Senin, 14 Desember 2009

SANG PUJANGGA BERLIDAH SEMANIS MADU

PUJANGGA BERLIDAH SEMANIS MADU, atau Madhurakavi dalam bahasa Sanskrit, adalah julukan bagi seorang Alvar yang karyanya juga digabungkan dalam Nalayira Divya Prabandham. Sri Madhurakavi Alvar tidak seperti para Alvar lainnya yang menggubah beratus-ratus syair untuk memuliakan Tuhan. Dia hanyalah menyusun sepuluh paasuram (bait syair) saja. Karya ini juga tidaklah merupakan pemujaan kepada Tuhan Sri Narayana seperti layaknya paasuram-paasuram para Alvar lainnya. Sepuluh doa Madhurakavi ditujukan kepada Nammalvar, sang guru kerohaniannya. Maka dari itu Madhurakavi juga dikenal akan kedalaman guru-bhaktinya dan dijuluki Sang Alvar yang hanya memuja guru, bukan Tuhannya.

Mulia oleh pengabdiannya yang tak tergoyahkan kepada Sang Guru, yang menyanyikan lagu cintanya nan indah bagi Tuhan Narayana. Sang Pujangga Berlidah Semanis Madu mengulurkan tali-temali bersimpul pendek untuk mengikat hati yang terbaik dari para Prapanna. Sembah sujud kami kepada engkau yang memberikan teladan suci bagi seluruh dunia.

Tak banyak yang kita ketahui mengenai masa awal kehidupannya, namun suatu kejadian yang luar biasa menghiasi riwayatnya. Dia berasal dari India Selatan, lahir dalam keluarga Brahmana yang terhormat. Suatu ketika dia berziarah keliling negeri, mengunjungi 106 Divyadesam, tempat-tempat suci pemujaan Tuhan Sri Narayana yang tersebar di seluruh India (ada 108 Divyadesa, dua lainnya berada di luar bumi). Akhirnya sampailah dia di Ayodya, tempat suci kemunculan Tuhan sebagai Sri Rama di India Utara. Pada saat dia khusuk memuja Sri Rama di Ayodya, tiba-tiba dia melihat cahaya terang bagaikan matahari terbit di cakrawala sebelah Selatan. Kagum dan penasaran akan sumber cahaya itu, maka dia memutuskan untuk kembali ke India Selatan, mencari dari manakah cahaya itu berasal. Pencarian ini membawanya ke Thirukkurugur, tempat dia bertemu dengan guru kerohaniannya tercinta, Nammalvar.

Di tempat itu dia melihat seorang yogi muda, duduk dalam sikap teratai, padmasana, di bawah sebatang pohon asam yang tumbuh di halaman kuil Adinatha Svami. Pemuda ini dikenal oleh penduduk setempat sebagai Maran, namun di kemudian hari dia inilah yang kita kenal sebagai Satakopa, Nammalvar, Alvar Kita Yang Mulia. Dari penduduk setempat akhirnya juga diketahui bahwa pemuda itu telah duduk di bawah pohon selama hidupnya, dalam perenungan mendalam akan Kebenaran Mutlak Yang Utama. Dia tidak pernah berdiri, berjalan, berbicara, makan, maupun minum. Cahaya gemilang itu memancar dari tubuhnya. Tampak bahwa dia tengah menantikan seseorang yang tepat, yang memiliki kepantasan untuk menerima ajaran dan berbagi rahasia pengalaman mistik Illahi dengannya.

Sang Brahmana mendekati Yogi Muda, mengajukan pertanyaan yang mengandung makna kebenaran tinggi. Tanpa disangka, Sang Yogi Muda yang tak pernah berbicara seumur hidupnya, ternyata menjawab pertanyaan itu. Itulah kali pertama orang mendengar suaranya sejak lahir. Terharu akan makna rohani jawaban Sri Satakopa, dia seketika itu juga menginsafi bahwa pemuda ini tiada lain adalah gurunya, Sang Acharya Sejati, seorang hamba Tuhan Sriman Narayana yang asli dan terpercaya. Tanpa peduli akan usianya yang lebih tua dan juga kelahirannya dalam keluarga Brahmana, sedangkan Sri Satakopa lahir dalam keluarga Sudra, Madhurakavi segera bersujud dan menyerahkan diri kepadanya sepenuh hati, untuk belajar dan melayani dia. Begitu dalamnya pengabdian Madhurakavi kepada guru kerohaniannya ini sehingga dia menyusun sepuluh paasuram untuk mengungkapkan perasaannya, yang kemudian digabungkan dalam Kumpulan Kudus.

Sepuluh bait doa ini disebut Kanninun Sirutthambu, “tali-temali bersimpul pendek”, merujuk pada tali yang digunakan Yasoda untuk mengikat putranya yang lincah, Sri Krishna, Tuhan Sendiri. Tali ini melambangkan ikatan cintakasih yang tak terputuskan, yang mengulur mengikat Tuhan. Dengan tali cintanya inilah Nammalvar mengikat Tuhan erat-erat dalam hatinya. Sedangkan tali cinta Madhurakavi sendiri mengikat Nammalvar, pencinta Tuhan yang tiada bandingannya di hatinya. Baginya Nammalvar adalah segala-galanya, ayah, ibu, sahabat, guru, bahkan Tuhan junjungannya. Dia adalah pusat kehidupan Madhurakavi.

Dalam salah satu bait doanya Madhurakavi berkata, “navinal navirru inbam yeithinen, mevinnen, avan ponnadi meymmaiye, devumarrariyen kurugur nambi, pavin innisai padith thirivane, Lidahku dipenuhi madu pengucapan nama Kurugur Nambiku (Sang Pemimpin dari Thirukkurugur). Aku tidak mengenal tempat lain untuk menyerahkan diri, hanyalah kaki padmanya semata. Aku tidak memiliki junjungan lain selain dia yang kupuja. Aku akan menghabiskan hari-hariku dengan menyanyikan lagu-lagu yang dilantunkannya dengan begitu manis.”

Pengalaman rohani Madhurakavi yang melihat seorang hamba Tuhan sebagai segala-galanya, bahkan melebihi Tuhan Sendiri, mengingatkan akan hubungan antara adik termuda Sri Rama, Satrughna, saudara kembar Laksmana, dengan Bharata. Sementara Laksmana merupakan bayangan dari Tuhan Sri Rama dan pelayan terkasih-Nya, maka Satrughna mendapati dirinya sebagai hamba dari saudara kesayangan sekaligus wakil Sri Rama, yaitu Bharata. Hal ini juga memperlihatkan secara jelas konsep dari acharya-abhimanam, penghormatan dan pelayanan kepada Acharya. Dalam Sri Vaishnava konsep ini memegang peranan yang sangat penting, karena Acharyalah yang mewakili seluruh silsilah perguruan sebagai pengantara kita kepada Tuhan Yang Maha Esa Sriman Narayana. Jadi karena begitu sulitnya berhubungan dengan Tuhan secara langsung, karena kita tidak mampu menginsafi-Nya secara sempurna akibat ketidaksempurnaan kita, maka hanyalah melalui Acharya kita mampu mengembangkan hubungan cintakasih ini. Acharya merupakan pengejawantahan Kemurahan hati dan Belas kasih Tuhan, selalu siap menyediakan bimbingan, perhatian, dan penghiburan kepada kita. Sehingga dengan demikian menurut Veda, pelayanan kepada Acharya Gurudeva menjadi lebih penting daripada pelayanan kepada Tuhan Sendiri, dalam artian bahwa inilah yang merupakan satu-satunya jalan untuk dapat memasuki pelayanan yang sejati kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika Nammalvar meninggalkan dunia ini menuju Kerajaan Rohani Tuhan, Madhurakavi membangun kuil dan menstanakan Citra Suci untuk mengenang guru kerohaniannya. Dia juga merintis upacara-upacara harian, bulanan, dan tahunan untuk memuliakan Nammalvar dan karya-karyanya. Pada saat yang sama dia juga menyebarluaskan kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam Tamil Vedam. Pada masa itu, tak seorangpun dapat menjadi seorang pujangga tanpa melalui perdebatan dengan sidang tiga ratus Pandita sarjana kerajaan. Mereka menantang Madhurakavi membela gurunya di hadapan sidang. Akhirnya mereka semua dapat ditundukkan, sehingga Nammalvar termashyur sebagai seorang pribadi agung dan ajarannya tersebar luas ke mana-mana. Inilah pengabdian Sri Madhurakavi Alvar, Sang Pujangga Berlidah Semanis Madu, permata guru-bhakti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar