuk menyediakan bunga-bunga dan Tulasi (tumbuhan suci yang sangat dicintai Tuhan. Daun-daun dan bunganya mutlak digunakan dalam setiap puja dan persembahan kepada Tuhan Sri Krishna dan berbagai manifestasi Vishnu-Nya) yang dibutuhkan untuk pemujaan sehari-hari dalam kuil Tuhan Vata-patra-sayi Vishnu.

Pada suatu hari raja negeri Madurai yang termasuk dalam dinasti Pandiya, Sri Vallabhadevaraja Pandyan, bepergian meninjau kerajaannya pada malam hari. Dilihatnya seseorang tengah berbaring di luar rumah. Raja yang tengah menyamar mendekatinya dan bertanya siapakah dia dan mengapa dia berbaring di luar rumah malam-malam begini. Orang itu menjawab bahwa dia adalah seorang brahmin yang baru saja kembali dari mandi suci di sungai Ganga. Raja bertanya lagi, “Beri tahu aku, dharma apa yang engkau ketahui!” Brahmana itu menjawab, “Untuk keperluan selama empat bulan musim hujan, bekerjalah selama delapan bulan. Untuk keperluan di malam hari, bekerjalah pada siang hari. Untuk keperluan di usia tua, bekerjalah di masa muda. Untuk memperoleh paralokam (tujuan tertinggi), berusahalah dalam tiap kelahiranmu.”
Raja adalah orang yang cerdas, segera ia berpikir, “Bagi diriku, aku sudah memiliki segala-galanya di dunia ini, tetapi bagaimana caranya mendapatkan paralokam?” Raja memanggil pendeta penasihat kerajaan, Purohita Rajaguru, dan bertanya, “Bagaimana kita dapat menemukan paratattvam, Kebenaran Tertinggi, yang dapat memberikan keempat tujuan hidup (agama, kemajuan ekonomi, kesenangan, dan pembebasan) dan juga paralokam.” Rajaguru menjawab, “Kalau begitu paduka harus mengumpulkan semua Vidwan, semua sarjana, dan biarlah mereka mencoba menyimpulkan apa itu paratattva.” Raja setuju, kemudian dia langsung mempersiapkan sekantung penuh uang emas yang digantungkan pada sebatang galah bambu yang tinggi dan menaruhnya di depan ruang sidang kerajaan. Raja kemudian mengumumkan, “Siapapun yang bisa menegakkan paratattvam dengan pramananya (kebenaran dan bukti-buktinya) akan memperoleh pundi berisi uang emas ini.”

Pada saat yang bersamaan di Sri-Villiputhur, Vishnucitta bermimpi Tuhan datang menemuinya. Dia ingin untuk menunjukkan paratattvam sebagaimana diajarkan dalam Vedanta, melalui Vishnucitta. Tuhan Sriman Narayana memberi perintah, “Segeralah engkau pergi ke Madurai dan buktikanlah bahwa hanyalah Diri-Ku Sendiri, Sriman Narayana, adalah satu-satunya Paramatma, Tuhan Tertinggi Yang Maha Esa dan ambillah pundi emas dari raja!” Vishnucitta bertanya, “Oh Tuhanku. Hamba hanyalah orang bodoh yang tidak terpelajar, tidak tahu apapun mengenai Veda dan sastra. Bagaimana hamba bisa melaksanakan tugas ini? Lihatlah tangan hamba! Keduanya penuh luka karena pekerjaan kasar di kebun. Hamba hanyalah orang miskin dan tak berpendidikan, tapi Paduka menginginkan hamba untuk pergi dan berbicara di tengah-tengah sidang para sarjana besar, bagaimana mungkin hamba bisa?” Tuhan menjawab, “Mengapa engkau membingungkan hal itu. Tidakkah Aku di sini. Itu adalah urusan-Ku, janganlah khawatir. Jalankanlah perintah-Ku, Aku Sendiri yang akan mengatur semuanya.” Setelah bersabda demikian Tuhan Sri Narayana menghilang.

Sejalan dengan isi mimpinya, Vishnucitta pun memutuskan untuk melaksanakan perintah Tuhan dan segera pergi ke sidang istana Pandiya. Begitu melihat Vishnucitta, Raja dan Purohita merasakan sesuatu yang istimewa dan mereka menyambut dia dengan penuh penghormatan. Hal ini menimbulkan kecemburuan dalam hati para pandita lainnya, tetapi Rajaguru menenangkan mereka semua. Rajaguru segera mempersilakan Vishnucitta untuk memulai paratattva-nirnayam (diskusi mengenai Kebenaran Mutlak Tertinggi). Dengan memusatkan pikiran pada karunia agung dan belas kasih Tuhan dalam mimpinya, Vishnucitta mampu melihat semua makna sastra-sastra suci. Maka, dengan berbagai pramana yang tak terhitung dari sruti, smriti, itihasa, dan purana, Vishnucitta mengajukan berbagai pertanyaan dan jawaban yang mengalir bagai sungai dan menegakkan bahwa,
1. Sri Vaishnava-dharma adalah dharma (agama) yang sejati
2. Tuhan Yang Maha Esa Sriman Narayana adalah satu-satunya paratattva
3. Cara terbaik untuk mencapai tujuan tertinggi adalah saranagati, penyerahan diri kepada kaki padma Tuhan Sriman Narayana.

Sang Alvar menjadi seperti Dhruva, yang setelah disentuh oleh sankha Tuhan Vishnu dapat segera mendapatkan kekuatan untuk menyusun berbagai doa pujian yang indah. Dengan mengutip berbagai bukti dari kitab suci, Alvar menyatakan bahwa Sriman Narayana adalah Tuhan Tertinggi Yang Maha Esa, dan seseorang yang mengidamkan pembebasan harus hanyalah bermeditasi, menyembah, dan menyerahkan diri pada kaki padma Tuhan Sri Narayana saja, satu-satunya yang dapat menganugerahkan mukti. Setelah memberi penjelasan panjang lebar, tak satu Vidwan dan Panditapun yang dapat membuka mulutnya. Ajaran Vishnu-citta Alvar tiada bandingannya dan kemuliaan pelayanan bhakti kepada Pribadi Tuhan Yang Maha Esa telah ditegakkan dengan begitu kuat, tanpa memberi ruang sedikitpun pada konsep yang bersifat impersonal. Tak seorangpun berani mengeluarkan sepatah kata bantahan. Raja dan Rajaguru beserta semua pejabat bersujud lurus-lurus di kaki Alvar, sepenuhnya menerima kejelasan dan kebenaran uraiannya. Tiang bambu tinggi yang berada di hadapan ruang sidang secara ajaib merunduk dan meletakkan pundi uang emas hadiah di kaki Vishnucitta.

Raja dan para menterinya merasa sangat bersemangat dan mulai memuji Alvar, ”Dia sudah mengungkapkan kepada umat manusia terangnya cahaya yang bersinar di puncak Vedanta yang tertinggi.” Mereka kemudian membawa payung kebesaran kerajaan, diiringi para hamba sahaya yang menaburkan bunga-bunga, kemudian mendudukkan Alvar di atas gajah kerajaan. Raja kemudian membawanya berkeliling kerajaan dalam pawai sukacita, diiringi tetabuhan musik dan tiupan serunai kemenangan, sebuah perayaan besar diadakan oleh Kerajaan Pandya.

Ketika perayaan yang begitu meriah dipersembahkan bagi penyembah-Nya tercinta, dapatkah Tuhan berdiam diri? Seperti orangtua yang bergembira melihat anaknya memperoleh kemenangan, maka Tuhanpun sangat senang melihat penyembah-Nya diagungkan. Tuhan Sri Vishnu, bersama seluruh pengiring-Nya dari dunia rohani, turun secara pribadi ke tempat itu. Beliau bergegas mengendarai periya thiruvadhi, Mahavahana Garudadeva dan memberi darshan-Nya kepada Alvar. Begitu melihat Tuhan pujaan hatinya, Alvar dipenuhi kebahagiaan. Walau demikian dia tidak membiarkan rasa bangga muncul sedikitpun di hatinya. Bukannya membenamkan dirinya dalam sifat-sifat Tuhan yang mahaada dan meresapi segala-galanya, Alvar justru tenggelam dalam keindahan rohani dan Wujud Pribadi yang mahamenawan dari Tuhan Semesta Alam, kemudian menyelam semakin dalam memasuki cinta Illahi dan sepenuhnya melupakan kemahakuasaan Tuhan dan keberadaan dirinya sendiri.


“Oh Tuhan Penguasa Paramapadam, Paratattva, Parabrahma, yang bersemayam di alam tertinggi yang dipenuhi kebahagiaan kekal, telah turun ke dalam dunia samsaram, yang penuh dengan kejahatan. Apa yang akan terjadi pada-Nya.” Alvar ketakutan, “Di sinilah Tuhanku. Sang Pribadi Tertinggi yang dipuja bahkan oleh para Deva yang teragung. Namun pada saat ini hamba tidak merasakan kebahagiaan cintaku pada-Mu, cinta yang membuatku melupakan diri ini dan membuatku tak sadarkan diri. Hamba-Mu ini justru merasa takut. Khawatir akan keselamatan-Mu di tempat yang sangat busuk ini. Kini yang kurasakan bukanlah cinta seorang kekasih pada pujaan hatinya, tetapi cinta seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.” Maka mulailah Alvar mengumandangkan doa mangalasasana, doa keselamatan, menggunakan genta yang tergantung di leher gajah sebagai pengiring, melantunkan Divyaprabandhanya yang dimulai dengan kata, “Pallandu! Pallandu!, Semoga Engkau panjang umur!”, Inilah Thirupallandu. Begitu mendengar doa Sang Alvar, Tuhan Sri Vishnu, seperti seorang anak yang meyakinkan ayahnya, memperlihatkan kedua belah bahu-Nya yang kuat dan perkasa, dengan senyumnya yang mempesona seakan berkata, “Aku sudah besar dan sangat kuat.” Vishnucitta dikenal sebagai Alvar yang mahaagung, Periya Alvar, karena perhatiannya yang begitu besar kepada Tuhan.

Periya Alvar kemudian menerima penyerahan diri raja ke dalam jalan Sri Vaishnava sebagai bagian dari pelayanannya kepada Tuhan. Setelah memberkati sang raja, Alvar kembali ke rumahnya. Kembali sebagai tukang kebun yang merawat taman bunga Vata-patra-sayi di Sri-Villiputhur. Dia menggunakan uang hadiahnya untuk membangun gerbang agung, Rajagopuram, bagi kuil Tuhan di Sri-Villiputhur. Dia menggubah dan mewariskan kepada kita lebih dari 400 syair lagi, dipenuhi cinta yang begitu agung kepada Tuhan Sri Narayana, terutama ditujukan kepada Pribadi-Nya Yang Asli dan Kekal, Sri Krishna. Syair-syair ini memperlakukan Tuhan sebagai seorang anak kecil, dan membawa kita melalui tahap-tahap masa kanak-kanak Krishna. Memandikan-Nya sambil menyanyikan lagu yang manis, memakaikan baju, menghiasi, memberi-Nya makan, menidurkan-Nya dalam buaian, dan sebagainya.

Pada hari Thiru-Adipuram, Periya Alvar menemukan seorang bayi perempuan di bawah pohon Tulasi di kebun bunganya. Dia memberinya nama Godai (Godadevi) dan membesarkannya sebagai anaknya sendiri. Godai adalah anak Illahi yang membantu ayahnya dalam semua pelayanannya kepada Tuhan. Ketika sampai umurnya, Godai hanya ingin menikah dengan Sri Krishna, dalam rupa Arca-Nya yang tampan di Sri Rangam, Bhagavan Ranganatha Svami. Akhirnya Godai mengalami persatuan mistis dengan Tuhan dan menghilang di dalam Ruang Mahasuci Kuil Sri Rangam. Sejak saat itu Godai dikenal pula sebagai Soodikkoduttha nacchiyar atau Andal, Sang Dewi yang memenangkan hati Tuhan, Allakkhiya Manavalan (Mempelai Pria nan Tampan, julukan bagi Sri Ranganatha). Maka dari itu Periya Alvar adalah svasuraamaravanthyam, ayah mertua Tuhan Sendiri, seperti Maharaja Janaka. Sampai akhir hidupnya di dunia Periya Alvar masih menggubah berbagai syair kebaktian kepada Tuhan, yang diresapi cintanya yang dipenuhi kerinduan berkobar. Rasa rindu yang tak tertahankan itu membakar hatinya sedemikian rupa, sehingga dia tidak tahan lagi untuk tetap tinggal di dunia ini. Periya Alvar, yang sesungguhnya adalah Garudadeva sendiri, wahana Tuhan, meninggalkan Divyaprabandhamnya bagi kita, yaitu Periya Alvar Thirumoli, Kidung Suci Sang Alvar Agung.

Gerbang agung Vata-patra-sayi (Vada-perum-koyil-udaiyan) di Srivilliputhur. Dibangun oleh Sri Periyalvar dengan uang hadiah dari Raja Pandya. (Tampakan saat ini setelah berabad-abad, melalui pemeliharaan dan pemugaran. Sri Vatapatrasayi adalah tempat sembahyang yang aktif)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar